Minggu, 11 November 2012

KONSEP NEOPLASMA, MIOMA UTERI DAN CYSTE OVARI

NEOPLASMA
A.    Pengertian Neoplasma
Neoplasma merupkakan masa jaringan abnormal, tidak terkendali, dan tidak terkoordinasi dengan jaringan normal, tumbuh terus menerus terus bertransformasi dan terusmembelah.Tumor merupakan salah satu dari lima karakteristik inflamasi berasal dari bahasa latin, yang berarti bengkak.
Istilah tumor ini digunakan untuk menggambarkan pertumbuhan biologikal jaringan yang tidak normal.
B.    Klasifikasi
Menurut Brooker, 2001 pertumbuhan tumor dapat digolongkan sebagai ganas (malignant)atau jinak (benigna). Namun, adapula yang disebut dengan neoplasma intermediet yangmerupakan titik tengah antara maligna dan benigna. Berikut penjelasannya :
1.    Neoplasma ganas (Maligna)
Lebih sering dikenal sebagai kanker yang merupakan sebuah penyakit yang ditandaidengan pembagian sel yang tidak teratur dan kemmpuasel-selini untuk menyerang jaringan biologis lainnya, baik dengan pertumbuhan langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi) atau dengan migrasi sel ke tempat yang jauh (metastasis). Pertumbuhan yang tidak teratur ini menyebabkan kerusakan DNA, menyebabkan mutasidi gen vital yang mengontrol pembagian sel, dan fungsi lainnya (Tjakra, 1991).
Pada maligna terjadi diferensiasi sel berbagai tingkatan, tumbuh dengan cepat,dan bermetastasis.Histopatologiknya intiatipik dan memiliki susunan yang tidak teratur. 
2.    Karsinoma Sel Basal (KSB)
Sinonim dari penyakit ini adalah epitelioma sel basal, basalioma, dan ulkusRodens. Karsinoma sel basal merupakan neoplasma kulit yang sering ditemukan. Karsinoma ini merupakan suatu neoplasma ganas kulit (kanker)yang berasaldari pertumbuhan neoplastik sel basal epidermis dan apendiks kulit.
Dan adalah kanker dengan pertumbuhan lambat,dengan beberapa macam pola pertumbuhansehingga member gambaran klinis yang bervariasi, bersifat invasive, serta jarangmengadakan metastasis tapi dapat menyebabkan kerusakan local dan kecacatan jika tidak diobati. KSB umumnya disebabkan oleh pajanan matahari yang sering.Tempat predileksinya terutama terdapat pada wajah (pipi, dahi, hidung, lipatannasobial, dan daerah periorbital), leher. Meskipun jarang ditemukan pada lengan, badan, tungkai, kaki, dan kulit kepala.
3.    Karsinoma Sel Skuamosa (KSS)
Sinonim dari penyakit ini adalah epitel sel skuamosa, karsinoma sel prickle, dankarsinoma epidermoid. Karsinoma sel skuamosa adalah tipe terbesar kedua danmulai tumbuh dalam sel-sel skuamosa bagian epidermis kulit. Kanker jenis initumbuh dan berkembang lebih cepat di bandingkan dengan sel basal dan bermetastase sekitar 2%.KSS ini merupakan keganasan sel keratinosit epidermis. Karsinoma ini juga dapattumbuh pada kulit yang normal (de novo) atau pad kulit yang sudah memilikikelainan sebelumnya. Kulit yang terkena tampak coklat kemerahan dan bersisisk atau keropeng dan mendatar.Kelainan yang ditemukanberupa benjolan atau luka yang tidak kunjung sembuh. Seperti KSB, pajanan sinar matahari merupakan salah satu penyebab kanker ini. Selain itu juga disebabkan oleh system imun yang buruk, virus, bahan kimia, dan jaringan parut.Tempat predileksinya pada daerahkulit yang terpapar matahari, membrane mukosa, dan dapat terjasi pula padaseluruh bagian tubuh.
4.    Melanoma Maligna (MM)
Melanoma maligna merupakan kanker kulit yang paling ganas dan berasal darisisitem melanositik kulit Melanoma bisa berawal sebagai pertumbuhan kulit baruyang kecil dan berpigmen pada kulit yang normal. Paling sering tumbuh padakulit yang terpapar sinar matahari, tetapi hamper separuh kasus tumbuh dari tahilalat yang berpigmen. Melanoma mudah menyebar ke bagian tubuh yang jauh(metastase), dimana akan terus tumbuh dan menghancurkan jaringan.
Semakinsedikit pertumbuhan melanoma ke dalam kulit, maka semakin besar peluanguntuk menyembuhkannya. Jika melanoma telah tumbuh jauh ke dalam kulit, akanlebih mungkin menyebar melalui pembuluh getah bening dan pembuluh darah dan bisa menyebabkan kematian dalam beberapa bulan atau tahun.
Perjalanan penyakit melanoma bervariasi dan tampaknya dipengaruhi oleh kekuatan pertahanan oleh sistem kekebalan tubuh. Beberapa penderita yang keadaankesehatannya baik, bisa bertahan hidup selama bertahun-tahun meskipunmelanomanya telah menyebar.Melanoma berasal dari melanosit, yang timbul dari puncak saraf dan bermigrasike epidermis, uvea, meninges, dan mukosa ectodermal. Melanosit, berada di kulit mudah dikeluarkan dengan cara operasi (Robin dan Kumar, 1995). Berikut beberapa jenisneoplasma jinak yang serinbg ditemukan.
5.    Hemangioma
Hemangioma adalah tumor jinak pembuluh darah yang terdiri dari proliferasi sel-sel endotel, yang dapat terjadi pada kulit, membran mukosa, dan organ-organ lain.Secara histopatologis dibedakan menjadi hemangioma kapiler dan hemangiomakavernosa.- hemangioma kapiler Hemangioma kapiler terdiri dari pembuluh darah kecil dan superfisial, lunak serta hilang pada penekanan. Termasuk dalam kategori ini adalah nervusflameus (Nervus Flameus yang terletak di medial dan Nervus Flameus yangterletak di lateral), dan hemangioma strawberi.- hemangioma kavernosahemangioma kavernosa mengenai pembuluh darah yang lebih besar dan lebihdalam, serta warnanya lebih gelap dibanding hemangioma kapilaris.
6.    Kista-Kista epidermal (Kista Epidermoid, Kista Epitelial, Kista Keratin )Merupakan bentuk kista yang paling sering terjadi, berasal dari proliferasi sel-sel epidermis dan berisi keratin. Kista ini sering ditemukan pada daerah yang banyak kelenjar sebaseanya, seperti pada wajah, leher, dada, punggung, kulitkepala.Lesi berupa nodul bentuk kubah dengan diameter bervariasi, permukaannyalicin, mudah digerakkan dari dasarnya, tetapi biasanya melekat pada kulit diatasnya. Dapat tunggal atau multipel, konsistensinya keras, dan hilang pada penekanan. Kulit di atasnya tampak mormal, berwarna pucat atau kekuningan, pertumbuhan lambat, dan asimtomatik. Isi kista berupa masa seperti keju dan berbau.- Kista Trikilemal ( Kista Pilaris, KistaSebaseus )merupakan suatu kista yang berisi keratin, tersusun oleh suatu epitel yangmempunyai selubung luar akar rambut, dapat diturunkan secara autosomaldominan. Biasanya terjadi pada kulit kepala. Secara klinis sulit dibedakan dengan kista epidermal, tetapi kista ini lebih mudah dienukleasi dan isinya lebihkeratinosa dan tidak begitu berlemak, serta kurang berbau dibandingkan isi kistaepidermis.- MiliumMerupakan kista keratin subepidermal yang kecil, terutama terjadi pada wajah,khususnya periorbital. Berasal dari epidermis atau adneksa, dapat terjadi secara primer atau sekunder. Pada suatu potongan serial, milium primer dapat tampak  berhubungan dengan suatu velus folikel rambut, sedangkan milium sekunder tampak berhubungan dengan susunan epitel induk. Penyebab milia primer tidak diketahui, kemungkinan berasal dari folikel pilosebaseus. Sedangkan miliasekunder biasa terjadi dari retensi kista setelah berbagai dermatosis, dianggap berasal dari folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea, atau epidermis.-Kista Dermoid ( kista dermatoid brankhiogenik )Merupakan kista yang berasal dari eksodermal, dindingnya dibatasi oleh epitelskuamosa berlapis dan berisi apendiks kulit serta biasanya terdapat pada garisfusi embrional. Lesi berupa nodul intrakutan atau subkutan, soliter, berukuran 1-4 cm, mudah digerakkan dari kulit di atasnya dan dari jaringan di bawahnya.Pada perabaan, permukaan halus, konsistensi lunak dan kenyal, dan secaramakroskopis isi kista berupa material keratin yang berlemak dengan rambut, jugakadang – kadang tulang, gigi, atau jaringan saraf. Lokasi tumor biasanya padakepala dan leher, pada garis fusi embrionik, kadang juga pada ovarium.-Steatokistoma Multipleks ( sebokistomatosis gunther, steatokistoma )Merupakan suatu penyakit yang khas, ditandai dengan adanya kista dermismultipel yang berisi sabun dan dibatasi oleh epitel yang berisi folikel sebasea.Diturunkan secara autosomal dominan. Lesi dapat timbul saat lahir atau beberapasaat kemudian. Secara klinis tampak nodul kistik asimtomatik dengan konsistensilunak sampai keras, melekat pada kulit di atasnya, berwarna kekuningan dengan permukaan halus dan bila lesi ditusuk akan keluar cairan kuning berminyak seperti keju. Ukurannya bervariasi, dari beberapa mm sampai 3 cm, namun biasanya jarang lebih dari 1,5 cm. Pada umumnya lesi terletak pada daerahsternum, lengan, dan daerah skrotum.
7.    Limfangiomamerupakan malformasi pembuluh limfatik yang biasanya terjadi setelah lahir,secara klinis dan histopatologi diklasifikasikan menjadi 3 bentuk :- Limfangioma sirkumskripta lokalisata ( limfangioma simpleks )Lesi timbul saat bayi, beru[a bercak soliter, kecil, dengan diameter kurang dari 1cm, terdiri dari vesikel – vesikel berdinding tebal, berisi cairan limfe, danmenyerupai telur katak. Bila tercampur darah, lesi dapat berwarna keunguan.Tampak adanya dilatasi kistik dari pembuluh limfe yang dindingnya dibatasioleh selapis endotel yang terdapat pada dermis bagian atas. Ketebalan epidermis bervariasi, pada beberapa kista limfe, epidermisnya menipis; sedangkan yanglain dapat menunjukkan akantosis, papilomatosis, hiperkeratosis, dan pertumbuhan ke bawah ireguler.- Limfangioma sirkumskriptum ( tipe klasik )Lesi timbul saat lahir atau pada awal kehidupan, ditandai oleh satu atau beberapa bercak besar dengan vesikel – vesikel jernih, dapat dalam jumlahsangat banyak. Dinding vesikel tampak lebih tipis dan sering disertai edemayang difus pada jaringan subkutis di bawahnya, bahkan kadang – kadang edemaseluruh ekstremitas yang terkena. Lokasi lesi sering pada daerah aksila, lengan,dada lateral, sekitar mulut, dan lidah. Beberapa vesikel dapat berisi darah, dankadang – kadang permukaan lesi dapat verukosa. Tampak gambaran yang miripdengan limfangioma sirkumskripta lokalisata. Hanya derajat hiperkeratosis dan papilomatosisnya lebih nyata, juga dilatasi pembuluh limfenya lebih luassampai dermis bagian bawah dan lemak subkutan. Pembuluh limfe pada lemak subkutan sering berukuran besar dan dindingnya dilapisi otot.- Limfangioma kavernosaLesi berupa suatu pembengkakan jaringan subkutan yang sirkumskripta ataudifus, dengan konsistensi lunak seperti lipoma atau kista. Paling sering dijumpaidisekitar dan di dalam mulut. Limfangioma kavernosa sering terdapat bersama – sama limfangioma sirkumskripta. Bila mengenai pipi, lidah, biasanya murnimerupakan limfangioma kavernosa. Tapi bila terletak pada leher, aksila, dasar mulut, mediastinum biasanya kombinasi, dan disebut higroma kistik. Ditandai dengan adanya kista – kista yang besar dengan bentuk ireguler, dindingnyaterdiri atas selapis sel endotel dan terletak pada jaringan subkutan. Periendotel jaringan konektif dapat tersusun oleh stroma yang longgar, atau padat, bahkandapat fibrosa.
8.    DermatofibromaMerupakan nodul dermal jinak yang dibentuk oleh proliferasi fokal fibroblas atauhistiosit. Lebih tampak sebagai proses reaktif daripada neoplasma yangsebenarnya. Biasanya berhubungan dengan poliferasi ringan dari epidermisdiatasnya. Sering dijumpai pada orang dewasa usia pertengahan, tetapi dapatterjadi pada semua usia dan wanita lebih banyak daripada pria. Tidak diketahui,diduga dari proses reaktif terhadap trauma seperti tusukan jarum, garukan, ataugigitan nyamuk KeloidMerupakan pertumbuhan yg berlebihan dari scar (jaringan sikatrik) akibat penumpukan kollagen dan jaringan yg masih hidup setelah trauma.
9.    Granuloma piogenikum
10.    Keratosis seboroik
11.    Nevus pigmentosusMerupakan sel-sel pigmen yg membentuk neoplasma jinak, dpt congenital ataudidapat (usia 1-35 th). nevus normal berbentuk teratur,batas tegas, warna seragam.50% nevus bisa berubah menjadi melanoma maligna.
C.    Faktor penetus neoplasma
1.    Faktor internal : genetic, jenis kelamin, umur, dan ras- Faktor eksternal : zat kimia, sinar UV, sinar radiasi (ex. Sinar X), virus, dan agen biologi.
2.    Faktor eksternal : zat kimia, sinar uv, sinar radiasi (ex. sinar x), virus, dan agen biologi



MIOMA UTERI

A.    DEFINISI
Mioma uteri adalah tumor yang paling umum pada traktus genitalis (Derek Llewellyn- Jones, 1994). Mioma uteri adalah tumor jinak otot rahim, disertai jaringan ikatnya.
Myoma Uteri adalah : neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus yang disebut juga dengan Leiomyoma Uteri atau Uterine Fibroid.
Mioma uteri adalah neoplasma jinak berasal dari otot uterus, yang dalam kepustakaan ginekologi juga terkenal dengan istilah-istilah fibrimioma uteri, leiomyoma uteri atau uterine fibroid. (Prawirohardjo,1996:281)
Mioma uteri adalah tumor jinak uterus yang berbatas tegas yang terdiri dari otot polos dan jaringan fibrosa (Sylvia A.P, 1994:241)
 Myoma uteri adalah tumor jinak otot rahim dengan komposisi jaringan ikat. Nama lain : leiomioma uteri dan fibromioma uteri, pada mulanya tumbuh sebagai bibit kecil didalam mimetrium dan lambat laun akan membesar. Frekuensi tumor sukar ditentukan secara tepat karena tidak semua penderita dengan myoma uteri datang ketempat pengobatan karena banyak diantara mereka yang tidak mempunyai keluhan apa-apa. Myoma uteri belum pernah dilaporkan terjadi sebelum menarche dan sekitar 10 % myoma uteri merupakan penyakit pada alat-alat genetalia.
B.    ETIOLOGI
Walaupun jelas myoma uteri berasal dari otot polos uterus, namun kurang diketahui faktor-faktor yang menyebabkan tumbuhnya tumor dari otot-otot tersebut. Banyak peneliti yang mengatakan teori stimulasi oleh estrogen,sebagai faktor etiologi dimana stimulasi dengan estrogen ini mengakibatkan :
1.    Myoma Uteri seringkali tumbuh lebih cepat pada masa-masa hamil.
2.    Neoplasma tidak pernah ditemukan sebelum menarche
3.    Hiperplasia endometrium sering ditemukan bersamaan dengan myoma uteri
Namun teori ini banyak diragukan dengan alasan jika benar stimulasi dengan estrogen menjadi penyebab timbulnya myoma uteri, mengapa tidak pada semua wanita dalam masa reproduksi terdapat neoplasma ini, melainkan hanya 20 % saja.Meyer dan De Sno mengusulkan teori Cell Nest atau teori Genito Blast, yang diperkuat lagi oleh percobaan Meyer dan Lipsschutz yang menyebutkan bahwa terjadinya myoma uteri itu tergantung pada sel-sel otot imatur yang terdapat pada sel nest yang selanjutnya dapat dirangsang terus menerus oleh estrogen ( Sarwono Prawirohardjo , 1982 ; 282).
Sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti mioma uteri dan diduga merupakan penyakit multifaktorial. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tumor, di samping faktor predisposisi genetik, adalah estrogen, progesteron dan human growth hormone.
1.    Estrogen.
Mioma uteri dijumpai setelah menarke. Seringkali terdapat pertumbuhan tumor yang cepat selama kehamilan dan terapi estrogen eksogen. Mioma uteri akan mengecil pada saat menopause dan pengangkatan ovarium. Adanya hubungan dengan kelainan lainnya yang tergantung estrogen seperti endometriosis (50%), perubahan fibrosistik dari payudara (14,8%), adenomyosis (16,5%) dan hiperplasia endometrium (9,3%).Mioma uteri banyak ditemukan bersamaan dengan anovulasi ovarium dan wanita dengan sterilitas. Hidroxydesidrogenase: enzim ini mengubah estradiol (sebuah estrogen kuat) menjadi estron (estrogen lemah). Aktivitas enzim ini berkurang pada jaringan miomatous, yang juga mempunyai jumlah reseptor estrogen yang lebih banyak daripada miometrium normal.
2.    Progesteron
Progesteron merupakan antagonis natural dari estrogen. Progesteron menghambat pertumbuhan tumor dengan dua cara yaitu: mengaktifkan 17B hidroxydesidrogenase dan menurunkan jumlah reseptor estrogen pada tumor.
3.    Hormon pertumbuhan
Level hormon pertumbuhan menurun selama kehamilan, tetapi hormon yang mempunyai struktur dan aktivitas biologik serupa yaitu HPL, terlihat pada periode ini, memberi kesan bahwa pertumbuhan yang cepat dari leiomioma selama kehamilan mingkin merupakan hasil dari aksi sinergistik antara HPL dan Estrogen.

Dalam Jeffcoates Principles of Gynecology, ada beberapa faktor yang diduga kuat sebagai faktor predisposisi terjadinya mioma uteri, yaitu :
1.    Umur :
Mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun, ditemukan sekitar 10% pada wanita berusia lebih dari 40 tahun. Tumor ini paling sering memberikan gejala
klinis antara 35 – 45 tahun.
2.    Paritas :
Lebih sering terjadi pada nullipara atau pada wanita yang relatif infertil, tetapi sampai saat ini belum diketahui apakan infertilitas menyebabkan mioma uteri atau sebaliknya mioma uteri yang menyebabkan infertilitas, atau apakah kedua keadaan ini saling mempengaruhi.
3.    Faktor ras dan genetik :
Pada wanita ras tertentu, khususnya wanita berkulit hitam, angka kejadian mioma uteri tinggi. Terlepas dari faktor ras, kejadian tumor ini tinggi pada wanita dengan riwayat keluarga ada yang menderita mioma.
4.    Fungsi ovarium :
Diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen dengan pertumbuhan mioma, dimana mioma uteri muncul setelah menarke, berkembang setelah kehamilan dan mengalami regresi setelah menopause. Pemberian agonis GnRH dalam waktu lama sehingga terjadi hipoestrogenik dapat mengurangi ukuran mioma. Efek estrogen pada pertumbuhan mioma mungkin berhubungan dengan respon mediasi oleh estrogen terhadap reseptor dan faktor pertumbuhan lain. Terdapat bukti peningkatan produksi reseptor progesteron, faktor pertumbuhan epidermal dan insulin-like growth factor yang distimulasi oleh estrogen.

C.    PATOFISIOLOGI
Mioma uteri mulai tumbuh sebagai bibit yang kecil di dalam miometrium dan lambat laun membesar karena pertumbuhan itu miometrium terdesak menyusun semacam pseudekapsula atau simpai semu yang mengelilingi tumor di dalam uterus mungkin terdapat satu mioma, akan tetapi mioma biasanya banyak. Jika ada satu mioma yang tumbuh intramural dalam korpus uteri maka korpus ini tampak bundar dan konstipasi padat. Bila terletak pada dinding depan uterus, uterus mioma dapat menonjol ke depan sehingga menekan dan mendorong kandung kencing ke atas sehingga sering menimbulkan keluhan miksi Tetapi masalah akan timbul jika terjadi: berkurangnya pemberian darah pada mioma uteri yang menyebabkan tumor membesar, sehingga menimbulkan rasa nyeri dan mual. Selain itu masalah dapat timbul lagi jika terjadi perdarahan abnormal pada uterus yang berlebihan sehingga terjadi anemia. Anemia ini bisa mengakibatkan kelemahan fisik, kondisi tubuh lemah, sehingga kebutuhan perawatan diri tidak dapat terpenuhi. Selain itu dengan perdarahan yang banyak bisa mengakibatkan seseorang mengalami kekurangan volume cairan. (Sastrawinata S: 151)




D.    KLASIFIKASI
Klasifikasi mioma dapat berdasarkan lokasi dan lapisan uterus yang terkena.
1.    Lokasi
Cerivical (2,6%), umumnya tumbuh ke arah vagina menyebabkan infeksi. Isthmica (7,2%), lebih sering menyebabkan nyeri dan gangguan traktus urinarius. Corporal (91%), merupakan lokasi paling lazim, dan seringkali tanpa gejala.
2.    Lapisan Uterus
Mioma uteri pada daerah korpus, sesuai dengan lokasinya dibagi menjadi tiga jenis yaitu :
a.    Mioma Uteri Subserosa
Lokasi tumor di subserosa korpus uteri dapat hanya sebagai tonjolan saja, dapat pula sebagai satu massa yang dihubungkan dengan uterus melalui tangkai. Pertumbuhan ke arah lateral dapat berada di dalam ligamentum latum dan disebut sebagai mioma intraligamenter. Mioma yang cukup besar akan mengisi rongga peritoneal sebagai suatu massa. Perlengketan dengan usus, omentum atau mesenterium di sekitarnya menyebabkan sistem peredaran darah diambil alih dari tangkai ke omentum. Akibatnya tangkai makin mengecil dan terputus, sehingga mioma akan terlepas dari uterus sebagai massa tumor yang bebas dalam rongga peritoneum. Mioma jenis ini dikenal sebagai jenis parasitik.
b.    Mioma Uteri Intramural
Disebut juga sebagai mioma intraepitelial. Biasanya multipel apabila masih kecil tidak merubah bentuk uterus, tetapi bila besar akan menyebabkan uterus berbenjol-benjol, uterus bertambah besar dan berubah bentuknya. Mioma sering tidak memberikan gejala klinis yang berarti kecuali rasa tidak enak karena adanya massa tumor di daerah perut sebelah bawah. Kadang kala tumor tumbuh sebagai mioma subserosa dan kadang-kadang sebagai mioma submukosa. Di dalam otot rahim dapat besar, padat (jaringan ikat dominan), lunak (jaringan otot rahim dominan).
c.    Mioma Uteri Submukosa
Terletak di bawah endometrium. Dapat pula bertangkai maupun tidak. Mioma bertangkai dapat menonjol melalui kanalis servikalis, dan pada keadaan ini mudah terjadi torsi atau infeksi. Tumor ini memperluas permukaan ruangan rahim.Dari sudut klinik mioma uteri submukosa mempunyai arti yang lebih penting dibandingkan dengan jenis yang lain. Pada mioma uteri subserosa ataupun intramural walaupun ditemukan cukup besar tetapi sering kali memberikan keluhan yang tidak berarti. Sebaliknya pada jenis submukosa walaupun hanya kecil selalu memberikan keluhan perdarahan melalui vagina. Perdarahan sulit untuk dihentikan sehingga sebagai terapinya dilakukan histerektomi.

E.    GAMBARAN KLINIK
Gejala tergantung pada besar dan posisi mioma. Kebanyakan mioma kecil dan beberapa yang besar tidak menimbulkan gejala dan hanya terdeteksi pada pemeriksaan rutin. Jika mioma terletak subendometrium, mungkin disertai minoragia. Jika perdarahan yang hebat menetap, pasien mungkin mengalami anemia. Ketika uterus berkontraksi, dapat timbul nyeri kram. Mioma subendometrium yang bertangkai dapat menyebabkan perdarahan persisten dari uterus.
Dimanapun posisinya didalam uterus, mioma besar dapat menyebabkan gejala penekanan pada panggul, disuria dan sering kencing serta konstipasi atau nyeri punggung jika uterus yang membesar menekan rectum. Mioma servic dapat menyebabkan nyeri panggul dan kesulitan melakukan hubungan seksual. Mioma fibrosa dapat tidak menunjukan gejala/ menyebabkan perdarahan vagina abnormal. Gejala lain akibat tekanan pada organ – organ sekitarnya mencakup nyeri, sakit kepala, konstipasi dan masalah -masalah perkemihan. Menorrhagi dan metroragi terjadi karena fibroid (dapat merusak lapisan uterus).
Hampir separuh dari kasus mioma uteri ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan pelvik rutin. Pada penderita memang tidak mempunyai keluhan apa-apa dan tidak sadar bahwa mereka sedang mengandung satu tumor dalam uterus. Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya gejala klinik meliputi :
1.    Besarnya mioma uteri.
2.    Lokalisasi mioma uteri.
3.    Perubahan-perubahan pada mioma uteri.
Gejala klinik terjadi hanya pada sekitar 35 % – 50% dari pasien yang terkena. Adapun gejala klinik yang dapat timbul pada mioma uteri:
a.    Perdarahan abnormal, merupakan gejala klinik yang sering ditemukan (30%). Bentuk perdarahan yang ditemukan berupa: menoragi, metroragi, dan hipermenorrhea. Perdarahan dapat menyebabkan anemia defisiensi Fe. Perdarahan abnormal ini dapat dijelaskan oleh karena bertambahnya area permukaaan dari endometrium yang menyebabkan gangguan kontraksi otot rahim, distorsi dan kongesti dari pembuluh darah di sekitarnya dan ulserasi dari lapisan endometrium.
b.    Penekanan rahim yang membesar :
•    Terasa berat di abdomen bagian bawah.
•    Gejala traktus urinarius: urine frequency, retensi urine, obstruksi ureter dan hidronefrosis.
•    Gejala intestinal: konstipasi dan obstruksi intestinal.
•    Terasa nyeri karena tertekannya saraf.
c.    Nyeri, dapat disebabkan oleh :
•    Penekanan saraf.
•    Torsi bertangkai.
•    Submukosa mioma terlahir
•    Infeksi pada mioma.

d.    Infertilitas, akibat penekanan saluran tuba oleh mioma yang berlokasi di cornu. Perdarahan kontinyu pada pasien dengan mioma submukosa dapat menghalangi implantasi. Terdapat peningkatan insiden aborsi dan kelahiran prematur pada pasien dengan mioma intramural dan submukosa.
e.    Kongesti vena, disebabkan oleh kompresi tumor yang menyebabkan edema ekstremitas bawah, hemorrhoid, nyeri dan dyspareunia.


F.    PENGARUH KEHAMILAN DAN PERSALINAN PADA MIOMA UTERI :
1.    Cepat bertambah besar, mungkin karena pengaruh hormon estrogen yang meningkat dalam kehamilan.
2.    Degenerasi merah dan degenerasi karnosa : tumor menjadi lebih lunak, berubah bentuk, dan berwarna merah. Bisa terjadi gangguan sirkulasi sehingga terjadi perdarahan.
3.    Mioma subserosum yang bertangkai oleh desakan uterus yang membesar atau setelah bayi lahir, terjadi torsi (terpelintir) pada tangkainya, torsi menyebabkan gangguan sirkulasi dan nekrosis pada tumor. Wanita hamil merasakan nyeri yang hebat pada perut (abdoment akut).
4.    Kehamilan dapat mengalami keguguran.
5.    Persalinan prematuritas.
6.    Gangguan proses persalinan.
7.    Tertutupnya saluran indung telur sehingga menimbulkan infertilitas.
8.    Pada kala III dapat terjadi gangguan pelepasan plasenta dan perdarahan.
9.    Mioma yang lokasinya dibelakang dapat terdesak kedalam kavum douglasi dan terjadi inkarserasi.

G.    PENGARUH MIOMA PADA KEHAMILAN DAN PERSALINAN :
1.    Subfertil (agak mandul) sampai fertil (mandul) dan kadang- kadang hanya punya anak satu. Terutama pada mioma uteri sub mucosum.
2.    Sering terjadi abortus. Akibat adanya distorsi rongga uterus.
3.    Terjadi kelainan letak janin dalam rahim, terutama pada mioma yang besar dan letak sub serus.
4.    Distosia tumor yang menghalangi jalan lahir, terutama pada mioma yang letaknya diservix.
5.    Inersia uteri terutama pada kala I dan kala II.
6.    Atonia uteri terutama paska persalinan; perdarahan banyak, terutama pada mioma yang letaknya didalam dinding rahim.
7.    Kelainan letak plasenta.
8.    Plasenta sukar lepas (retensio plasenta), terutama pada mioma yang sub mukus dengan intra mural.
Penanganan berdasarkan pada kemungkinan adanya keganasan, kemungkinan torsi dan abdomen akut dan kemungkinan menimbulkan komplikasi obstetrik, maka : Tumor ovarium dalam kehamilan yang lebih besar dari telur angsa harus dikeluarkan.Waktu yang tepat untuk operasi adalah kehamilan 16 – 20 minggu.
Operasi yang dilakukan pada umur kahamilan dibawah 20 minggu harus diberikan substitusi progesteron :
    Beberapa hari sebelum operasi.
    Beberapa hari setelah operasi, sebab ditakutkan korpus luteum terangkat bersama tumor yang dapat menyebabkan abortus.
Operasi darurat apabila terjadi torsi dan aboment akut.
Bila tumor agak besar dan lokasinya agak bawah akan menghalangi persalinan, penanganan yang dilakukan :
    Coba reposisi, kalau perlu dalam narkosa.
    Bila tidak bisa persalinan diselesaikan dengan sectio cesarea dan jangan lupa, tumor sekaligus diangkat.

H.    KOMPLIKASI
1.    Pertumbuhan leimiosarkoma.
Mioma dicurigai sebagai sarcoma bila selama beberapa tahun tidak membesar, sekonyong – konyong menjadi besar apabila hal itu terjadi sesudah menopause
2.    Torsi (putaran tangkai )
Ada kalanya tangkai pada mioma uteri subserosum mengalami putaran. Kalau proses ini terjadi mendadak, tumor akan mengalami gangguan sirkulasi akut dengan nekrosis jaringan dan akan tampak gambaran klinik dari abdomenakut.
3.    Nekrosis dan Infeksi
Pada myoma subserosum yang menjadi polip, ujung tumor, kadang-kadang dapat melalui kanalis servikalis dan dilahirkan bari vagina, dalam hal ini kemungkinan gangguan situasi dengan akibat nekrosis dan infeksi sekunder.

I.    DIAGNOSIS
Diagnosis mioma uteri ditegakkan berdasarkan:
1.    Anamnesis
a.    Timbul benjolan di perut bagian bawah dalam waktu yang relatif lama.
b.    Kadang-kadang disertai gangguan haid, buang air kecil atau buang air besar.
c.    Nyeri perut bila terinfeksi, terpuntir, pecah.
2.    Pemeriksaan fisik
a.    Palpasi abdomen didapatkan tumor di abdomen bagian bawah.
b.    Pemeriksaan ginekologik dengan pemeriksaan bimanual didapatkan tumor tersebut menyatu dengan rahim atau mengisi kavum Douglasi.
c.    Konsistensi padat, kenyal, mobil, permukaan tumor umumnya rata.
3.    Gejala klinis
a.    Adanya rasa penuh pada perut bagian bawah dan tanda massa yang padat kenyal.
b.    Adanya perdarahan abnormal.
c.    Nyeri, terutama saat menstruasi.
4.    Pemeriksaan luar
Teraba massa tumor pada abdomen bagian bawah serta pergerakan tumor dapat terbatas atau bebas.
5.    Pemeriksaan dalam.
Teraba tumor yang berasal dari rahim dan pergerakan tumor dapat terbatas atau bebas dan ini biasanya ditemukan secara kebetulan.


J.    PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.    USG, untuk menentukan jenis tumor, lokasi mioma, ketebalan endometriium dan keadaan adnexa dalam rongga pelvis. Mioma juga dapat dideteksi dengan CT scan ataupun MRI, tetapi kedua pemeriksaan itu lebih mahal dan tidak memvisualisasi uterus sebaik USG. Untungnya, leiomiosarkoma sangat jarang karena USG tidak dapat membedakannya dengan mioma dan konfirmasinya membutuhkan diagnosa jaringan.
Dalam sebagian besar kasus, mioma mudah dikenali karena pola gemanya pada beberapa bidang tidak hanya menyerupai tetapi juga bergabung dengan uterus; lebih lanjut uterus membesar dan berbentuk tak teratur.
2.    Foto BNO/IVP pemeriksaan ini penting untuk menilai massa di rongga pelvis serta menilai fungsi ginjal dan perjalanan ureter.
3.    Histerografi dan histeroskopi untuk menilai pasien mioma submukosa disertai dengan infertilitas.
4.    Laparaskopi untuk mengevaluasi massa pada pelvis.
5.    Laboratorium : darah lengkap, urine lengkap, gula darah, tes fungsi hati, ureum, kreatinin darah.
6.    Vaginal Toucher
Didapatkan perdarahan pervaginam, teraba massa, konsistensi dan ukurannya.
7.    Sitologi
Menentukan tingkat keganasan dari sel-sel neoplasma tersebut.

K.    PENATALAKSANAAN MEDIS
1.    Pengobatan penunjang
Khusus sebagai penunjang pengobatan bagi penderita dengan anemia karena hiper minorea dapat diberikan ferum, tranfusi darah diit kaya protein, kalsium, dan vitamin c. Sementara direncanakan pengobatan yang difinitif.
2.    Pengobatan operatif
a.    Miomektomi
Miomektomi atau operasi pengangkatan mioma tanpa mengorbankan uterus dilakukan pada mioma subversum bertangkai atau jika fungsi uterus masih dipertahankan. Pada mioma submukosum yang dilahirkan dalam vagina, umumnya tumor dapat diangkat pervagina tanpa mengangkat uterus.
Keberatan terhadap miomektomi adalah:
•    angka residitif 2,10%. Mungkin hal ini disebabkan oleh kurang ketelitian waktu operasi, akan tetapi mungkin pula ada mioma-mioma sangat kecil yang tidak terlihat pada operasi dan mioma ini kemudian menjadi besar.
•    Perdarahan pada operasi ini kadang-kadang banyak.

b.    Histerektomi
umumnya dilakukan histerektomi abdominal akan tetapi jika uterusnya tidak terlalu besar dan apalagi jika terdapat pula prolapsus uteri histerektomi vaginal dapat dipertimbangkan.

3.    Sinar rontgen dan radium
Sebelum dilakukan pengobatan dengan sinar harus dilakukan kerokan dahulu untuk mengetahui bahwa tidak ada karsinoma endonutii. Dengan penyinaran fungsi ovarium dihentikan dan tumor akan mengecil. Pemberian sinar rontgent akan lebih baik daripada radium karena dapat menyebabkan nekrosis dan infeksi pada tumor.
4.    Hormonal
Estrogen untuk pasien setelah menopause dan observasi setiap 6 bulan.
Terapi hormonal (rangsangan estrogen menurun dan terjadi pengecilan mioma).Pemberian obat-obatan dimaksudkan untuk terapi atau untuk mengecilkan mioma sehingga lebih mudah dilakukan miomektomi dan memperkecil perdarahan.





L.    DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.    Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan efek sekunder dari mioma uteri
2.    Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan pervaginam, perdarahan uterus yang berlebihan atau abnormal
3.    Gangguan eliminasi : BAK berhubungan dengan adanya penekanan pada mioma uteri terhadap kandung kemih
4.    Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik, keterbatasan pergerakan.
M.    INTERVENSI
1.    Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan efek sekunder dari mioma uteri, proses penyakit
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri hilang dan berkurang
Kriteria hasil : pasien mengungkapkan nyeri yang dirasakan dapat berkurang,ekspresi wajah rileks dan tenang
Intervensi :
a.    Kaji tingkat dan kerakteristik nyeri, termasuk kualitas, frekuensi, durasi,lokasi dan intensitasnya
b.    Ajarkan pasien latihan teknik relaksasi nafas dalam
c.    Berikan pasien posisi yang nyaman
d.    Kontrol tanda-tanda vital pasien
e.    Kolaborasi pemberian analgesik sesuai indikasi
2.    Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan pervaginam, perdarahan uterus yang berlebihan / abnormal
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan volume cairan dalam kondisi seimbang
Kriteria hasil : tidak terjadi hipovelemi (oliguri, kapilarirefil menurun, turgor jelek), tanda-tanda vital dalam batas normal (TD 120/80 mmHg, nadi 69 – 100 x/menit, RR 16 – 24 x/menit, suhu 37° C)
Intervensi :
a.    Kaji tanda-tanda vital
b.    Ukur dan catat pemasukan dan pengeluaran cairan
c.    Catat perdarahan baru setelah berhentinya perdarahan awal
d.    Catat respon fisiologis individual pasien terhadap perdarahan, missal perubahan mental, kelemahan, gelisah, pucat, berkeringat, peningkatan suhu
e.    Barikan cairan baik roral maupun parenteral sesuai program
f.    Monitor jumlah tetesan infus
3.    Gangguan eliminasi : BAK berhubungan dengan adanya penekanan pada mioma uteri terhadap kandung kemih
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan eliminasi BAK lancar.
Kriteria hasil :
a.    urine dapat keluar lancer
b.    klien tidak mengeluh sakit
c.    klien merasa nyaman
Intervensi :
a.    Kaji pola BAK pasien
b.    Awasi pemasukan dan pengeluaran dan karakteristik urine
c.    Anjurkan pasien untuk minum banyak
d.    Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat sesuai dengan indikasi
4.    Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik, keterbatasan pergerakan.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan perawatan diri terpenuhi
Kriteria hasil :klien merasa nyaman,kebutuhan perawatan diri terpenuhi
Intervensi :
a.    Kaji kondisi klien
b.    Motivasi klien untuk melakukan perawatan diri
c.    Bantu klien untuk kebutuhan personal hygiene
d.    Libatkan keluarga dalam pemehunan perawatan diri
e.    Ajarkan pada klien cara untuk perawatan diri






















CYSTA UTERII

A.    Pengertian Kista Ovarium
Kista ovarium adalah kantung kecil berisi cairan yang berkembang dalam ovarium (indung telur) wanita. Kebanyakan kista tidak berbahaya. Namun, beberapa dapat menimbulkan masalah, mulai dari nyeri haid, kista pecah, perdarahan, hingga penyakit serius, seperti: terlilitnya batang ovarium, gangguan kehamilan, infertilitas hingga kanker endometrium.
Cystoma ovarii adalah kista kantong berisi cairan yang berbentuk di ovarium. (Sariyadi, 1993).
Cystoma ovarii adalah suatu bentuk ovarium neoplastik jinak yang berbentuk kista. (Wikjosastro H, 1994).
 Cystoma ovarii adalah pertumbuhan yang berlebihan pada ovarium oleh karena suatu sebab jadi membesar dan berisi cairan kadang berlendir, sehingga tumor tersebut membentuk suatu kantong yang besar dinamakan kista. (Prof. Dr. Bari Syaifudin, 2000).
Cystoma ovarii adalah suatu benjolan yang berada di ovarium yang dapat mengakibatkan pembesaran pada abdomen bagian bawah dimana pada kehamilan yang disertai kista ovarium seolah-olah terjadi perlekatan ruang bila kehamilan mulai membesar. (Sarwono, 1999).







B.    Etiologi
Menurut Manuaba, 1981 penyebeb kista ovarium :
1.    Belum jelas diketahui, terutama terjadi pada daerah industri, diperkirakan partikel talk dan abses melalui vagina uterus masuk rongga peritonium meupakan bahan perangsang pada ovarium untuk menjadi neoplasma.
2.     Asal usus tumor belium jelas, tetapi pada teori yang menyebutkan bahwa penyebab tumor adalah bahan karsinogen seperti rokok, bahan kimia, sisa-sisa pembakaran zat arang, bahan-bahan tambang, virus, hormon, dan stress.
Beberapa faktor resiko berkembangnya kista ovarium, adalah wanita yang biasanya memiliki:
1.    riwayat kista ovarium terdahulu
2.    siklus haid tidak teratur
3.    perut buncit
4.     menstruasi di usia dini (11 tahun atau lebih muda)
5.     sulit hamil
6.     penderita hipotiroid
7.    penderita kanker payudara yang pernah menjalani kemoterapi (tamoxifen)
   
C.    Jenis-Jenis Kista Ovarium
1.    Kista Corpus Luteum
Jenis ini, adalah yang paling umum terjadi, biasanya tidak ada gejala dan dapat berukuran 2-6 cm diameternya. Pada saat telur keluar dari ovarium ke rahim, maka folikel dapat terkunci dan terisi darah ataupun cairan. Inilah yang membentuk kista jenis ini. Bilamana ukurannya membesar dan menyebabkan batang ovarium terlilit (twisted), dapat menimbulkan rasa sakit yang luar biasa, dan memerlukan tindakan operasi.
2.    Kista hemorrhagic
Yaitu timbulnya perdarahan dalam kista fungsional. Gejalanya biasanya kram perut.
3.    Kista dermoid
Jenis ini biasanya menyerang wanita berusia lebih muda dan dapat tumbuh besar (15 cm) dan berisi tidak hanya cairan, tapi juga lemak, rambut, jaringan tulang ataupun tulang rawan. Jenis ini dapat meradang dan menyebabkan posisi tuba fallopi terlilit (torted/twisted).
4.    Kista Endometrium
Disebut juga endometriosis. Jenis ini terjadi ketika jaringan lapisan rahim (endometrial) hadir dalam ovarium wanita. Biasanya berisi darah kecoklatan, dan ukurannya berkisar antara 2 cm hingga 20 cm. Karakteristiknya: menyerang wanita usia reproduksi, menimbulkan sakit nyeri haid yang luar biasa, dan mengganggu kesuburan (fertilitas).

 
5.    Kistadenoma
Yaitu bila tumor terbentuk dari jaringan ovarium. Tumor jenis ini biasanya berisi cairan dan dapat berukuran sangat besar, bahkan hingga 30cm atau lebih diameternya.
6.    Polycystic-appearing ovary
Yaitu suatu kondisi dimana kista-kista kecil terbentuk disekeliling luar ovarium. Kondisi ini bisa terjadi pada wanita normal, maupun pada wanita yang mengalami gangguan hormon endokrin.
7.    Sindrom Polisistik Ovari (Polycystic Ovarian Syndrom - PCOS)
PCOS adalah kondisi dimana ditemukan banyak kista dalam ovarium. Hal ini terjadi karena ovarium memproduksi hormone androgen secara berlebihan, dan bisa terjadi karena faktor genetic (diturunkan).
PCOS dapat memiliki gejala seperti: bulu lebat tumbuh, wajah berjerawat, ataupun gangguan siklus haid. Komplikasinya dapat berupa meningkatnya resiko penyakit jantung, kolesterol, Diabetes Mellitus tipe 2 maupun tekanan darah tinggi sebagai akibat resistansi insulin. Selain itu juga dapat meningkatkan resiko kanker endometrium bila jarak antar periode haid > 60 hari.
Penyakit PCOS ini, juga seringkali diasosiasikan dengan infertilitas, meningkatnya resiko keguguran & komplikasi kehamilan, dan perdarahan di luar siklus haid.
Sayangnya, penyakit ini sangat lazim terjadi, yaitu menimpa sekitar 4-7% wanita usia reproduksi.

Gambar Ovarium dengan Sindrom PCOS




D.    Tanda dan gejala
Kista ovarium biasanya tidak menimbulkan gejala dan tidak sengaja terdeteksi melalui USG saat pemeriksaan rutin kandungan. Namun, beberapa orang dapat mengalami gejala ini:
1.    kram perut bawah atau nyeri panggul yang timbul tenggelam dan tiba-tiba menusuk
2.    siklus haid tidak teratur
3.    perut bawah sering terasa penuh atau tertekan
4.    Nyeri haid yang luar biasa, bahkan terasa hingga ke pinggang belakang
5.    Nyeri panggul setelah olahraga intensif atau senggama
6.    Sakit atau tekanan yang menyertai saat berkemih atau BAB
7.    Mual dan muntah
8.    Rasa nyeri atau keluarnya flek darah dari vagina

E.    PATOFISIOLOGI
Wanita normal biasanya memiliki dua ovarium seukuran kenari di sisi kiri & kanan rahim. Masing-masing ovarium menghasilkan satu telur yang terbungkus dalam folikel (kantong). Ketika telur keluar, hormon estrogen akan memberi sinyal kepada rahim. Pada gilirannya, lapisan rahim mulai menebal dan mempersiapkan pembuahan telur oleh sperma (kehamilan). Bila telur tidak dibuahi, maka seluruh isi rahim akan dikeluarkan dalam bentuk haid bulanan.
Jika folikel gagal untuk pecah dan melepaskan telur, cairannya tetap tinggal dan dapat membentuk kista kecil ( lebih kecil dari 4 cm). Ini normal terjadi dan biasanya terjadi pada salah satu ovarium. Kondisi ini disebut sebagai kista fungsional, biasanya akan hilang dengan sendirinya, dan tidak perlu diobati.


F.    KOMPLIKASI
1.    Perdarahan ke dalam kista yang terjadi sedikit-sedikit, sehingga berangsur-angsur menyebabkan pembesaran kista, dan hanya menimbulkan gejala-gejala klinik yang minimal. Akan tetapi jika perdarahan terjadi dalam jumlah yang banyak akan terjadi distensi yang cepat dari kista yang menimbulkan nyeri perut yang mendadak.
2.    Torsio, Putaran tangkai dapat terjadi pada ksta yang berukuran diameter 5 cm atau lebih. Putaran tangkai menyebabkan gangguan sirkulasi meskipun gangguan ini jarang bersifat total.
3.     Kista ovarium yang besar dapat menyebabkan rasa tidak nyaman pada perut dan dapat menekan vesica urinaria sehingga terjadi ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih secara sempurna.
d. Massa kista ovarium berkembang setelah masa menopouse sehingga besar kemungkinan untuk berubah menjadi kanker (maligna). Faktor inilah yang menyebabkan pemeriksaan pelvic menjadi penting

G.    PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.    USG
Ultrasonik adalah gelombang suara dengan frekuensi lebih tinggi dari pada kemampuan pendengaran telinga manusia, sehingga kita tidak bisa mendengarnya sama sekali . Suara yang dapat didengar manusia mempunyai frekuensi antara 20-20.000 Cpd (cicles per detik = Hz). Masing-masing jaringan tubuh mempunyai impedence acustic tertentu. dalam jaringan yang heterogen akan ditimbulkan bermacam-macam echo, disebut anechoic atau echofree atau bebas echo. Suatu rongga berisi cairan bersifat anechoic, misalnya kista, asites, pembuluh darah besar, perikardial, atau pleural efusion. Pada USG kista ovarium akan terlihat sebagai struktur kistik yang bulat (kadang-kadang oval) dan terlihat sangat echolucent dengan dinding dinding yang tipis/tegas/licin, dan di tepi belakang kista nampak bayangan echo yang lebih putih dari dinding depannya. Kista ini dapat bersifat unillokuler (tidak bersepta) atau multilokuler (bersepta-septa). Kadang-kadang terlihat bintik-bintik echo yang halus-halus (internal echoes) di dalam kista yang berasal dari elemen-elemen darah di dalam kista.
a.    Transabdominal Sonogram
Transabdominal ultrasonography lebih baik dibandingkan endovaginal ultrasonography untuk mengevaluasi besarnya massa serta struktur intra abdominal lainnya, seperti ginjal, hati, dan asites. Syarat pemeriksaan transabdominal sonogram dilakukan dalam keadaan vesica urinaria terisi/penuh.
b.    Endovaginal Sonogram
Pemeriksaan ini dapat menggambarkan/memperlihatkan secara detail struktur pelvis. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara endovaginal. Pemeriksaan dilakukan dalam keadaan vesica urinaria kosong.
c.    Kista Endometriosis
Menunjukkan karakteristik yang difuse, low level echoes pada endometrium, yang memberikan gambaran yang padat.
d.    Polikistik Ovarium
Menunjukkan jumlah folikel perifer dan hiperechoid stroma.


2.    MRI
Gambaran MRI lebih jelas memperlihatkan jaringan halus dibandingkan dengan CT-scan, serta ketelitian dalam mengidentifikasi lemak dan produk darah. CT-Scan dapat pemberian petunjuk tentang organ asal dari massa yang ada. MRI tidak terlalu dibutuhkan dalam beberapa/banyak kasus.

USG dan MRI jauh lebih baik dalam mengidentifikasi kista ovarium dan massa/tumor pelvis dibandingkan dengan CT-Scan.


H.    PENATALAKSANAAN
1.    Satu-satunya terapi/pengobatan untuk neoplasma dari ovarium adalah operasi. Bila tumor ovarii disertai gejala akut misalnya torsi, maka tindakan operasi harus dilakukan pada waktu itu juga, bila tidak ada gejala akut, tindakan operasi harus dipersiapkan terlebih dahulu dengan seksama.
2.    Penanganan pada kehamilan dan persalinan berdasarkan pada:
a.    Kemungkinan adanya keganasan
b.    Kemungkinan torsi dan abdomen akut
c.    Kemungkinan menimbulkan komplikasi obstetrik, maka:
a)    Tumor ovarium dalam kehamilan yang lebih besar dari telur angsa harus dikeluarkan.
b)    Waktu yang tepat untuk operasi adalah antara kehamilan 16-20 minggu.
c)    Operasi yang dilakukan pada umur kehamilan di bawah 20 minggu harus diberikan substitusi progesteron:
    Beberapa hari sebelum operasi
    Beberapa hari setelah operasi, sebab ditakutkan korpus luteum terangkat bersama tumor yang dapat menyebabkan abortus.
    Operasi darurat apabila terjadi torsi dan abdomen akut.
    Bila tumor agak besar dan lokasinya di bagian bawah akan menghalangi penanganan yang dilakukan:
Coba reposisi, kalau perlu dalam narkos.
    Bila tidak terjadi, persalinan diselesaikan dengan sectio sesaria dan jangan lupa, tumor sekaligus diangkat.
(Prof. Dr. Rustam Mochtar, 1998)


Pengobatan Kista Ovarium
Studi menemukan bahwa penggunaan kontrasepsi oral (pil KB) dapat menurunkan resiko terkena kista ovarium, karena mencegah ovarium memproduksi telur. Kista berukuran besar dan menetap setelah berbulan-bulan biasanya memerlukan operasi pengangkatan. Selain itu, wanita menopause yang memiliki kista ovarium juga disarankan operasi pengangkatan untuk meminimalisir resiko terjadinya kanker ovarium. Wanita usia 50-70 tahun memiliki resiko cukup besar terkena kanker jenis ini.
Bila hanya kista-nya yang diangkat, maka operasi ini disebut ovarian cystectomy. Bila pembedahan mengangkat seluruh ovarium termasuk tuba fallopi, maka disebut salpingoo-ophorectomy.
Faktor-faktor yang menentukan tipe pembedahan, antara lain tergantung pada: usia pasien, keinginan pasien untuk memiliki anak, kondisi ovarium dan jenis kista.
Kista ovarium yang menyebabkan posisi batang ovarium terlilit (twisted) dan menghentikan pasokan darah ke ovarium, memerlukan tindakan darurat pembedahan (emergency surgery) untuk mengembalikan posisi ovarium.

 

Alternatif Pengobatan Kista Ovarium dengan Typhonium Plus

Untuk benar-benar bebas dari kista, seorang wanita perlu menjaga berat badan (tidak gemuk di daerah perut), diet sehat (mengurangi konsumsi daging) dan rajin berolah-raga.
Untuk meningkatkan daya tahan tubuh, pasien dapat juga mengkonsumsi Typhonium Plus - suatu ramuan herbal (100% NATURAL) yang mengandung ekstrak Typhonium Flagelliforme (tanaman Keladi Tikus) dan bahan alami lainnya tuk membantu detoxifikasi jaringan darah.
Ramuan ini mengandung Ribosome inacting protein (RIP), yang berfungsi menonaktifkan perkembangan sel tumor, merontokkan sel tumor tanpa merusak jaringan sekitarnya dan memblokir pertumbuhan sel tumor.




I.    DIAGNOSA KEPERAWATAN
Kemungkinan Diagnosa Yang muncul.
1.    Gangguan rasa nyaman ( Nyeri ) berhubungan dengan putaran tangkai tumor/ infeksi pada tumor.
2.    Gangguan rasa nyaman ( cemas ) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan penatalaksanaannya.
3.    Resiko infeksi daerah operasi berhubungan dengan perawatan luka operasi yg kurang adequat.
4.     Resiko gangguan BAB / BAK berhubungan dengan penekanan daerah sekitar tumor.
J.    Intervensi Keperawatan.
1.    Gangguan rasa nyaman ( Nyeri ) berhubungan dengan putaran tangkai tumor/ infeksi pada tumor
(Tujuan: Setelah diberi tindakan kepw,nyeri berkurang sampai hilang sama sekali)
a.    Kaji tingkat dan intensitas nyeri.
(R/ mengidentifikasi lingkup masalah)
b.    Atur posisi senyaman mungkin
(R/ Menurunkan tingkat ketegangan pada daerah nyeri)
c.     Kolabarasi untuk pemberian terapi analgesik.
(R/menghilangkan rasa nyeri)
d.     Ajarkan dan lakukan tehnik relaksasi.
(Merelaksasi otot – otot tubuh).
2.     Gangguan rasa nyaman ( cemas ) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan penatalaksanaannya.
(Tujuan : Setelah 1 X 24 Jam diberi tindakan, gangguan rasa nyaman (cemas) berkurang.
a.    Kaji  dan pantau terus tingkat kecemasan klien.
(R/ mengidentifikasi lingkup masalah secara dini, sebagai pedoman tindakan selanjutnya )
b.    Berikan penjelasan tentang semua permasalahan yang berkaitan dengan penyakitnya.
(R/ Informasi yang tepat menambah wawasan klien sehingga klien tahu tentang keadaan dirinya )
c.     Bina hubungan yang terapeutik dengan klien.
(R/ Hubungan yang terapeutuk dapat menurunkan tingkat kecemasan klien.
3.    Resiko infeksi daerah operasi berhubungan dengan perawatan luka operasi yg kurang adequat.
(Tujuan : Selama dalam perawatan, infeksi luka operasi tidak terjadi)
a.    Pantau dan observasi terus tentang keadaan luka operasinya
(R/ Deteksi dini tentang terjadinya infeksi yang lebih berat )
b.     Lakukan perawatan luka operasi secara aseptik dan antiseptik.
(R. menekan sekecil mungkin sumber penularan eksterna )
c.      Kolaborasi dalam pemberian antibiotika.
(Membunuh mikro organisme secara rasional )


DAFTAR PUSTAKA

http://kumpulanaskep2.blogspot.com/2010/05/laporan-pendahuluan-mioma-uteri.html
http://www.drdidispog.com/2008/11/mioma-uteri.html
http://tutorialkuliah.blogspot.com
http://agoesdoctor.blogspot.com/2010/08/mioma-uteri.html
http://irwanfarmasi.blogspot.com/2010/12/cystoma-ovarii.html
http://www.cancerhelps.com/kista.htm
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/105/jtptunimus-gdl-ariastuti0-5245-1-babi.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/2053/1/10E00541.pdf
http://www.scribd.com/doc/45187827/makalah-2



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar