Minggu, 11 November 2012

PENYAKIT KANDUNGAN

PEMBAHASAN

PENYAKIT KANDUNGAN
1.    Radang genetalia eksterna
a.    Bartolinitis
b.    Vaginitis
c.    Vulvovaginitis

2.    Radang genetalia interna
a.    Cervixitis
b.    Endometritis
c.    Miometritis
d.    Parametritis
e.    Adnexitis
f.    Peritonitis

RADANG GENETALIA EKSTERNA
A.    BARTOLINITIS

1.    Pengertian
Bartolinitis adalah Infeksi pada kelenjar bartolin atau bartolinitis juga dapat menimbulkan pembengkakan pada alat kelamin luar wanita. Biasanya, pembengkakan disertai dengan rasa nyeri hebat bahkan sampai tak bisa berjalan. Juga dapat disertai demam, seiring pembengkakan pada kelamin yang memerah.


2.    Etiologi
Bartolinitis disebabkan oleh infeksi kuman pada kelenjar bartolin yang terletak di bagian dalam vagina agak keluar. Mulai dari chlamydia, gonorrhea, dan sebagainya. Infeksi ini kemudian menyumbat mulut kelenjar tempat diproduksinya cairan pelumas vagina.
Etiologi infeksi
a.    Infeksi alat kelamin wanita bagian bawah biasanya disebabkan oleh :
•    Virus : kondiloma akuminata dan herpes simpleks.
•    Jamur : kandida albikan.
•    Protozoa : amobiasis dan trikomoniasis.
•    Bakteri : neiseria gonore.
b.    Infeksi alat kelamin wanita bagian atas :
•    Virus : klamidia trakomatis dan parotitis epidemika.
•    Jamur : asinomises.
•    Bakteri : neiseria gonore, stafilokokus dan E.coli


3.    Patofisiologi
Lama kelamaan cairan memenuhi kantong kelenjar sehingga disebut sebagai kista (kantong berisi cairan). 'Kuman dalam vagina bisa menginfeksi salah satu kelenjar bartolin hingga tersumbat dan membengkak. Jika tak ada infeksi, tak akan menimbulkan keluhan

4.    Tanda dan Gejala
•    Pada vulva : perubahan warna kulit,membengkak, timbunan nanah dalam kelenjar, nyeri tekan.
•    Kelenjar bartolin membengkak,terasa nyeri sekali bila penderia berjalan atau duduk,juga dapat disertai demam
•    Kebanyakkan wanita dengan penderita ini datang ke PUSKESMAS dengan keluhan keputihan dan gatal, rasa sakit saat berhubungan dengan suami, rasa sakit saat buang air kecil, atau ada benjolan di sekitar alat kelamin.
•    Terdapat abses pada daerah kelamin
•    Pada pemeriksaan fisik ditemukan cairan mukoid berbau dan bercampur dengan darah.

5.    Pengobatan
Pengobatan yang cukup efektif saat ini adalah dengan: antibiotika golongan cefadroxyl 500 mg, diminum 3x1 sesudah makan, selama sedikitnya 5-7 hari, dan asam mefenamat 500 mg (misalnya: ponstelax, molasic, dll), diminum 3x1 untuk meredakan rasa nyeri dan pembengkakan, hingga kelenjar tersebut mengempis.



6.    Pemeriksaan Penunjang
a.    Laboratorium
b.    Vullva
c.    In speculo

7.    Pencegahan
Untuk menghadang radang, berbagai cara bisa dilakukan. Salah satunya adalah gaya hidup bersih dan sehat :
a.    Konsumsi makanan sehat dan bergizi. Usahakan agar Anda terhindar dari kegemukan yang menyebabkan paha bergesek. Kondisi ini dapat menimbulkan luka, sehingga keadaan kulit di sekitar selangkangan menjadi panas dan lembap. Kuman dapat hidup subur di daerah tersebut.
b.    Hindari mengenakan celana ketat, karena dapat memicu kelembapan. Pilih pakaian dalam dari bahan yang menyerap keringat agar daerah vital selalu kering.
c.    Periksakan diri ke dokter jika mengalami keputihan cukup lama. Tak perlu malu berkonsultasi dengan dokter kandungan sekalipun belum menikah. Karena keputihan dapat dialami semua perempuan.
d.    Berhati-hatilah saat menggunakan toilet umum. Siapa tahu, ada penderita radang yang menggunakannya sebelum Anda.
e.    Biasakan membersihkan diri, setelah buang air besar, dengan gerakan membasuh dari depan ke belakang.
f.    Biasakan membersihkan alat kelamin setelah berhubungan seksual.
g.    Jika tidak dibutuhkan, jangan menggunakan pantyliner. Perempuan seringkali salah kaprah. Mereka merasa nyaman jika pakaian dalamnya bersih. Padahal penggunaan pantyliner dapat meningkatkan Kelembapan kulit di sekitar vagina.
h.    Alat reproduksi memiliki sistem pembersihan diri untuk melawan kuman yang merugikan kesehatan. Produk pembersih dan pengharum vagina yang banyak diperdagangkan sebetulnya tidak diperlukan. Sebaliknya jika digunakan berlebihan bisa berbahaya.
i.    Hindari melakukan hubungan seksual berganti-ganti pasangan. Ingat, kuman juga bisa berasal dari pasangan Anda. Jika Anda berganti-ganti pasangan, tak gampang mendeteksi sumber penularan bakteri. Peradangan berhubungan erat dengan penyakit menular seksual dan pola seksual bebas.

8.    Diagnosa
a.    Defisit perawatan diri b.d keterbatasan gerak
b.    Kerusakkan integritas kulit b.d edem pada kulit
c.    Defisit pengetahuan b.d kurangnya pemahaman terhadap sumber sumber informasi nyeri b.d keadaan luka cemas
d.    Disfungsi seksual b.d proses penyakit

9.    Intervensi
a.    Membantu pasien untuk memenuhi higiene pribadi
b.    Memantau keadaan luka
c.    Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan diri (kebersihan alat genetal)
d.    Kaji tingkat nyeri
e.    Gunakan cara-cara interaktif yang berfokus pada kebutuhan untuk membuat penyesuaian dalam peraktik seksual atau untuk meningkatkan koping terhadap masalah/gangguan seksual.



B.    VAGINITIS
1.    Pengertian
Vaginitis adalah suatu peradangan pada lapisan vagina.
  

2.    Etiologi
Penyebabnya bisa berupa:
a.    Infeksi
•    Bakteri (misalnya klamidia, gonokokus)
•    Jamur (misalnya kandida), terutama pada penderita diabetes, wanita hamil dan pemakai antibiotik
•    Protozoa (misalnya Trichomonas vaginalis)
•    Virus (misalnya virus papiloma manusia dan virus herpes).
b.    Zat atau benda yang bersifat iritatif
•    Spermisida, pelumas, kondom, diafragma, penutup serviks dan spons
•    Sabun cuci dan pelembut pakaian
•    Deodoran
•    Zat di dalam air mandi
•    Pembilas vagina
•    Pakaian dalam yang terlalu ketat, tidak berpori-pori dan tidak menyerap keringat
•    Tinja
c.    Tumor ataupun jaringan abnormal lainnya
d.    Terapi penyinaran
e.    Obat-obatan
f.    Perubahan hormonal.

3.    Gejala
•    Gejala yang paling sering ditemukan adalah keluarnya cairan abnormal dari vagina.
•    Dikatakan abnormal jika jumlahnya sangat banyak, baunya menyengat atau disertai gatal-gatal dan nyeri.
•    Cairan yang abnormal sering tampak lebih kental dibandingkan cairan yang normal dan warnanya bermacam-macam. Misalnya bisa seperti keju, atau kuning kehijauan atau kemerahan.
•    Infeksi vagina karena bakteri cenderung mengeluarkan cairan berwarna putih, abu-abu atau keruh kekuningan dan berbau amis.
•    Setelah melakukan hubungan seksual atau mencuci vagina dengan sabun, bau cairannya semakin menyengat karena terjadi penurunan keasaman vagina sehingga bakteri semakin banyak yang tumbuh.

4.    Pengobatan
•    Jika cairan yang keluar dari vagina normal, kadang pembilasan dengan air bisa membantu mengurangi jumlah cairan.
•    Cairan vagina akibat vaginitis perlu diobati secara khusus sesuai dengan penyebabnya.
•    Jika penyebabnya adalah infeksi, diberikan antibiotik, anti-jamur atau anti-virus, tergantung kepada organisme penyebabnya.
•    Untuk mengendalikan gejalanya bisa dilakukan pembilasan vagina dengan campuran cuka dan air. Tetapi pembilasan ini tidak boleh dilakukan terlalu lama dan terlalu sering karena bisa meningkatkan resiko terjadinya peradangan panggul.
•    Jika akibat infeksi labia (lipatan kulit di sekitar vagina dan uretra) menjadi menempel satu sama lain, bisa dioleskan krim estrogen selama 7-10 hari.
•    Selain antibiotik, untuk infeksi bakteri juga diberikan jeli asam propionat agar cairan vagina lebih asam sehingga mengurangi pertumbuhan bakteri.
Pada infeksi menular seksual, untuk mencegah berulangnya infeksi, kedua pasangan seksual diobati pada saat yang sama.
•    Penipisan lapisan vagina pasca menopause diatasi dengan terapi sulih estrogen. Estrogen bisa diberikan dalam bentuk tablet, plester kulit maupun krim yang dioleskan langsung ke vulva dan vagina.
Jenis infeksi : Jamur
Pengobatan
•    Miconazole, clotrimazole, butoconazole atau terconazole (krim, tablet vagina atau supositoria)
•    Fluconazole atau ketoconazole (tablet)
Jenis infeksi : Bakteri
Pengobatan : Biasanya metronidazole atau clindamycin (tablet vagina) atau metronidazole (tablet).Jika penyebabnya gonokokus biasanya diberikan suntikan ceftriaxon & tablet doxicyclin
Jenis infeksi :Klamidia
Pengobatan :Doxicyclin atau azithromycin (tablet)
Jenis infeksi : Trikomonas
Pengobatan : Metronidazole (tablet)
Jenis infeksi :Virus papiloma manusia (kutil genitalis)
Pengobatan : Asam triklorasetat (dioleskan ke kutil), untuk infeksi yg berat digunakan larutan nitrogen atau fluorouracil (dioleskan ke kutil)
Jenis infeksi :Virus herpes
Pengobatan : Acyclovir (tablet atau salep)
Selain obat-obatan, penderita juga sebaiknya memakai pakaian dalam yang tidak terlalu ketat dan menyerap keringat sehingga sirkulasi udara tetap terjaga (misalnya terbuat dari katun) serta menjaga kebersihan vulva (sebaiknya gunakan sabun gliserin).  Untuk mengurangi nyeri dan gatal-gatal bisa dibantu dengan kompres dingin pada vulva atau berendam dalam air dingin. Untuk mengurangi gatal-gatal yang bukan disebabkan oleh infeksi bisa dioleskan krim atau salep corticosteroid dan antihistamin per-oral (tablet).  Krim atau tablet acyclovir diberikan untuk mengurangi gejala dan memperpendek lamanya infeksi herpes. Untuk mengurangi nyeri bisa diberikan obat pereda nyeri.





C.    VULVOVAGINITIS
1.    Pengertian
Vulvovaginitis adalah peradangan atau infeksi pada vulva dan vagina.
Vulvovaginal kandidiasis adalah nama yang sering diberikan untuk Candida albicans vagina infeksi berhubungan dengan dermatitis dari vulva (gatal ruam). 'Vaginal thrush', dan 'monilia' juga nama-nama untuk Candida albicans infeksi.
Candida albicans adalah jamur ragi biasanya bertanggung jawab atas vulva gatal dan pengosongan. Hal ini umumnya pelaku bahwa perempuan selalu merujuk pada setiap Vulvovaginal gatal sebagai "infeksi jamur," tapi perlu diketahui bahwa semua tidak selalu gatal disebabkan oleh ragi.
  

2.    Etiologi
Vulvovaginitis dapat mempengaruhi perempuan dari segala usia dan sangat umum. Hal ini dapat disebabkan oleh bakteri, ragi, virus, dan parasit lain. Beberapa penyakit menular seksual juga dapat menyebabkan vulvovaginitis, seperti yang bisa ditemukan berbagai bahan kimia gelembung mandi, sabun, dan parfum. Faktor-faktor lingkungan seperti kebersihan yang buruk dan alergen juga dapat menyebabkan kondisi ini.
Candida albicans, yang menyebabkan infeksi jamur, adalah salah satu penyebab paling umum vulvovaginitis perempuan dari segala usia. Penggunaan antibiotik dapat menyebabkan infeksi jamur dengan membunuh antijamur normal bakteri yang hidup di vagina. Infeksi jamur kelamin biasanya menyebabkan gatal-gatal dan tebal, putih discharg vagina, dan gejala lain. Untuk informasi lebih lanjut, lihat: ragi infeksi vagina
Penyebab lain adalah vulvovaginitis bakteri vaginosis, suatu pertumbuhan berlebih dari jenis bakteri tertentu dalam vagina. Bakteri vaginosis dapat menyebabkan tipis, warna abu-abu vagina dan bau amis.
Sebuah penyakit menular seksual yang disebut Trichomonas vaginitis infeksi adalah penyebab umum lain. Infeksi ini mengarah ke kelamin gatal, bau vagina, dan vagina yang berat, yang mungkin kuning-abu atau warna hijau.
Gelembung mandi, sabun, vagina kontrasepsi, feminin semprotan, dan parfum dapat menyebabkan iritasi ruam gatal di daerah genital, sedangkan nonabsorbent ketat atau pakaian kadang-kadang menyebabkan ruam panas.
Jengkel jaringan lebih rentan terhadap infeksi daripada jaringan normal, dan banyak organisme penyebab infeksi berkembang dalam lingkungan yang hangat, lembab, dan gelap. Tidak hanya faktor-faktor ini dapat berkontribusi pada penyebab vulvovaginitis, mereka sering memperpanjang periode pemulihan.
Kurangnya estrogen pada wanita postmenopause dapat menyebabkan kekeringan vagina dan penipisan kulit vagina dan vulva, yang juga dapat menyebabkan atau memperburuk kelamin gatal dan terbakar.
Nonspesifik vulvovaginitis (di mana penyebab dapat diidentifikasi) dapat dilihat dalam semua kelompok usia, tetapi paling sering terjadi pada anak gadis sebelum pubertas. Setelah pubertas dimulai, vagina menjadi lebih asam, yang cenderung untuk membantu mencegah infeksi.
Vulvovaginitis nonspesifik dapat terjadi pada anak perempuan dengan genital miskin kebersihan dan ditandai oleh berbau busuk, coklat-hijau pelepasan dan iritasi labia dan vagina. Kondisi ini sering dikaitkan dengan pertumbuhan berlebih dari suatu jenis bakteri yang biasanya ditemukan di dalam tinja. Bakteri ini kadang-kadang menyebar dari anus ke area vagina dengan mengusap dari belakang ke depan setelah menggunakan kamar mandi.
Pelecehan seksual harus dipertimbangkan pada anak-anak dengan infeksi yang tidak biasa dan berulang episode dijelaskan vulvovaginitis. Neisseria gonorrhoeae, organisme yang menyebabkan gonore, menghasilkan gonokokal vulvovaginitis di gadis-gadis muda. Gonocorrhea vaginitis terkait dianggap sebagai penyakit menular seksual. Jika tes laboratorium mengkonfirmasi diagnosis ini, gadis-gadis muda harus dievaluasi untuk pelecehan seksual.
Sekitar 20% dari non-hamil wanita usia 15-55 pelabuhan Candida albicans dalam vagina. Sebagian besar tidak mempunyai gejala dan itu berbahaya bagi mereka. Pertumbuhan yang berlebihan dari Candida albicans menyebabkan berat dadih putih seperti vagina, rasa panas di vagina dan vulva dan / atau ruam gatal di vulva dan kulit di sekitarnya.
Estrogen menyebabkan lapisan vagina untuk dewasa dan mengandung glikogen, sebuah substrat yang Candida albicans berkembang. Kurangnya estrogen pada wanita yang lebih muda dan lebih tua membuat kandidiasis Vulvovaginal jarang terjadi.
Pertumbuhan yang berlebihan dari Candida albicans terjadi paling sering dengan:
•    Kehamilan
•    Dosis tinggi pil KB kombinasi dan estrogen berbasis terapi penggantian hormon
•    Sebuah rangkaian antibiotik spektrum luas seperti tetracycline atau amoxiclav
•    Diabetes mellitus
•    Anemia kekurangan zat besi
•    Defisiensi imunologis misalnya, infeksi HIV
•    Di atas kondisi kulit yang lain, sering psorias , Planus lumut atau lumut sclerosus.
•    Penyakit lain

3.    Patofisiologi
Proses infeksi dimulai dengan perlekatan Candida sp. pada sel epitel vagina. Kemampuan melekat ini lebih baik pada C.albicans daripada spesies Candida lainnya. Kemudian, Candida sp. mensekresikan enzim proteolitik yang mengakibatkan kerusakan ikatan-ikatan protein sel pejamu sehingga memudahkan proses invasi. Selain itu, Candida sp. juga mengeluarkan mikotoksin diantaranya gliotoksin yang mampu menghambat aktivitas fagositosis dan menekan sistem imun lokal. Terbentuknya kolonisasi Candida sp. memudahkan proses invasi tersebut berlangsung sehingga menimbulkan gejala pada pejamu.

4.    Tanda dan Gejala
Vulvovaginal gejala kandidiasis, yaitu, suatu pertumbuhan berlebih dari Candida albicans, meliputi:
•    Gatal, nyeri dan / atau pembakaran ketidaknyamanan pada vagina dan vulva
•    Berat dadih putih seperti vagina
•    Ruam merah terang yang mempengaruhi bagian dalam dan luar dari vulva, kadang-kadang menyebar luas di pangkal paha untuk memasukkan daerah kemaluan, daerah inguinal dan paha.
Ini bisa berlangsung hanya beberapa jam atau bertahan selama berhari-hari, berminggu-minggu, atau jarang, bulan.  Gejala mungkin kadang-kadang diperparah oleh hubungan seksual.

5.    Komplikasi
•    Ketidaknyamanan yang tidak hilang
•    Infeksi kulit (dari garukan)
•    Komplikasi karena penyebab kondisi (seperti gonore dan infeksi kandida)

6.    Pencehagahan
Untuk mencegah infeksi jamur, mengenakan pakaian katun agar udara dapat bersirkulasi. Walaupun sejumlah obat untuk mengobati infeksi jamur baru-baru ini akan tersedia over-the-counter, berhati-hati dalam membuat diagnosis diri terburu-buru.
Penggunaan kondom selama hubungan seksual bisa mencegah sebagian besar infeksi menular seksual vagina. Tepat pas dan memadai penyerap pakaian, dikombinasikan dengan baik kebersihan daerah genital juga mencegah banyak kasus infeksi non-vulvovaginitis.
Anak-anak harus diajarkan bagaimana cara benar membersihkan daerah genital saat memandikan atau mandi. Tepat menyeka setelah menggunakan toilet juga akan membantu (anak harus selalu menyeka dari depan ke belakang untuk menghindari memperkenalkan bakteri dari anus ke vagina). Tangan harus dicuci bersih sebelum dan setelah menggunakan kamar mandi.

7.    Perawatan
Kadang-kadang Candida albicans infeksi tetap ada meski terapi konvensional yang memadai. Pada beberapa wanita hal ini mungkin merupakan tanda kekurangan zat besi , diabetes melitus atau masalah imun, dan tes yang sesuai harus dilakukan. Perempuan yang mengalami berulang Vulvovaginal Candida albicans melakukannya karena infeksi persisten, daripada infeksi ulang. Tujuan dari perawatan dalam situasi ini adalah untuk menghindari pertumbuhan berlebih dari kandida yang mengarah ke gejala, daripada harus mampu mencapai pemberantasan menyelesaikan atau menyembuhkan.
Ada beberapa bukti bahwa langkah-langkah berikut dapat membantu:
a.    Kapas atau uap air-wicking pakaian dalam dan pakaian longgar - menghindari stoking nilon.
b.    Perendaman dalam garam mandi. Hindari sabun - menggunakan pembersih non-sabun atau krim untuk mencuci berair.
c.    Terapkan hidrokortison krim untuk mengurangi gatal dan mengobati sekunder dermatitis mempengaruhi vulva.
d.    Perlakukan dengan krim antijamur sebelum setiap periode menstruasi dan sebelum terapi antibiotik untuk mencegah kambuh.
e.    Sebuah perjalanan panjang sebuah antijamur topikal agen kadang-kadang diperlukan (tapi hal ini mungkin sendiri menyebabkan dermatitis atau hasil dalam non-proliferasi candida albicans).
f.    Antijamur oral obat-obatan (itrakonazol atau flukonazol) dapat diambil secara teratur dan sebentar-sebentar (misalnya sekali sebulan). Dosis dan frekuensi yang cukup bervariasi, tergantung pada keparahan gejala. Oral agen antijamur mungkin tidak sesuai pada kehamilan. Mereka membutuhkan resep.
g.    Asam borat (boraks) 600mg sebagai supositoria pada malam hari dapat membantu untuk mengasamkan vagina dan mengurangi kehadiran khamir (albicans dan non-candida albicans).

Langkah-langkah berikut belum ditunjukkan untuk membantu.
a.    Perawatan pasangan seksual - laki-laki mungkin mendapatkan singkat reaksi kulit pada penis, yang membersihkan cepat dengan krim antijamur. Memperlakukan laki-laki tidak mengurangi jumlah episode kandidiasis pada pasangan wanita mereka.
b.    Khusus gula rendah, rendah ragi atau yoghurt tinggi diet
c.    Menempatkan yoghurt dalam vagina
d.    Obat alami (dengan pengecualian asam borat)

8.    Diagnosa
a.    Perubahan kenyamanan b/d infeksi pada system reproduksi
b.    Disfungsi seksual b/d perubahan kesehatan seksual
c.    Kurang pengetahuan b/d kurangnya informasi mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan
d.    Kurang pengetahuan b/d kurangnya informasi mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan

9.    Intervensi
a.    Perubahan kenyamanan b/d infeksi pada system reproduksi
Kriteria hasil:
Memperhatikan bahwa nyeri ini ada mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan dan menurunkan nyeri dapat mengidentifikasi dan menurunan sumber-sumber nyeri
Intervensi:
•    Berikan pengurang rasa nyeri yang optimal
•    Meluruskan kesalahan konsep pada keluarga
•    Bicarakan mengenai ketakutan, marah dan rasa frustasi klien
•    Berikan privasi selama prosedur tindakan
b.    Disfungsi seksual b/d perubahan kesehatan seksual\
Kriteria hasil:
Menceritakan masalah mengenai fungsi seksual, mengekspresikan peningkatan kepuasan dengan pola seksual. Melaporkan keinginan untuk melanjutkan aktivitas seksual
Intervensi:
•    Kaji riwayat seksual mengenai pola seksual, kepuasan, pengetahuan seksual, masalah seksual
•    Identifikasi masalah penghambat untuk memuaskan seksual
•    Berikan dorongan bertanya tentang seksual atau fungsi seksual
c.    Resiko terhadap infeksi b/d kontak dengan mikroorganisme
Kriteria hasil:
Klien mampu memperlihatkan teknik cuci tangan yang benar, bebas dari proses infeksi nasokomial selama perawatan dan memperlihatkan pengetahuan tentang fakor resiko yang berkaitan dengan infeksi dan melakukan pencegahan yang tepat.
Intervensi:
•    Teknik antiseptik untuk membersihan alat genetalia
•    Amati terhadap manefestasi kliniks infeksi
•    Infomasikan kepada klien dan keluarga mengenai penyebab, resiko-resiko pada kekuatan penularan dari infeksi
•    Terafi antimikroba sesuai order dokter
d.    Kurang pengetahuan b/d kurangnya informasi mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan
Kriteria hasil:
Menunjukan pemahaman akan proses penyakit dan prognosis, mampu menunjukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan rasional dari tindakan dan pasien ikut serta dalam program pengobatan
Intervensi:
•    Tinjau proses penyakit dan harapan masa depan
•    Berikan informasi mengenai terafi obat-obatan, interaksi, efek samping dan pentingnya pada program
•    Tinjau factor-faktor resiko individual dan bentuk penularan/tempat masuk infeksi
•    Tinjau perlunya pribadi dan kebersihan lingkungan.
•    Klien mengerti mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan























RADANG GENETALIA INTERNA
A.    Cervicitis
1.    Pengertian
Cervicitis adalah istilah untuk adanya proses peradangan pada cervix uteri, yaitu leher rahim. Cervicitis ( endo cervicitis ) ialah radang pada selaput lendir canalis cervikalis. Karena epitel selaput lendir cervicalis hanya terdiri dari satu lapisan sel silindris maka mudah terkena infeksi dibandingkan dengan selaput lendir vagina. (gynekologi . FK UNPAD, 1998)
Walaupun begitu canalis cervicalis terlindung dari infeksi oleh adanya lendir yang kental yang merupakan barier terhadap kuman-kuman yang ada didalam vagina. Terjadinya cervicitis dipermudah oleh adanya robekan serviks, terutama yang menimbulkan ectropion.



2.    Etiologi
Cervicitis disebabkan oleh kuman-kuman seperti : trikomonas vaginalis, kandida dan mikoplasma atau mikroorganisme aerob dan anaerob endogen vagina seperti streptococcus, enterococus, e.coli, dan stapilococus . kuman-kuman ini menyebabkan deskuamasi pada epitel gepeng dan perubahan inflamasi kromik dalam jaringan serviks yang mengalami trauma.
Dapat juga disebabkan oleh robekan serviks terutama yang menyebabkan ectropion, alat-alat atau alat kontrasepsi, tindakan intrauterine seprti dilatasi, dan lain-lain.

3.    Patofisiologis
Cerviks uteri adalah penghalang penting bagi masuknya kuman-kuman kedalam genetalia interna. Dalam hubungan ini pada seorang mulipara dalam keadaan normal canalis servicalis bebas kuman pada seorang multipara dengan ostium uteri eksternum sudah lebih terbuka, batas ke atas dari daerah bebas kuman ialah ostium uteri internum. Radang pada services uteri bisa terdapat pada portio uteri eksternum dan pada endoservics uteri.

4.    Gejala klinis
•    Fluor hebat biasanya kental atau purulen dan kadang-kadang berbau.
•    Sering menimbulkan erosio (erythropaki) pada portio, yang nampak sebagai daerah yang merah menyala.
•    Pada pemeriksaan in speculo kadang-kadang dapat dilihat fluor yang purulen keluar dari canalis cervicalis. Kalau portio normal, tidak ada ectropion, maka harus diingat kemungkinan gonorrhoe.
•    Sekunder dapat terjadi kolpitis dan vulvitis.
•    Pada cervicitis yang kronis kadang-kadang dapat dilihat bintik putih dalam daerah selaput lendir yang merah, karena infeksi. Bintik-bintik ini disebut ovula Nabothii dan disebabkan olehretensi kelenjar-kelenjar serviks, kerena saluran keluarnya tertutup oleh pengisutan dari luka serviks atau karena radang.
5.    Klasifikasi Cervicitis
Cervicitis dibedakan menjadi 2, yaitu :
a.    Cervicitis Akut
Cervicities akut ialah infeksi yang diawali di endocerviks dan ditemukan pada gonorrhoe, dan pada infeksi post-abortum atau post-partum yang disebabkan oleh Streptoccocus, Stafilococcus, dan lain-lain. Dalam hal ini, serviks memerah dan bengkak dengan mengeluarkan cairan mukopurulent. Akan tetapi, gejala-gejala pada serviks biasanya tidak seberapa tampak di tengah gejala-gejala lain dari infeksi yang bersangkutan.
Pengobatan dilakukan dalam rangka pengobatan infeksi tersebut. Penyakitnya dapat sembuh tanpa bekas atau menjadi cervicitis kronis.
Cervicitis akut sering terjadi dan dicirikan dengan eritema, pembengkakan, sebukan neutrofil, dan ulserasi epitel fokal. Endocerviks lebih sering terserang dibandingkan ektocerviks.
Cervicitis akut biasanya merupakan infeksi yang ditularkan secara seksual, umumnya oleh Gonoccocus, Chlamydia trachomatis, Candida albicans, Trichomonas vaginalis, dan Herpes simpleks. Agen yang ditularkan secara non-seksual, seperti E. Coli dan Stafilococcus dapat pula diisolasi dari cerviks yang meradang akut, tetapi perannya tidak jelas. Cervicitis akut juga terjadi setelah melahirkan dan pembedahan. Secara klinis, terdapat secret vagina purulen dan rasa nyeri. Beratnya gejala tidak terkait erat dengan derajat peradangan.

b.      Cervicitis Kronis


Patologis Cervicitis Kronis
Penyakit ini dijumpai pada sebagian besar wanita yang pernah melahirkan dengan luka-luka kecil atau besra pada cerviks karena partus atau abortus memudahkan masuknya kuman-kuman kedalam endocerviks dan kelenjar-kelenjarnya, lalu menyebabkan infeksi menahun.
Beberapa gambaran patologis dapat ditemukan :
a.    Cerviks kelihatan normal, hanya pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan infiltrasi endokopik dalam stroma endocerviks. Cervicitis ini tidak menimbulkan gejala, kecuali pengeluaran sekret yang agak putih kekuningan.
b.     Disini pada portio uteri sekitar ostium uteri eksternum tampak daerah kemerah-merahan yang tidak terpisah secara jelas dan epitel portio disekitarnya, sekret dikeluarkan terdiri atas mukus bercampur nanah.
c.      Sobekan pada cerviks uteri disini lebih luas dan mucosa endocerviks lebih kelihatan dari luar (eksotropion). Mukosa dalam keadaan demikian itu mudah kena infeksi dari vagina, karena radang menahun, cerviks bisa menjadi hipertropis dan mengeras : sekret bertambah banyak.
Penyebab Cervicitis Kronis
•    Gonorhoe, sediaan harus dari flour cerviks, terutama yang purulen.
•    Sekunder terhadap kolpitis.
•    Tindakan intrauteri dilatasi dll.
•    Alat-alat atau obat kontrasepsi.
•    Robekan cerviks terutama yang menyebabkan extropin.
Gejala Cervicitis Kronis
•    Flour hebat biasanya kental atau purulen dan kadang-kadang berbau.
•    Sering menimbulkan erosi pada potio yang tampak sebagian daerah yang merah menyala.
•    Pada pemeriksaan inspekulo kadang-kadang dapat dilihat flour yang purulen keluar dari kanalis cervicalis. Kalau portio normal, tidak ada ektripion maka harus diingat gonorhoe.
•    Sekunder dapat terjadi kolpitis dan vulvitis.
•    Pada cervicitis yang kronis kadang-kadang dapat dilihal bintik-bintik ini disebut ovula nabothii dan disebabkan oleh retensi kelenjar-kelenjar cerviks karena saluran keluarnya tertutup oleh pengisutan dari luka cerviks atau karena radang.
Terapi
•    Antibiotika terurama kalau dapat ditemukan gonococus dalam sekret.
•    Kalau cerviks tidak spesifik didapat diobati dalam argentetas netrta 10% atau Albotyl yang menyebabkan dengan epitel slindris dengan harapan bahwa kemudian diganti dan epitel gepeng berlapis banyak.
•    Kauterisasi-radial dengan termokauter, atau dengan krioterapi. Sesudah kauterisasi terjadi nekrosis, jaringan yang meradang terlepas dalam kira-kira 2 minggu dan diganti lambatlaun oleh jaringan yang sehat. Jika radang menahun mencapai endocerviks jauh kedalam kanalis crevikalis, perlu dilakukan konisasi dengan mengangkat sebagian besar mukosa endocerviks. Jika sobekan dan infeksi sangat luas, perlu dilakukan amputasi cerviks.

6.    Penatalaksanaan
a.    Antibiotika terutama kalau dapat diketemukan gonococcus dalam secret.
b.    Kalau servicitis tidak spesifik dapat diobati dengan rendaman dalam AgNO3 10% dan irigasi.
c.    Servicitis yang tak mau sembuh ditolong operatif dengan melakukan konisasi. Kalau sebabnya ectropion dapat dilakukan plastic atau amputasi
d.    Erosio dapat disembuhkan dengan obat keras seperti AgNO3 10 % atau albothyl yang menyebabkan nekrose epitel silindris dengan harapan bahwa kemudian diganti dengan epitel gepeng berlapis banyak.








B.    ENDOMETRITIS
1.    Pengertian
Endometritis adalah suatu peradangan endometrium yang biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri pada jaringan. (Taber, B., 1994).
 Endometritis adalah infeksi pada endometrium (lapisan dalam dari rahim). (Manuaba, I. B. G., 1998).
Endometritis adalah suatu infeksi yag terjadi di endometrium, merupakan komplikasi pascapartum, biasanya terjadi 48 sampai 72 jam setelah melahirkan.

2.    Etiologi
Endometritis sering ditemukan pada wanita setelah seksio sesarea terutama bila sebelumnya ada riwayat koriomnionitis, partus lama, pecah ketuban yang lama. Penyebab lainnya dari endometritis adalah adanya tanda jaringan plasenta yang tertahan setelah abortus dan melahirkan. (Taber, B. 1994).
Menurut Varney, H. (2001), hal-hal yang dapat menyebabkan infeksi pada wanita adalah:
•    Waktu persalinan lama, terutama disertai pecahnya ketuban.
•    Pecahnya ketuban berlangsung lama.
•    Adanya pemeriksaan vagina selama persalinan dan disertai pecahnya ketuban.
•    Teknik aseptik tidak dipatuhi.
•    Manipulasi intrauterus (pengangkatan plasenta secara manual).
•    Trauma jaringan yang luas/luka terbuka.
•    Kelahiran secara bedah.
•    Retensi fragmen plasenta/membran amnion.
3.    Klasifikasi
Menurut Wiknjosastro (2002).
a.    Endometritis akuta
Terutama terjadi pada masa post partum / post abortum. Pada endometritis post partum regenerasi endometrium selesai pada hari ke-9, sehingga endometritis post partum pada umumnya terjadi sebelum hari ke-9. Endometritis post abortum terutama terjadi pada abortus provokatus. Pada endometritis akuta, endometrium mengalami edema dan hiperemi, dan pada pemeriksaan mikroskopik terdapat hiperemi, edema dan infiltrasi leukosit berinti polimorf yang banyak, serta perdarahan-perdarahan interstisial. Sebab yang paling penting ialah infeksi gonorea dan infeksi pada abortus dan partus.Infeksi gonorea mulai sebagai servisitis akut, dan radang menjalar ke atas dan menyebabkan endometritis akut. Infeksi gonorea akan dibahas secara khusus. Pada abortus septik dan sepsis puerperalis infeksi cepat meluas ke miometrium dan melalui pembuluh-pembuluh darah limfe dapat menjalar ke parametrium, ketuban dan ovarium, dan ke peritoneum sekitarnya. Gejala-gejala endometritis akut dalam hal ini diselubungi oleh gejala-gejala penyakit dalam keseluruhannya. Penderita panas tinggi, kelihatan sakit keras, keluar leukorea yang bernanah, dan uterus serta daerah sekitarnya nyeri pada perabaan. Sebab lain endometritis akut ialah tindakan yang dilakukan dalam uterus di luar partus atau abortus, seperti kerokan, memasukan radium ke dalam uterus, memasukan IUD (intra uterine device) ke dalam uterus, dan sebagainya. Tergantung dari virulensi kuman yang dimasukkan dalam uterus, apakah endometritis akut tetap berbatas pada endometrium, atau menjalar ke jaringan di sekitarnya.Endometritis akut yang disebabkan oleh kuman-kuman yang tidak seberapa patogen pada umumnya dapat diatasi atas kekuatan jaringan sendiri, dibantu dengan pelepasan lapisan fungsional dari endometrium pada waktu haid. Dalam pengobatan endometritis akuta yang paling penting adalah berusaha mencegah, agar infeksi tidak menjalar.


Gejalanya :
•    Demam
•    Lochea berbau : pada endometritis post abortum kadang-kadang keluar flour yang purulent.
•    Lochea lama berdarah malahan terjadi metrorrhagi.
•    Kalau radang tidak menjalar ke parametrium atau parametrium tidak nyeri.
Terapi :
•    Uterotonika.
•    Istirahat, letak fowler.
•    Antibiotika.
•    Endometritis senilis perlu dikuret untuk menyampingkan corpus carsinoma. Dapat diberi estrogen.
b.    Endometritis kronika
Endometritis kronika tidak seberapa sering terdapat, oleh karena itu infeksi yang tidak dalam masuknya pada miometrium, tidak dapat mempertahankan diri, karena pelepasan lapisan fungsional darn endometrium pada waktu haid. Pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan banyak sel-sel plasma dan limfosit. Penemuan limfosit saja tidak besar artinya karena sel itu juga ditemukan dalam keadaan normal dalam endometrium.
Gejala-gejala klinis endometritis kronika adalah leukorea dan menorargia. Pengobatan tergantung dari penyebabnya.
Endometritis kronis ditemukan:
•    Pada tuberkulosis.
•    Jika tertinggal sisa-sisa abortus atau partus.
•    Jika terdapat korpus alineum di kavum uteri.
•    Pada polip uterus dengan infeksi.
•    Pada tumor ganas uterus.
•    Pada salpingo – oofaritis dan selulitis pelvik.
Endometritis tuberkulosa terdapat pada hampir setengah kasus-kasus TB genital. Pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan tuberkel pada tengah-tengah endometrium yang meradang menahun.
Pada abortus inkomplitus dengan sisa-sisa tertinggal dalam uterus terdapat desidua dan vili korealis di tengah-tengah radang menahun endometrium. Pada partus dengan sisa plasenta masih tertinggal dalam uterus, terdapat peradangan dan organisasi dari jaringan tersebut disertai gumpalan darah, dan terbentuklah apa yang dinamakan polip plasenta. Endometritis kronika yang lain umumnya akibat ineksi terus-menerus karena adanya benda asing atau polip/tumor dengan infeksi di dalam kavum uteri.
Gejalanya :
•    Flour albus yang keluar dari ostium.
•    Kelainan haid seperti metrorrhagi dan menorrhagi.
Terapi : Perlu dilakukan kuretase.
4.    Gambaran Klinis
Gambaran klinis dari endometritis tergantung pada jenis dan virulensi kuman, daya tahan penderita dan derajat trauma pada jalan lahir. Kadang-kadang lokhea tertahan oleh darah, sisa-sisa plasenta dan selaput ketuban. Keadaan ini dinamakan lokiometra dan dapat menyebabkan kenaikan suhu yang segera hilang setelah rintangan dibatasi. Uterus pada endometrium agak membesar, serta nyeri pada perabaan, dan lembek. Pada endometritis yang tidak meluas penderita pada hari-hari pertama merasa kurang sehat dan perut nyeri, mulai hari ke 3 suhu meningkat, nadi menjadi cepat, akan tetapi dalam beberapa hari suhu dan nadi menurun, dan dalam kurang lebih satu minggu keadaan sudah normal kembali, lokhea pada endometritis, biasanya bertambah dan kadang-kadang berbau. Hal yang terakhir ini tidak boleh menimbulkan anggapan bahwa infeksinya berat. Malahan infeksi berat kadang-kadang disertai oleh lokhea yang sedikit dan tidak berbau.
Gambaran klinik dari endometritis:
•    Nyeri abdomen bagian bawah.
•    Mengeluarkan keputihan (leukorea).
•    Kadang terjadi pendarahan.
•    Dapat terjadi penyebaran.
    Miometritis (pada otot rahim).
    Parametritis (sekitar rahim).
    Salpingitis (saluran otot).
    Ooforitis (indung telur).
    Pembentukan penahanan sehingga terjadi abses. (Manuaba, I. B. G., 1998)
Menurut Varney, H (2001), tanda dan gejala endometritis meliputi:
•    Takikardi 100-140 bpm.
•    Suhu 30 – 40 derajat celcius.
•    Menggigil.
•    Nyeri tekan uterus yang meluas secara lateral.
•    Peningkatan nyeri setelah melahirkan.
•    Sub involusi.
•    Distensi abdomen.
•    Lokea sedikit dan tidak berbau/banyak, berbau busuk, mengandung darah seropurulen.
•    Awitan 3-5 hari pasca partum, kecuali jika disertai infeksi streptococcus.
•    Jumlah sel darah putih meningkat.
5.    Patofisiologi
Kuman-kuman masuk endometrium, biasanya pada luka bekas insersio plasenta, dan waktu singkat mengikut sertakan seluruh endometrium. Pada infeksi dengan kuman yang tidak seberapa patogen, radang terbatas pada endometrium. Jaringan desidua bersama-sama dengan bekuan darah menjadi nekrosis serta cairan. Pada batas antara daerah yang meradang dan daerah sehat terdapat lapisan terdiri atas lekosit-lekosit. Pada infeksi yang lebih berat batas endometrium dapat dilampaui dan terjadilah penjalaran.
6.    Komplikasi
•    Wound infection
•    Peritonitis
•    Adnexal infection.
•    Parametrial phlegmon
•    Abses pelvis
•    Septic pelvic thrombophlebitis.
7.    Penatalaksanaan
•    Antibiotika ditambah drainase yang memadai merupakan pojok sasaran terpi. Evaluasi klinis daan organisme yang terlihat pada pewarnaan gram, seperti juga pengetahuan bakteri yang diisolasi dari infeksi serupa sebelumnya, memberikan petunjuk untuk terapi antibiotik.
•    Cairan intravena dan elektrolit merupakan terapi pengganti untuk dehidrasi ditambah terapi pemeliharaan untuk pasien-pasien yang tidak mampu mentoleransi makanan lewat mulut. Secepat mungkin pasien diberikan diit per oral untuk memberikan nutrisi yang memadai.
•    Pengganti darah dapat diindikasikan untuk anemia berat dengan post abortus atau post partum.
•    Tirah baring dan analgesia merupakan terapi pendukung yang banyak manfaatnya.
•    Tindakan bedah: endometritis post partum sering disertai dengan jaringan plasenta yang tertahan atau obstruksi serviks. Drainase lokia yang memadai sangat penting. Jaringan plasenta yang tertinggal dikeluarkan dengan kuretase perlahan-lahan dan hati-hati. Histerektomi dan salpingo – oofaringektomi bilateral mungkin ditemukan bila klostridia telah meluas melampaui endometrium dan ditemukan bukti adanya sepsis sistemik klostridia (syok, hemolisis, gagal ginjal).
8.    Diagnosa Keperawatan
a.    Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasive.
b.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan yang tidak adekuat.
c.    Nyeri akut berhubungan dengan respon tubuh dan sifat infeksi.
d.    Resiko tinggi terhadap perubahan menjadi orang tua berhubungan dengan interupsi pada proses pertalian, penyakit fisik, ancaman yang dirasakan pada kehidupan sendiri.
9.    Intervensi
a.    Diagnosa Keperawatan I:
Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasive.
Intervensi:
•    Tinjau ulang catatan prenatal, intrapartum dan pascapartum.
•    Pertahankan kebijakan mencuci tangan dengan ketat untuk staf, klien dan pengunjung.
•    Berikan dan instruksikan klien dalam hal pembuangan linen terkontaminasi.
•    Demonstrasikan massase fundus yang tepat.
•    Pantau suhu, nadi, pernapasan.
•    Observasi/catat tanda infeksi lain.
•    Pantau masukan oral/parenteral.
b.    Diagnosa Keperawatan II:
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan yang tidak adekuat.
Intervensi:
•    Anjurkan pilihan makanan tinggi protein, zat besi dan vitamin C bila masukan oral dibatasi.
•    Tingkatkan masukan sedikitnya 2000 ml/hari jus, sup dan cairan nutrisi lain.
•    Anjurkan tidur/istirahat adekuat.
•    Kolaborasi dengan medis.
    Berikan cairan/nutrisi parenteral, sesuai indikasi.
    Berikan parenteral zat besi dan atau vitamin sesuai indikasi.
    Bantu penempatan selang nasogastrik dan Miller Abbot.
c.    Diagnosa Keperawatan III:
Nyeri akut berhubungan dengan respon tubuh dan sifat infeksi.
Intervensi:
•    Kaji lokasi dan sifat ketidakmampuan/nyeri.
•    Berikan instruksi mengenai membantu mempertahankan kebersihan dan kehangatan.
•    Instruksikan klien dalam melakukan teknik relaksasi.
•    Anjurkan kesinambungan menyusui saat kondisi klien memungkinkan.
•    Kolaborasi dengan medis
•    Berikan analgesik/antibiotik.
•    Berkan kompres panas lokal dengan menggunakan lampu pemanas/rendam duduk sesuai indikasi.
d.    Diagnosa Keperawatan IV:
Resiko tinggi terhadap perubahan menjadi orang tua berhubungan dengan interupsi pada proses pertalian, penyakit fisik, ancaman yang dirasakan pada kehidupan sendiri.
Intervensi:
•    Berikan kesempatan untuk kontak ibu bayi kapan saja memungkinkan.
•    Pantau respon emosi klien terhadap penyakit dan pemisahan dari bayi, seperti depresi dan marah.
•    Anjurkan klien untuk menyusui bayi.
•    Observasi interaksi bayi-ibu.
•    Anjurkan ayah/anggota keluarga lain untuk merawat dan berinteraksi dengan bayi.
C.    MIOMETRITIS
1.    Pengertian
Metritis adalah radang miometrium. Metritis adalah infeksi uterus setelah persalinan yang merupakan salah satu penyebab terbesar kematian ibu. Penyakit ini tidak berdiri sendiri tetapi merupakan lanjutan dari endometritis, sehingga gejala dan terapinya seperti endometritis.


2.    Klasifikasi
a.    Metritis akuta
Metritis Akuta biasanya terdapat pada abortus septic atau infeksi postpartum. Penyakit ini tidak berdiri sendiri, akan tetapi merupakan bagian dari infeksi yang lebih luas. Kerokan pada wanita dengan endometrium yang meradang (endometritis) dapat menimbulkan metritis akut. Pada penyakit ini miometrium menunjukkan reaksi radang berupa pembengkakan dan infiltrasi sel-sel radang. Perluasan dapat terjadi lewat jalan limfe atau lewat trombofeblitis dan kadang-kadang dapat terjadi abses.
b.    Metritis Kronik
Metritis kronik adalah diagnosis yang dahulu banyak dibuat atas dasar menometroragia dengan uterus lebih besar dari biasa, sakit pinggang dan leukorea. Akan tetapi pembesaran uterus pada seorang multipara umumnya disebabkan oleh pertambahan jaringan ikat akibat kelamin. Bila pengobatan terlambat atau kurang adekuat dapat menjadi :
•    Abses pelvik
•    Peritonitis
•    Syok septic
•    Dispareunia
•    Trombosis vena yang dalam
•    Emboli pulmonal
•    Infeksi pelvik yang menahun
•    Penyumbatan tuba dan infertilitas

3.    Etiologi
Factor Presdiposisi
•    Infeksi abortus dan partus
•    Penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim
•    Infeksi post curettage.

4.    Gejala-gejala
Gejala metristis dan pengobatannya sama dengan gejala dan penanganan endometritis yaitu :
•    Demam
•    Keluar lochea berbau / purulent, keputihan yang berbau
•    Sakit pinggang
•    Nyeri abdomen
Diagnosa dan Terapi Diagnosa hanya dapat dibuat secara patolog anatomis.
5.    Komplikasi
Dapat terjadi penyebaran ke jaringan sekitarnya seperti:
•    Parametritis (infeksi sekitar rahim)
•    Salpingitis (infeksi saluran otot)
•    Ooforitis (infeksi indung telur)
•    Pembentukan pernanahan sehingga terjadi abses pada tuba atau indung telur.
6.    Penatalaksanaan
Terapi miometritis :
a.    Antibiotika spektrum luas
•    Ampisilin 2 g iv / 6 jam
•    Gentamisin 5 mg kgbb
•    Metronidasol 500 mg iv / 8 jam
b.    Profilaksi antitetanus
c.    Evakuasi sisa hasil konsepsi
Manajemen
•    Antibiotik kombinasi
•    Transfusi jika diperlukan


D.    PARAMETRITIS
1.    Pengertian
Radang Parametritis adalah infeksi pada parametrium. Parametrium adalah jaringan renggang yang ditemukan di sekitar uterus. Jaringan ini memanjang sampaike sisi-sisi serviks dan ke pertengahan lapisan-lapisan ligamen besar.
Parametritis adalah infeksi jaringan pelvis yang dapat terjadi beberapa jalan :
•    Penyebaran melalui limfe dari luka serviks yang terinfeksi atau dari endometritis.
•    Penyebaran langsung dari luka pada serviks yang meluas sampai ke dasar ligamentum.
•    Penyebaran sekunder dari tromboflebitis. Parametritis ringan dapat menyebabkan suhu yang meninggi dalam nifas. Bila suhu tinggi menetap lebih dari seminggu disertai rasa nyeri di kiri atau kanan dan nyeri pada pemeriksaan dalam, hal ini patut dicurigai terhadap kemungkinan parametritis

2.    Etiologi
Penyebab yang paling banyak terdapat adalah infeksi nifas. Ada 3 hal yangmenjadi penyebab perimetritis yaitu :
a.    Endometritis dangan 3 cara yaitu :
•    Percontinuitatum : endometritis → metritis → parametitis
•    Lymphogen
•    Haematogen : phlebitis → periphlebitis → parametritis
b.    Dari robekan serviks
c.    Perforasi uterus oleh alat-alat ( sonde, kuret, IUD )

3.    Klasifikasi
Parametritis akuta terjad apabila kuman jalan limfe melewati batas uterus dansampai ke jaringan ikat di paremetrium. Infeksi ini sering di sebabkan olehsteptokokus dan stafilokokus. Kejadian ini muncul karena infeksi puerpera atau postabortum, akan tetapi dapat ditemukan pula sebagai akibat tindakan intrauterin dansebagainya. Radang ini berlokasi paling banyak di parametrium bagian lateral atau( parametritis lateralis ) akan tetapi bisa juga ke dapan ( parametritis anterior ) dankebelakang ( parametritis posterior ) dan radang ini bisa juga menjadi abses.Apabila terjadi abes dan proses berkemabang terus maka abses akan mencari jalan keluar diatas ligamentum pourparti kedaerah ginjal melalui foramenobturatorium kepaha bagaian dalam dan sebagainya. Parametritis dapat pula menahundan ditempat radang terjadi fibrosis. Jika abses meluas maka di tempat absesmendekati permukaan terdapat odema dan hiperemi, dan dibawah kulit, dan jaringansubkutan dapat diraba bagian dai tumor yang akan memacah keluar. nanah harusdikeluarkan karena selalu ada bahaya bahwa abses mencari jalan ke rongga perut yangmenyebabkan peritonitis, ke rektum, atau ke kandung kencing.

4.    Tanda Dan Gejala
Pada perkembangan peradangan lebih lanjut gejala-gejala sellulitis pelvikamenjadi lebih jelas. Pada pemeriksaan dalam dapat diraba tahanan padat dan nyeri disebelah uterus dan tahanan ini yang berhubungan erat dengan tulang panggul, dapatmeluas ke berbagai jurusan. Di tengah-tengah jaringan yang meradang itu bisatumbuh abses. Dalam hal ini, suhu yang mula-mula tinggi secara menetap menjadinaik-turun disertai dengan menggigil. Penderita tampak sakit, nadi cepat, dan perutnyeri. Dalam dua pentiga kasus tidak terjadi pembentukan abses, dan suhu menurundalam beberapa minggu. Tumor di sebelah uterus mengecil sedikit demi sedikit, danakhirnya terdapat parametrium yang kaku.Atau bias juga di tandai dengan :
•    Deman
•    Nyeri atau nyeri tekan pada salah satu atau kedua sisi abdomen
•    Nyeri tekan yang cukup terasa ketika pemeriksaan vagina
•    Nyeri unilateral tanpa gejala rangsangan peritoneum seperti muntah

5.    Penanganan
•    Antibiotik seperti benzilpenisilin ditambah gentamisin dan metronidazol
•    Berikan obat pereda nyeri seperti pethidine 50-100 mg 1m setiap 6jam.
•    Jika ibu tidak membaik dalam 2 atau 3 hari, ibu harus segera di bawa kerumah sakit terdekat


E.    ADNEXITIS
1.    Pengertian
Adnexitis adalah radang yang terjadi di daerah panggul wanita, timbulnya rasa nyeri pada daerah panggul wanita yang berada di daerah tuba falopi sampai ovarium. Rasa nyeri tersebut timbul karena disebabkan oleh bakteri yang mengakibatkan peradangan di struktur tuba falopi dan sekitarnya, bahkan sampai ovarium (indung telur). Salpingitis menjalar ke ovarium hingga juga terjadi oophoritis. Salpingitis dan oophoritis diberi nama adnexitis. Penyakit radang panggul adalah infeksi saluran reproduksi bagian atas. Penyakit tersebut dapat mempengaruhi endometrium (selaput dalam rahim), saluran tuba, indung telur, miometrium (otot rahim), parametrium dan rongga panggul. Penyakit radang panggul merupakan komplikasi umum dari Penyakit Menular Seksual (PMS).


2.    Etiologi
Penyakit radang panggul terjadi apabila terdapat infeksi pada saluran genital bagian bawah, yang menyebar ke atas melalui leher rahim. Butuh waktu dalam hitungan hari atau minggu untuk seorang wanita menderita penyakit radang panggul. Bakteri penyebab tersering adalah N. Gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis yang menyebabkan peradangan dan kerusakan jaringan sehingga menyebabkan berbagai bakteri dari leher rahim maupun vagina menginfeksi daerah tersebut. Kedua bakteri ini adalah kuman penyebab PMS. Proses menstruasi dapat memudahkan terjadinya infeksi karena hilangnya lapisan endometrium yang menyebabkan berkurangnya pertahanan dari rahim, serta menyediakan medium yang baik untuk pertumbuhan bakteri (darah menstruasi).
Jenis-jenis bakteri yang menyebabkan rasa nyeri tersebut sangatlah banyak, diantaranya adalah Baktery Gonorrhea dan Bakteri Chlmydia, masuknya bakteri bakteri tersebut biasanya terjadi saat melakukan hubungan intim atau bersenggama (Berhubungan Kelamin).
Factor resiko
Wanita yang aktif secara seksual di bawah usia 25 tahun berisiko tinggi untuk mendapat penyakit radang panggul. Hal ini disebabkan wanita muda berkecenderungan untuk berganti-ganti pasangan seksual dan melakukan hubungan seksual tidak aman dibandingkan wanita berumur. Faktor lainnya yang berkaitan dengan usia adalah lendir servikal (leher rahim). Lendir servikal yang tebal dapat melindungi masuknya bakteri melalui serviks (seperti gonorea), namun wanita muda dan remaja cenderung memiliki lendir yang tipis sehingga tidak dapat memproteksi masuknya bakteri. Faktor risiko lainnya adalah:
•    Riwayat penyakit radang panggul sebelumnya
•    Pasangan seksual berganti-ganti, atau lebih dari 2 pasangan dalam waktu 30 hari
•    Wanita dengan infeksi oleh kuman penyebab PMS
•    Menggunakan douche (cairan pembersih vagina) beberapa kali dalam sebulan
•    Penggunaan IUD (spiral) meningkatkan risiko penyakit radang panggul. Risiko tertinggi adalah saat pemasangan spiral dan 3 minggu setelah pemasangan terutama apabila sudah terdapat infeksi dalam saluran reproduksi sebelumnya.

3.    Patofisiologi
Infeksi dapat terjadi pada bagian manapun atau semua bagian saluran genital atas endometrium (endometritis), dinding uterus (miositis), tuba uterina (salpingitis), ovarium (ooforitis), ligamentum latum dan serosa uterina (parametritis) dan peritoneum pelvis (peritonitis). Organisme dapat menyebar ke dan di seluruh pelvis dengan salah satu dari lima cara.
a.    Interlumen
Penyakit radang panggul akut non purpuralis hampir selalu (kira-kira 99%) terjadi akibat masuknya kuman patogen melalui serviks ke dalam kavum uteri. Infeksi kemudian menyebar ke tuba uterina, akhirnya pus dari ostium masuk ke ruang peritoneum. Organisme yang diketahui menyebar dengan mekanisme ini adalah N. gonorrhoeae, C. Tracomatis, Streptococcus agalatiae, sitomegalovirus dan virus herpes simpleks.
b.    Limfatik
Infeksi purpuralis (termasuk setelah abortus) dan infeksi yang berhubungan denngan IUD menyebar melalui sistem limfatik seperti infeksi Myoplasma non purpuralis.
c.    Hematogen
Penyebaran hematogen penyakit panggul terbatas pada penyakit tertentu (misalnya tuberkulosis) dan jarang terjadi di Amerika Serikat.
d.    Intraperitoneum
Infeksi intraabdomen (misalnya apndisitis, divertikulitis) dan kecelakaan intra abdomen (misalnya virkus atau ulkus denganperforasi) dapat menyebabkan infeksi yang mengenai sistem genetalia interna.
e.    Kontak langsung
Infeksi pasca pembedahan ginekologi terjadi akibat penyebaran infeksi setempat dari daerah infeksi dan nekrosis jaringan.
Terjadinya radang panggul di pengaruhi beberapa faktor yang memegang peranan, yaitu:
•    Terganggunya barier fisiologik
Secara fisiologik penyebaran kuman ke atas ke dalam genetalia eksterna, akan mengalami hambatan.
    Diostium uteri internum
    Di kornu tuba
    Pada waktu haid, akibat adanya deskuamasi endometrium maka kuman -kuman pada endometrium turut terbuang. Pada ostium uteri eksternum, penyebaran asenden kuman – kuman dihambat secara : mekanik, biokemik dan imunologik.
Pada keadaan tertentu, barier fisiologik ini dapat terganggu, misalnya pada saat persalinan, abortus, instrumentasi pada kanalis servikalis dan insersi alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR):
•    Adanya organisme yang berperang sebagai vector.
Trikomonas vaginalis dapat menembus barier fisiologik dan bergerak sampai tuba fallopi. Beberapa kuman pathogen misalnya E coli dapat melekat pada trikomonas vaginalis yang berfungsi sebagai vektor dan terbawa sampai tuba fallopi dan menimbulkan peradangan di tempat tersebut. Spermatozoa juga terbukti berperan sebagai vektor untuk kuman – kuman N gonerea, ureaplasma ureolitik, C trakomatis dan banyak kuman – kuman aerobik dan anaerobik lainnya.
•    Aktivitas seksual
Pada waktu koitus, bila wanita orgasme, maka akan terjadi kontraksi utrerus yang dapat menarik spermatozoa dan kuman – kuman memasuki kanalis servikalis.
•    Peristiwa Haid
Radang panggul akibat N gonorea mempunyai hubungan dengan siklus haid. Peristiwa haid yang siklik, berperan pentig dalam terjadinya radang panggul gonore.
Periode yang paling rawan terjadinya radang panggul adalah pada minggu pertama setelah haid. Cairan haid dan jaringan nekrotik merupakan media yang sangat baik untuk tumbuhnya kuman – kuman N gonore. Pada saat itu penderita akan mengalami gejala – gejala salpingitis akut disertai panas badan. Oleh karena itu gejala ini sering juga disebut sebagai ”Febril Menses”.
4.    Tanda dan gejala
Gejala paling sering dialami adalah nyeri pada perut dan panggul. Nyeri ini umumnya nyeri tumpul dan terus-menerus, terjadi beberapa hari setelah menstruasi terakhir, dan diperparah dengan gerakan, aktivitas, atau sanggama. Nyeri karena radang panggul biasanya kurang dari 7 hari. Beberapa wanita dengan penyakit ini terkadang tidak mengalami gejala sama sekali. Keluhan lain adalah mual, nyeri berkemih, perdarahan atau bercak pada vagina, demam, nyeri saat sanggama, menggigil, demam tinggi, sakit kepala, malaise, nafsu makan berkurang, nyeri perut bagian bawah dan daerah panggul, dan sekret vagina yang purulen.
Biasanya infeksi akan menyambut tuba fallopi. Tuba yang tersumbat biasa membengkak dan terisi cairan. Sebagai akibatnya bisa terjadi nyeri menahun, perdarahan menstruasi yang tidak teratur dan kemandulan. Infeksi bisa menyebar ke strukstur di sekitarnya, menyebabkan terbentuknya jaringan perut dan perlengketan fibrosa yang abnormal diantara organ – organ perut serta menyebabkan nyeri menahun.
Di dalam tuba, ovarium – ovarium panggul bisa terbentuk abses (penimbunan nanah). Jika abses pecah dan nanah masuk ke rongga panggul, gejalanya segera memburuk dan penderita bisa mengalami syok. Lebih jauh lagi bisa terjadi penyebaran infeksi ke dalam darah sehingga terjadi sepsis.
Adnexitis sendiri ditandai dengan rasa nyeri di daerah kandungan atau perut bagian bawah, terutama saat terjadi haidh, keluarnya keputihan yang sangat keruh dari lubang vagina dan rasa nyeri saat berhubungan intim atau bersenggama dengan suami.
Pada kondisi radang panggul pada wanita (Adnexitis) yang sudah parah makan akan diserta dengan, panas badan (febris), menggigil kedinginan bahkan sampai muntah-muntah hebat. Adnexitis sendiri juga mengakibatkan terlambatnya menstruasi atau haid.
Pada Adnexitis yang terjadi berulang-ulang maka bisa mempengaruhi fertilitas, karena liang tuba falopi rusak dan tersumbat. Ada juga yang mengatakan Adnexitis Bilateral yakni penyakit infeksi pada organ reproduksi wanita sebelah kanan atau kiri, hal ini disebabkan oleh bakteri atau virus yang masuk melalui saluran vagina, dan salah satu gejalanya adalah keputihan disertai rasa sakit pada daerah perut bawah. Pemberian terapi yang tepat dan akurat akan bisa menyembuhkan Adnexitis secara total.

5.    pencegahan
•    Hindari Sex Bebas (Free Sex)
•    Mandi atau bersihkan diri apabila anda ingin melakukan Hubungan Sexual dengan Suami anda,
•    Jangan melakukan hubungan sexsual dengan suami anda secara kasar, yang bisa menyebabkan lecet dan infeksi pada vagina anda)

F.    PERITONITIS
1.    Pengertian
Peritonitis adalah suatu peradangan dan peritoneum, pada membrane serosa, pada bagian rongga perut.
Peritonitis adalah inflamasi peritoneum – lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronik / kumpulan tanda dan gejala, diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi, defans muscular dan tanda – tanda umum inflamasi.
Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum) lapisan membrane serosa rongga abdomen dan dinding perut bagian dalam.
  
2.    Etiologi
Bila di tinjau dari penyebabnya, infeksi peritonitis terbagi atas penyebab primer (peritonitis spontan), sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ viseral) atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). Secara umum, infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infektif (umum) dan abses abdomen.
Infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan tergantung dari penyakit yang mendasarinya. Penyebab utama peritonitis adalah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. SBP terjadi bukan karena infeksi intrabdomen, namun biasanya terjadi pada pasien dengan asites akibat penyakit hati kronik. Akibat asites akan terjadi kontaminasi hingga ke rongga peritoneal sehingga terjadi translokasi bakter menuju dinding perut atau pembuluh limfe mensenterium, kadang – kadang terjadi juga penyebaran hematogen bila telah terjadi bakterimia. Pathogen yang paling sering menyebabkan infeksi ialah bakteri gram negative (40%), escheria choli (7%), klebsiella pnemunae, sepsis psedomonas, proteus dan gram negatif lainnya (20%). Sementara gram positif, yakni streptococcus (3%), mikroorganisme anaerob (kurang dari 5%) dan infeksi campuran beberapa mikroorganisme (10%).
Penyebab lain yang menyebabkan peritonitis sekunder ialah perforasi appendiksitis, perforasi ulkus peptikum dan duodenum, perforasi kolon akibat devertikulisis, volvusus atau kanker dan strangulasi colon asenden. Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ – organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal.
Adapun penyebab spesifik dari peritonitis adalah :
•    Penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi
•    Penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan kegiatan seksual.
•    Infeksi dari rahim dan saluran telur, yang disebabkan oleh gonore dan infeksi clamedia.
•    Kelainan hati atau gagal jantung, dimana bisa terjadi asites dan mengalami infeksi.
•    Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan.
•    Dialisa peritonial (pengobatan gagal ginjal)
•    Iritasi tanpa infeksi.
Peritonitis tersier dapat terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat, sering bukan berasal dari kelainan organ. Pasien dengan peritonitis tersier biasanya timbul abses atau flegmen, dengan atau tanpa fistula. Peritonitis tersier timbul lebih sering pada pasien dengan kondisi komorbid sebelumnya dan pasien dengan imunokompromis.
Selain tiga bentuk diatas, terdapat pula bentuk peritonitis steril atau kimiawi. Peritonitis ini dapat terjadi karena iritasi bahan- bahan kimia, misalnya cairan empedu, barium dan substansi kimia lain atau proses inflamasi transmural dari organ dalam (mis. Penyakit crohn) tanpa adanya inokulasi bakteri di rongga abdomen.

3.    Patofisiologi
Reaksi awal peritonium terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa, yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Bila bahan – bahan infeksi tersebar luas pada permukaan peritonium atau bila infeksi menyebar, dapat timbul peritonium umum, aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul illeus paralitik, kemudian usus menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang ke dalam lumen usus, mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi dan oliguri.
Peritonitis menyebabkan penurunan aktivitas fibrinolitik intra abdomen (meningkatkan aktivitas inhibitor aktivator plasminogen) dan sekuestrasi fibrin dengan adanya pembentukan jaring pengikat. Produksi eksudat fibrin merupakan mekanisme terpenting dari sistem pertahanan tubuh, dengan cara ini terikat bakteri dalam jumlah yang sangat banyak diantara matriks fibrin.
Pembentukan abses pada peritonitis pada prinsipnya merupakan mekanisme tubuh yang melibatkan substansi pembentuk abses dan kuman – kuman itu sendiri untuk menciptakan keadaan kondisi abdomen yang steril. Pada keadaan jumlah bakteri yang banyak tubuh tidak mampu mengeliminasi kuman dan berusaha menghentikan penyebaran kuman dengan membentuk kompartemen – kompartemen yang dikenal sebagai abses. Masuknya bakteri dalam jumlah besar itu bisa berasal dari berbagai sumber, yang paling sering ialah kontaminasi bakteri transien akibat penyakit viseral atau intervensi bedah yang merusak keadaan abdomen.
Selain jumlah bakteri transien yang terlalu banyak di rongga abdomen, peritonitis juga terjadi karena virulensi kuman yang tinggi sehingga mengganggu proses fagositosis dan pembunuhan bakteri dengan neutrofil. Keadaan makin buruk jika infeksinya dibarengi dengan pertumbuhan bakteri lain atau jamur, misalnya pada peritonitis akibat koinfeksi bacteriodes fragilis dan bakteri gram negatif (E. Coli). Isolasi peritonium pada pasien dengan peritonitis menunjukkan jumlah candida albican yang relatif tinggi, sehingga dengan menggunakan skor apache ii diperoleh mortalitas tinggi akibat kandidosis tersebut.

4.    Manifestasi klinis
Diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritonium viseral) yang makin lama makin jelas lokasinya (peritonitis parietal). Tanda – tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis dapat terjadi hipotermia, takikardi, dehidrasi hingga menjadi hipotensi. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maksimum di tempat tertentu sebagai sumber infeksi.
Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tak sadar untuk menghindari palpitasi karena iritasi peritoneum antisipasi penderita secara tak sadar untuk menghindari palpitasi karena iritasi peritoneum. Infeksi dapat meninggalkan jaringan parut dalam bentuk pita jaringan (perlengketan, adhesi) yang akhirnya bisa menyumbat usus.

5.    Komplikasi
a.    Penumpukan cairan mengakibatkan penurunan tekanan vena sentral yang menyebabkan gangguan elektrolit bahkan hipovolemik, syok dan gagal ginjal.
b.    Abses peritoneal
c.    Cairan dapat mendorong diafragma sehingga menyebabkan kesulitan bernafas.
d.    Sepsis

6.    Pemeriksaan Penunjang
a.    Tes laboratorium
•    GDA : alkaliosis respiratori dan asidosis mungkin ada.
•    SDP meningkat kadang – kadang lebih besar dari 20.000 SDM mungkin meningkat, menunjukkan hemokonsentrasi.
•    Hemoglobin dan hematokrit mungkin rendah bila terjadi kehilangan darah.
b.    Protein / albumin serum : mungkin menurun karena penumpukkan cairan (di intra abdomen)
c.    Amilase serum : biasanya meningkat
d.    Elektrolit serum : hipokalemia mungkin ada
e.    X – ray
•    Foto polos abdomen 3 posisi (anterior, posterior, lateral) didapatkan :
    Distensi usus dan ileum
    Usus halus dan usus besar dilatasi
    Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi.
•    Foto dada : dapat menyatakan peninggian diafragma
c. Parasentesis : contoh cairan peritoneal dapat mengandung darah, pus / eksudat, emilase, empedu dan kretinum.
•    CT abdomen dapat menunjukkan pembentukan abses.
•    Pembedahan

7.    Penatalaksanaan
Prinsip pengobatan secara umum adalah mengistirahatkan saluran cerna dengan memuaskan pasien, pemberian antibiotik yang sesuai, dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogratrik atau intestinal, penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena, pembungaan focus septic (appendik) atau penyebab radang lainnya, bila mungkin dengan mengalirkan nanah keluar dan tindakan – tindakan menghilangkan nyeri.
Prinsip umum dalam menangani infeksi intrabdominal ada 4, antara lain :
a.    Kontrol infeksi yang terjadi
b.    Pembersihan bakteri dan racun
c.    Memperbaiki fungsi organ
d.    Mengontrol proses inflamasi
e.    Eksplorasi laparotomi segera dilakukan pada pasien dengan akut peritonitis.




DAFTAR PUSTAKA

http://asuhan-kebidanan-keperawatan.blogspot.com/2011/03/askep-bartolinitis_694.html
http://admiy.blogspot.com/2009/10/vaginitis-vulvitis.html
http://snizty.blogspot.com/2010/04/asuhan-keperawatan-dengan-klien.html
http://irma1985.wordpress.com/2009/11/28/radang-genitalia-pada-wanita/
http://tiangayu.blogspot.com/2011/10/makalah-cervicitis.html
http://kumpulan0askep.wordpress.com/2011/06/02/askep-endometritis/
http://giethedoctor.blogspot.com/2010/04/askeb-miometritis.html
http://www.pharmacy-and-drugs.com/Bacterial_infection/Peritonitis.html
http://ryrilumoet.blogspot.com/2010/04/askep-infeksi-pelvis.html
http://www.scribd.com/doc/59617348/Tugas-Sandra









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar