Kamis, 06 Desember 2012

ABORTUS PROVOCATUS DAN HUKUM

Pendahuluan : Pengertian Abortus (aborsi).
Di kalangan ahli kedokteran dikenal dua macam abortus (keguguran kandungan) yakni abortus spontan dan abortus buatan. Abortus spontan adalah merupakan mekanisme alamiah yang menyebabkan terhentinya proses kehamilan sebelum berumur 28 minggu. Penyebabnya dapat oleh karena penyakit yang diderita si ibu ataupun sebab-sebab lain yang pada umumnya gerhubungan dengan kelainan pada sistem reproduksi. Lain halnya dengan abortus buatan, abortus dengan jenis ini merupakan suatu upaya yang disengaja untuk menghentikan proses kehamilan sebelum berumur 28 minggu, dimana janin (hasil konsepsi) yang dikeluarkan tidak bisa bertahan hidup di dunia luar.
Abortus buatan, jika ditinjau dari aspek hukum dapat digolongkan ke dalam dua golongan yakni :
1. Abortus buatan legal Yaitu pengguguran kandungan yang dilakukan menurut syarat dan cara-cara yang dibenarkan oleh undang-undang. Populer juga disebut dengan abortus provocatus therapcutius, karena alasan yang sangat mendasar untuk melakukannya adalah untuk menyelamatkan nyawa/menyembuhkan si ibu.
2. Abortus buatan illegal Yaitu pengguguran kandungan yang tujuannya selain dari pada untuk menyelamatkan/ menyembuhkan si ibu, dilakukan oleh tenaga yang tidak kompeten serta tidak memenuhi syarat dan cara-cara yang dibenarkan oleh undang-undang.
Abortus golongan ini sering juga disebut dengan abortus provocatus criminalis, karena di dalamnya mengandung unsur kriminal atau kejahatan. Secara skematis penggolongan abortus dapat digambarkan sebagai berikut.

B. Pandangan Umum Tentang Abortus Buatan
Para ahli dari berbagai disiplin ilmu seperti ahli agama, ahli hukum, sosial dan ekonomi memberikan pandangan yang berbeda terhadap dilakukannya abortus buatan. Ahli agama melihatnya dari kaca dosa dan mereka sepakat bahwa melakukan abortus buatan adalah perbuatan dosa. Begitu pula dengan ahli ekonomi, mereka sepakat bahwa alasan ekonomi tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan dilakukannya pengguguran kandungan.
Pada umumnya para ahli tersebut menentang dilakukannya abortus buatan meskipun jika berhadapan dengan masalah kesehatan (keselamatan nyawa ibu) mereka dapat memahami dilakukannya abortus buatan. Demikian halnya dengan negara-negara di dunia, pada umumnya setiap negara memiliki undang-undang yang melarang dilakukannya abortus buatan meskipun pelarangan tersebut tidak bersifat mutlak.
Kita lihat saja misalnya di negara Indonesia, dimana dalam Kitab Undang- Undang Hukum Pidana (KUHP) tindakan pengguguran kandungan yang disengaja
digolongkan ke dalam kejahatan terhadap nyawa (Bab XIX pasal 346 s/d 249). Namun dalam undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 Tentang kesehatan pada pasal 15 dinyatakan bahwa dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya, dapat dilakukan tindakan medis tertentu.
Dengan demikian jelas bagi kita bahwa melakukan abortus buatan dapat merupakan tindakan kejahatan, tetapi juga bisa merupakan tindakan ilegal yang dibenarkan undang-undang. Bagaimanakah abortus buatan legal dan ilegal, dikaitkan dengan proses pembuktiannya (penyidikan)?. Inilah yang menjadi pokok pembahasan dalam makalah ini.

C. Ketentuan-ketentuan Abortus Buatan Dalam Perundang-undangan.
Dalam KUHP Bab XIX Pasal 346 s/d 350 dinyatakan sebagai berikut : Pasal 346 : “Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun”. Pasal 347 : (1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. Pasal 348 : (1) Barang siapa dengan sengaja menggunakan atau mematikan kandungan seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan. (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. Pasal 349 : “Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan berdasarkan pasal 346, ataupun membantu melakukan salah satu kejahatan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat dditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencaharian dalam mana kejahatan dilakukan”.
Dari rumusan pasal-pasal tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa :
1. Seorang wanita hamil yang sengaja melakukan abortus atau ia menyuruh orang lain, diancam hukuman empat tahun penjara.
2. Seseorang yang sengaja melakukan abortus terhadap ibu hamil, dengan tanpa persetujuan ibu hamil tersebut, diancam hukuman penjara 12 tahun, dan jika ibu hamil tersebut mati, diancam 15 tahun penjara.
3. Jika dengan persetujuan ibu hamil, maka diancam hukuman 5,5 tahun penjara dan bila ibu hamilnya mati diancam hukuman 7 tahun penjara.
4. Jika yang melakukan dan atau membantu melakukan abortus tersebut seorang dokter, bidan atau juru obat (tenaga kesehatan) ancaman hukumannya ditambah sepertiganya dan hak untuk berpraktek dapat dicabut. Pasal 15 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 500.000.000 (lima ratus juta rupiah).
Pada penjelasan UU No.23 Tahun 1992 Pasal 15 dinyataka sebagai berikut : Ayat (1) : “Tindakan medis dalam bentuk pengguguran kandungan dengan alasan apapun, dilarang karena bertentangan dengan norma hukum, norma agama, norma kesusilaan dan norma kesopanan”. Namun dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu atau janin yang dikandungnya dapat diambil tindakan medis tertentu.
Ayat (2) Butir a : Indikasi medis adalah suatu kondisi yang benar-benar mengharuskan diambil tindakan medis tertentu, sebbab tanpa tindakan medis tertentu itu, ibu hamil dan janinnya terancam bahaya maut. Butir b : Tenaga kesehatan yang dapat melakukan tindakan medis tertentu adalah tenaga yang memiliki keahlian dan kewenangan untuk melakukannya, yaitu seorang dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan. Butir c : Hak utama untuk memberikan persetujuan ada pada ibu hamil yang bersangkutan, kecuali dalam keadaan tidak sadar atau tidak dapat memberikan persetujuannya, dapat diminta dari suami atau
keluarganya. Butir d : Sarana kesehatan tertentu adalah sarana kesehatan yang memiliki tenaga dan peralatan yang memadai untuk tindakan tersebut dan telah ditunjuk oleh pemerintah.
Ayat (3) : Dalam Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanaan dari pasal ini dijabarkan antara lain mengenal keadaan darurat dalam menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya, tenaga kesehaan mempunyai keahlian dan kewenagan bentuk persetujuan, sarana kesehatan yang ditunjuk.

D. Membedakan Abortus Buatan Legal dan Ilegal, Kaitannya Dengan proses
Pembuktian
Dari penjabaran di atas secara gamblang kita dapat membedakan antara abortus buatan legal dan ilegal. Abortus buatan legal, yaitu abortus buatan yang sesuai dengan ketentuanketentuan sebagaimana diatur dalam pasal 15 UU No.23 Tahun 1992 tentang kesehatan, yakni harus memenuhi anasir sebagai berikut :
a. Berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan tersebut;
b. Oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenagan;
c. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau keluarganya;
d. Pada sarana kesehatan tertentu.
Jika anasir-anasir tersebut tidak terpenuhi atau sebagian tidak terpenuhi, maka abortus yang dilakukan termasuk golongan abortus buatan ilegal. Persoalannya adalah bagaimanakah membuktikan bahwa anasir-anasir terpenuhi atau tidak?
Dalam praktek/kesehatan sangat sedikit sekali kasus-kasus abortus buatan yang sampai pada tahap penyidikan. Hal ini antara lain disebabkan karena pihak, baik ibu hamil maupun yang membantu melakukannya sebelumnya pasti sudah melakukan pemufakatan (jahat) untuk saling tidak melaporkan perbuatannya, karena pasti akan merugikan diri sendiri. Meskipun bukan delik aduan, tanpa laporan dari para pihak, aparat penyidik sangat sulit untuk mengetahui adanya praktek abortus buatan tersebut.
Untuk menambah pemahaman kita, berikut ini diskenariokan satu ilustrasi praktek abortus buatan ilegal : “Mona adalah pacar gelap seorang direktur Bank Pemerintah. Setelah berhubungan lebih kurang satu tehun, ternyata Mona hamil, dan ia memberitahu Bankir tersebut atas kehamilannya. Bankir terperanjat dan dicekam rasa kekhawatiran yang teramat sangat, takut jika rahasianya terbongkar dan akan mengancam kariernya. Dengan modus bujukan, dirayunyalah si Mona agar mau menggugurkan kandungannya, tetapi Mona menolak mentah-mentah bujukan tersebut. Bankir panik, dan segala kecemasannnya akhirnya ia minta bantuan seorang dokter kebidanan dan kandungan, untuk membantunya melakukan aborsi pada Mona. Dokter tersebut memberikan semacam obat, dan dengan alasan untuk meningkatkan stamina agar kehamilan Mona terjaga, obat tersebut diminumkannya kepada Mona. Selang beberapa hari terjadilah pendarahan, dan si Bankir membawa Mona ke Klinik Dokter Kebidanan untuk pura-pura minta pertolongan.
Dokter menjelaskan bahwa kehamilan Mona tidak bisa dipertahankan, dan harus dilakukan kuretase (pengeluaran janin). Mona terkejut, kenapa harus secepat itu dilakukan kuretase, padahal pendarahannya hanya sedikit. Tanpa bisa melakukan perlawanan, Mona pasrah dilakukannya kuretase meskipun dalam hati kecilnya rencana untuk menjebak Bankir jadi suaminya terancam gagal.
Setelah Mona sembuh, iapun melaporkan kejadian tersebut ke Kantor Polisi, dengan isi laporan bahwa suaminya dengan bantuan seorang dokter kebidanan telah melakukan aborsi atas kehamilannya. Polisi pun melakukan penyelidikan dan dilanjutkan ke tahap penyidikan.
Pada saat polisi mengumpulkan alat bukti, polisi mendapatkan catatan medis Mona berisi bahwa Mona mengalami pendarahan hebat dan akan mengancam jiwanya, sehingga dengan persetujuan Mona dan (suaminya) dokter melakukan kuretase.
Dokumen catatan medik lengkap, bukti persetujuan Mona ada, lalu Polisi menginterogasi dokter kebidanan, dan dokter tersebut bersikukuh bahwa ia harus menyelamatkan jiwa Mona dan menurutnya perbuatannya tersebut sudah sesuai dengan Sumpah Profesi dan Kode Etiknya.
Pertanyannya adalah : Dapatkah anda membayangkan bagaimana upaya Polisi untuk pembuktian kasus tersebut?
Dalam ilustrasi di atas, Mona adalah wanita pemberani yang mau melaporkan aibnya kepada pihak berwajib, lalu bagaimana kalau Mona tidak melaporkannya sama sekali. Seandainya pun ada saksi lain, misalnya pembantu Mona, ia pasti akan banyak tahu tentang ulah majikannya tersebut, karena halnya sangat pribadi dan berjalannya begitu cepat. Berbeda misalnya dengan kasusu penganiayaan, mungkin si pembantu bisa mengetahui ada pertengkaran (terdengar) dan mungkin saja ada bekas tamparan di wajah Mona.
Meskipun tidak mencantumkan angka statistik, penulis yakin bahwa angka kejadian Abortus Buatan Ilegal ini sangat tinggi, dengan asumsi bahwa banyak peristiwa seperti yang dialami Mona pada kasus di atas. Belum lagi jika dikaitkan dengan tekanan ekonomi, sosial dan sebagainya.

E. Upaya Mengurangi Abortus Buatan Ilegal Di Kalangan Tenaga Kesehatan
Para dokter dan tenaga medis lainnya, hendaklah selalu menjaga sumpah profesi dan kode etiknya dalam melakukan pekerjaan. Jika hal ini secara konsekwen dilakukan pengurangan kejadian abortus buatan ilegal akan secara signifikan dapat dikurangi.
Dalam deklarasi Oslo (1970) tentang pengguguran kandungan atas indikasi medik, disebutkan bahwa moral dasar yang dijiwai seorang dokter adalah butir Lafal Sumpah Dokter yang berbunyi : ”Saya akan menghormati hidup insani sejak saat pembuahan : oleh karena itu Abortus buatan dengan indikasi medik,
hanya dapat dilakukan dengan syarat-syarat berikut”:

Untuk mengakses dan mendownload tugas kuliah ini selengkapnya anda harus berstatus Paid Member


Selasa, 13 November 2012

SURAT LAMARAN PEKERJAAN VERSI INGGRIS


CONTOH 1
                                                                                                                            Jakarta, May 29th 2012

Attention To:
Human Resources Department
PT. Kopi Kadal Adi
Jl. Moh Hatta no. 45
Jakarta

Dear Sir/Madam,
Having known about a job vacancy advertised on Media Indonesia, 25th May, 2012, I am interested
in the position of Account Executive (AE).
I am a 23 year old male, graduated from a reputable university, having skill in English, both written
and spoken and also operating computer. I am a hard worker, able to work in individual and in
team.

I would gladly welcome an opportunity to have an interview with you at your convenience. I hope
my skills can be one of your company's assest. I am looking forward to hearing from you in the near
future. Thank you for your consideration and attention.
Sincerely yours,

Aang Hermansyah

Enclosures :
- Curriculum Vitae
- Copy of ID Card
- Popy of Final Certificate
- Photo



Tangerang, November 14, 2012
Attention To:
Mr. Imantoro
Human Resources Department
PT. Persada Bumida Terpadu
Jl. Raya Sukamaju No. 11
Tangerang

Dear Sir,
On this good opportunity, I would like to apply as a Instrumentation and Control System Engineer in your company. My name is Dias Farhan, 22 years old, male, single, energetic and healthy. I am a Control System Engineer and graduated from Suryadarma University (UNSURYA) on May 2007 with GPA 3.78. I would like to have career to expand my experience.
My personality as a hard worker and fast learner type of person would bring benefit to your company. I will be very appreciated if you could give in opportunity to work in your company.
Herewith I enclose my curriculum vitae, which will give details of my qualification.
I hope my qualifications and experience merit your consideration and look forward to your reply.

Sincerely yours,



Dias Farhan
Phone : 021 - 5758243
Jl. Melati No.23
Tangerang - 15712

Contoh ke 2.
Bogor, November 14, 2012
Attention To:
Human Resources Department
Yayasan KPT
Jl. Raya Bumi Sentoda No. 5
Cibinong

Dear Sir/Madam,
Having known about a vacancy advertised on Kompas, November 12, 2012, I am interested in the position of Account Executive (AE).
I am a 26 year old male, graduated from a reputable university, having skill in English, both written and oral and also operating computer. I am a hard worker, able to work in individual and in team.
I would gladly welcome an opportunity to have an interview with you at your convenience. I hope my skills can be one of your company's assest. I am looking forward to hearing from you in the near future. Thank you for your consideration and attention.

Sincerely yours,



Asep Catur Putra

Enclosures :
- copy of ID Card
- copy of Final Certificate
- photo
- Curriculum Vitae

Contoh ke 3.
Jakarta, November 14, 2012
Attention To:
Sukarmadi
Resources Manager
PT. Gilang Persada Bumi
Jl. Cendrawasih No. 45
Jakarta Pusat


Dear Mr. Sukarmadi,
I wish to apply for the position of Accounting Staff that was advertised on Tempo, November 12, 2012.
I have over one year experience as an Accounting with PT. Rizky Finance and have experience of a wide variety of pattern techniques. My computer skills are very good, and I have an excellent record as a reliable, productive employee.
I am looking for new challenges and the posistion of Accounting Staff sounds the perfect opportunity. Your organisation has an enviable record innovation in investor financial cosultant, and an excellent reputation as an employer, making the position even more attractive.
I enclose my CV for your inspection and look forward to hearing from you soon. I am available for interview at your convenience

Sincerely yours,



Pujiwati Martani

Contoh ke 4.
Bekasi, April 7th, 2007
Attention To:
HRD Manager
PT. Pranata Informatindo
Jl. Raya Sudirman No. 17
Bekasi


Dear Sir/Madam,
I have read from your advertisement at Republika that your company is looking for employees to hold some position. Based on the advertisement, I am interested in applying application for Engineer position according with my background educational as Engineering Physics.
My name is Iswandi Lubis, I am twenty three years old. I have graduated from Engineering Physics Department ISTN on March 2007. My specialization in Engineering Physics is Instrumentation and Control specialist. I consider myself that I have qualifications as you want. I have good motivation for progress and growing, eager to learn, and can work with a team (team work) or by myself. Beside that I posses adequate computer skill and have good command in English (oral and written).
With my qualifications, I confident that I will be able to contribute effectively to your company. Herewith I enclose my :
1. Copy of Bachelor Degree (S-1) Certificate and Academic Transcript.
2. Curriculum Vitae.
3. Copy of Job Training Certificate from Unocal Indonesia Company.
4. Recent photograph with size of 4x6
I would express my gratitude for your attention and I hope I could follow your recruitment test luckily.

Sincerely,



Iswandi Lubis

Contoh ke 5.
Jl. Raya Flamboyan 21
Bojong Depok Baru 2
Cibinong 16914
Phone : 021 - 87903802

June 11th, 2007
Attention To:
Mr. Haryono Sujatmiko
PT. Bumi Sentosa Damai
Jl. Garuda No. 33
Bogor


Dear Mr. Sujatmiko,
I am a graduate student in Computer Science at Indonesia University, and I will be awarded an M.S. degree in July 2007. I am currently looking for a position related to Database/Graphics Package Design in the research and development department of a major company.
Before coming to Indonesia University, I designed, supervised, and completed a CAD system. The function covers vector, character and curve generation, windowing, shading, and transformations.
At Indonesia University, my research work involves Compilation of Relational Queries into Network DML. To enhance my background, I have taken some courses in computer graphics and database, and I have experience in and an understanding of the design of databases. With this b background, I certainly believe that I am competent to meet challenging tasks and can make a good contribution to your company.
Enclosed is my resume, which indicates in some detail my training and experience. I sincerely hope that my qualifications are of interest to you and that an interview might be arranged at your convenience.
Thank you for your consideration. I look forward to hearing from you soon.

Sincerely yours,



Putri Puji Lestari

MULTI MEDIA DALAM PEMBELAJARAN

Pendahuluan

Dewasa ini pendidikan tidak bisa terlepaskan dari perkembangan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Sekolah- sekolah, lembaga-lembaga pendidikan baik Negeri maupun suwasta dari tingkat sekolah dasar sampai pertguruan tinggi berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan IT di sekolah maupun lembaga yang ada di lingkunganya.
      Proses belajar mengajar  (PBM) seringkali dihadapkan pada materi-materi pembelajaran yang abstrak dan diluar pengalaman dan pengetahuan siswa. Akibatnya dapat ditebak bukan ? materi pembelajaran menjadi sulit diajarkan oleh guru dan demikian pula materi menjadi semakin sulit diterima oleh siswa. Untuk menjawab problematika yang dihadapi baik oleh guru maupun siswa, maka harus ada solusi yang tepat cepat dan mudah terjangkau yaitu dengan cara Visulisasi agar pembelajaran lebih bermagna dan yang abstark menjadi kongkirit. Pada pendidikan yunani kuno maka bila kita akan belajar tentang sapi maka hendaknya sapi harus dibawah masuk dalam kelas. Bagaimana kalau seorang guru ingin menyampaikan pembelajaran tentang gunung, laut, hutan, apakah harus pergi ketempat-tempat tersebut? Sekarang dengan gambar dua dimensi atau tiga dimensi bahkan dengan perkembangan ICT berkembang dalam bentuk gambar bergerak animasi yang dapat ditambahkan dengan suara (audio).Tentu saja sajian audio visual atau sering disebut dengan sebutan multimedia menjadikan visualisasi lebih menarik. Tentu saja tidak hanya hal yang penulis sampaikan menjadi hal satu-satunya yang menjadikan pembelajaran menjadi menarik dan menantang serta menggairahkan.
      Kita sudah dapat membayangkan, bila sekolah kita dimana kita mengapdikan diri dibidang pendidikan , sudah terpenuhi sarana dan prasarana yang diinginkan seperti yang tertulis di atas, maka saatnyalah Bapak Ibu guru menjadikan pembelajaran berlangsung menjadi menawan, siswa bersemangat untuk datang ke sekolah menimba ilmu dari guru yang inovatif dengan pembelajaran yang baik. Sudah berapa kali kita mengikuti kegiatan-kegiatan yang bersifat pengembangan diri dalam rangka mencapai hasil yang maksimal untuk siswa-siswi kita, baik melalui whorkshop, penataran, pelatihan, konggres dan sebagainya. Semua yang telah kita lakukan tersebut sangat sulit dikembangkan bila tidak didukung dengan sarana dan prasarana pembelajaran yang memadahi dimana salah satu perangkat tersebut adalah computer.
     
1.Fungsi Media Pembelajaran.
Fungsi media memiliki multi makna, baik dilihat secara terbatas maupun secara luas. Bila ada beda pendapat tentang fungsi media ini hal ini disebabkan adanya perbedaan dalam sudut pandang, maksud, dan tujuannya. AECT (Association for Education and Communicatian Technology) dalam Harsoyo (2002) memaknai media sebagai segala bentuk yang dimanfaatkan dalam proses penyaluran informasi. NEA (National Education Association) memaknai media sebagai segala benda yang dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca, atau dibincangkan beserta instrumen yang digunakan untuk kegiatan tersebut. Raharjo (1991) menyimpulkan beberapa pandangan tentang media, yaitu Gagne yang menempatkan media sebagai komponen sumber, mendefinisikan media sebagai “komponen sumber belajar di lingkungan peserta didik yang dapat merangsangnya untuk belajar.” Briggs berpendapat bahwa media harus didukung sesuatu untuk mengkomunikasikan materi (pesan kurikuler) supaya terjadi proses belajar, yang mendefinisikan media sebagai wahana fisik yang mengandung materi instruksional. Wilbur Schramm mencermati pemanfaatan media sebagai suatu teknik untuk menyampaikan pesan, di mana ia mendefinisikan media sebagai teknologi pembawa informasi/pesan instruksional. Yusuf hadi Miarso memandang media secara luas/makro dalam sistem pendidikan sehingga mendefinisikan media adalah segala sesuatu yang dapat merangsang terjadinya proses belajar pada diri peserta didik
Harsoyo (2002) menyatakan bahwa banyak orang membedakan pengertian media dan alat peraga. Namun tidak sedikit yang menggunakan kedua istilah itu secara bergantian untuk menunjuk alat atau benda yang sama (interchangeable). Perbedaan media dengan alat peraga terletak pada fungsinya dan bukan pada substansinya. Suatu sumber belajar disebut alat peraga bila hanya berfungsi sebagai alat bantu pembelajaran saja; dan sumber belajar disebut media bila merupakan bagian integral dari seluruh proses atau kegiatan pembelajaran dan ada semacam pembagian tanggungjawab antara guru di satu sisi dan sumber lain (media) di sisi lain.
Rahardjo (1991) menyatakan bahwa media dalam arti yang terbatas, yaitu sebagai alat bantu pembelajaran. Hal ini berarti media sebagai alat bantu yang digunakan guru untuk:
memotivasi belajar peserta didik memperjelas informasi/pesan pengajaran memberi tekanan pada bagian-bagian yang penting   memberi variasi pengajaran memperjelas struktur pengajaran.
Di sini media memiliki fungsi yang jelas yaitu memperjelas, memudahkan dan membuat menarik pesan kurikulum yang akan disampaikan oleh guru kepada peserta didik sehingga dapat memotivasi belajarnya dan mengefisienkan proses belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan belajar mengajar akan lebih efektif dan mudah bila dibantu dengan sarana visual, di mana 11% dari yang dipelajari terjadi lewat indera pendengaran, sedangkan 83% lewat indera penglihatan. Di samping itu dikemukakan bahwa kita hanya dapat mengingat 20% dari apa yang kita dengar, namun dapat mengingat 50% dari apa yang dilihat dan didengar.



  2.     Kemampuan media sebagai alat bantu kegiatan pembelajaran
     
            Sejauh mana sebetulnya kemampuan media bisa mempengaruhi sebuah proses belajar mengajar. Rahardjo (1991) menguraikan dengan berangkat dari teori belajar diketahui bahwa hakekat belajar adalah interaksi antara peserta didik yang belajara dengan sumber-sumber belajar di sekitarnya yang memungkinkan terjadinya perubahan perilaku belajar dari tidak tahu menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa dan sebagainya. Sumber belajar sangat banyak bahkan dapat dikatakan dimanapun kita berada maka kita dapat menemukan sumber belajar seperti : lingkungan, bahan, alat, teknik, dan sumber belajar manusia itu sendiri.Proses belajar  dipengaruhi dua hal kelompok besar yaitu factor internal seperti sikap, pola pikir, pola asuh masa kecil, persaan senang atau sebaliknya, pengalaman masa lalu, pandangan hidup dan lain sebagainya. Faktor eksternal merupakan rangsangan dari luar diri peserta didik melalui indera yang dimilikinya,baik itu pendengaran atau penglihatan.
Media pembelajaran sebagai faktor eksternal dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi belajar karena mempunyai potensi atau kemampuan untuk merangsang terjadinya proses belajar yang lebih menarik, nyata,merangsang peserta didik untuk lebih memperhatikan.Misalnya menghadirkan obyek langka, penyajian menggunakan LCD, film pendidikan, pembelajaran luar kelas, kunjungan langsung ke sumber belajar (berkunjung ke pabrik tahu, ke penangkaran buaya)
Edgar Dale dalam Rahardjo (1991) menggambarkan pentingya visualisasi dan verbalistis dalam pengalaman belajar yang disebut “Kerucut pengalaman Edgar Dale” dikemukakan bahwa ada suatu kontinuum dari konkrit ke abstrak antara pengalaman langsung, visual dan verbal dalam menanamkan suatu konsep atau pengertian. Semakin konkrit pengalaman yang diberikan akan lebih menjamin terjadinya proses belajar. Yang harus menjadi perhatian serius adalah bahwa visulisasi dan verbalitas harus tetap memperhatikan usia peserta didik, pengalaman peserta didik, dan kemampuan dari pengajar itu sendiri. Banyak hal menjadi gagal karena kurang siapnya sumber daya mansianya. Apalah artinya sebuah alat yang canggih namun tidak ada yang mampu mengoperasikan dengan baik dan benar.
Seacara umum dapat dipastikan bahwa visualisasi dapat membantu mempermudah seseorang untuk memahami dari sebuah proses membelajaran,menjadikan orang mudah memahami suatu masalah, meningkatkan daya ingat. Sebuah pemeo mengatakan bahwa sebuah gambar “berbicara“ seribu kali dari yang dibicarakan melalui kata-kata (a picture is worth a thousand words). Hal ini tidaklah berlebihan karena sebuah durian “monthong” atau gambarnya akan lebih menjelaskan barangnya (atau pengertiannya) daripada definisi atau penjelasan dengan seribu kata kepada orang yang belum pernah mengenalnya. Salah satu dari sarana visual yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar tersebut adalah OHT atau “overhead transparency.“ Sarana visual seperti OHT ini bila digarap dengan baik dan benar. Di samping dapat mempermudah pemahaman konsep dan daya serap belajar siswa, juga membantu pengajar untuk menyajikan materi secara terarah, bersistem dan menarik sehingga tujuan belajar dapat tercapai. Inilah manfaat yang harus dioptimalkan dalam pembuatan rancangan media seperti OHT ini.


3.Jenis-jenis media

Pengaruh perkembangan globalisasi di dunia pendidikan tidak bisa dihindari lagi,. Demikian pula dengan media pembelajaran, yang merupakan salah satu sarana pembelajaran. Media dapat kita peroleh kapanpun, salah stunya dapat diperoleh dari internet. media cukup banyak macamnya, Raharjo (1991) menyatakan bahwa ada media yang hanya dapat dimanfaatkan bila ada alat untuk menampilkanya. Ada pula yang penggunaannya tergantung pada hadirnya seorang guru, tutor atau pembimbing (teacher independent). Media yang tidak harus tergantung pada hadirnya guru lazim tersebut media instruksional dan bersifat “self Contained”, maknanya: informasi belajar, contoh, tugas dan latihan serta umpan balik yang diperlakukan telah diprogramkan secara terintegrasi. Hal tersebut harus didukung oleh ketrampilan guru dalam mempersiapkan PBM (Proses Belajar  Mengajar), guru yang inovetif akan menyiapkan segala sesutu yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar dengan profesional termasuk hal-hal yang berhubungan dengan media pembelajaran.
Dari berbagai ragam dan bentuk dari media pengajaran, pengelompokan atas media dan sumber belajar ekonomi dapat juga ditinjau dari jenisnya, yaitu dibedakan menjadi media audio, media visual, media audio-visual, dan media serba neka.
1.Media Audio : radio, piringan hitam, pita audio, tape recorder, dan telepon .
2. Media Visual :
a. Media visual diam : foto, buku, ansiklopedia, majalah, surat kabar, buku referensi dan barang hasil cetakan lain, gambar, ilustrasi, kliping, film bingkai/slide, film rangkai (film stip) , transparansi, mikrofis, overhead proyektor, grafik, bagan, diagram, sketsa, poster, gambar kartun, peta, dan globe.
b.  Media visual gerak : film bisu, pantomim.
       3. Media Audiovisual.
           a. Media audiovisual diam : televisi diam, slide dan suara, film rangkai dan
               suara , buku dan suara.
b. Media audiovisual gerak : video, CD, film rangkai dan suara, televisi,
    gambar dan suara.
       4. Media Serba aneka :
a.    Papan dan display : papan tulis, papan pamer/pengumuman/majalah
     dinding, papan magnetic, white board, mesin pangganda.
            b. Media tiga dimensi : realia, sampel, artifact, model, diorama, display.
            c.  Media teknik dramatisasi : drama, pantomim, bermain peran, demonstrasi,
     pawai/karnaval, pedalangan/panggung boneka, simulasi.
           d. Sumber belajar pada masyarakat : kerja lapangan, studi wisata, perkemahan.
            e. Belajar terprogram
            f.  Komputer
            g. Internet.



4.Pemilihan Media
Dalam pemilihan media seorang pendidik diharapakan pandai-pandai memilih dan memilah media yang akan digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Media pembelajaran yang akan digunakan harus menyesuaikan dengan umur siswa, keadaan siswa, situasi lingkunan belajar siswa, kemampuan siswa, dan waktu yang tepat.
Tiap jenis media mempunyai karakteristik atau sifat-sifat khas tersendiri. Artinya mempunyai kelebihan dan kekurangan satu terhadap yang lain .

Sifat-sifat yang biasanya dipakai untuk menentukan kesesuaian penggunaan atau pemilihan media ialah:

Jangkauan: Beberapa media tertentu lebih sesuai untuk pengajaran individual misalnya buku teks, modul, program rekaman interaktif (audio, video, dan program computer). Jenis yang lain lebih sesuai untuk pengajaran kelompok di kelas, misalnya media proyeksi (OHT, Slide, Film) dan juga program rekaman (audio dan video). Ada juga yang lebih sesuai untuk pengajaran massal , misalnya program siaran ( radio, televisi, dankonferensi jarak jauh dengan audio).
Keluwesan : Dari segi keluwesan, media ada yang praktis mudah dibawa kemana-mana , digunakan kapan saja, dan oleh siapa saja, misalnya media cetak seperti buku teks , modul , diktat,majalah, koran, jurnal.
Ketergantungan: Beberapa media tergantung pemakaianya pada sarana/fasilitas tertentu atau hadirnya seorang penyaji/guru.
Kendali / control : Kadang-kadang dirasa perlu agar control belajar ada pada peserta didik sendiri ( pelajar individu), pada guru ( pelajaran klasikal ) , atau peralatan.
Atribut. : Penggunaan media juga dapat dirasakan pada kemampuanya memberikan rangsangan suara, visual, warna maupun gerak.
Biaya : Alasan lain untuk menggunakan jenis media tertentu ialah karena murah biaya pengadaan atau pembuatanya.


Sebagai Contoh :
Media transparansi (OHT ) adalah sarana visual berupa huruf , lambang, gambar, grafis maupun gabungannya yang dibuat pada bahan tembus pandang atau transparan untuk diproyeksikan pada sebuah layar atau dinding dengan menggunakan alat yang disebut “overhead projector “ atau OHP. Sebagaimana halnya dengan semua jenis media proyeksi , OHT mempunyai kemampuan untuk membesarkan bayanganya di layar atau didinding sejauh kekuatan lensa dan sinar proyeksinya dapat mendukung . Oleh sebab itu , OHT sangat sesuai untuk kegiatan seminar, lokakarya, pengajaran maupun latihan yang melibatkan kelompok sasaran yang cukup besarnya sampai efektif 60 orang. Selebihnya mungkin perlu ditunjang dengan sarana “sound system“ yang memadai karena keterbatasan jangkauan suara pengajar. Untuk dapat menggarap maupun memanfaatkan media ini sebaiknya kita harus mengenal karakteristiksnya. Media OHT mempunyai kelebihan- kelebihan dan kelemahan- kelemahan yang harus diperhitungkan dalam perencanaannya.

5.Dampak perubahan media komunikasi pada media pembelajaran
Dampak perubahan media komunikasi pada media pembelajaran sangat berfariasi, karena dampak dari media pembelajaran tersebut sangat dipengaruhi oleh banyak hal diantaranya : 1. Sarana dan prasarana media yang digunakan 2. Letak geografis dari daerah pembelajaran. 3. Keadaan lingkungan. 4. Kemampuan sumber daya manusia pelakunya 5. Kesiapan siswa dalam menerima media pembelajaran. Nasution (1987) menguraikan bahwa perkembangan media komunikasi mengalami kemajuan yang sangat pesat akhir-akhir ini. Hal ini diawali dari penemuan alat cetak oleh Guntenberg pada abad ke lima belas tentang buku yang ditulis yang melahirkan buku-buku cetakan. Penemuan fotografi mempercepat cara illustrasi. Lahirnya gambar hidup memungkinkan kita melihat dalam “slow motion“ apa yang dahulu tak pernah dapat kita amati dengan teliti . Rekaman memungkinkan kita mengulangi dan dapat melihat kembali secara detail tentang kejadian yang telah berlalu. Contoh dengan rekaman secara amatir maka kita bisa melihat bagaimana targedi 25 Desember 2004 “Tsunami di Aceh” kita bisa menikmati lagu-lagu yang dibawakan oleh orkes-orkes terkenal. Radio dan televisi menambah dimensi baru kepada media komunikasi. Internet membuat manusia dengan cepat dapat mengakses ilmu dan pengetahuan apapun dengan cepat dan akurat, dan dengan waktu yang sangat cepat. Video, recorder memungkinkan kita merekam program TV yang dapat kita lihat kembali. Kemampuan membuat kertas secara masinal membawa revolusi dalam media komunikasi dengan penerbitan surat kabar dan majalah dalam jumlah jutaan rupiah tiap hari.
Komputer membuka kesempatan yang tak terbatas untuk menyimpan data dan digunakan setiap waktu diperlukan.Para pendidik segera melihat manfaat kemajuan dalam media komunikasi itu bagi pendidikan. Buku sampai sekarang masih memegang peranan yang penting sekali dan mungkin akan masih demikian halnya dalam waktu yang lama. Namun ada yang optimis yang meramalkan bahwa dalam waktu dekat semua aspek kurikulum akan di-komputer-kan .Memang kemampuan komputer sungguh luar biasa . Kita menyadari bersama pemakaian komputer belum merata baik dari segi kemampuan maupun pengadaan. Namun ramalan bahwa seluruh kurikulum akan di-komputer-kan dalam waktu dekat rasanya masih terlampau optimis . Sewaktu gambar hidup ditemukan oleh Thomas Alva Edison pada tahun 1913 telah diramalkan bahwa buku-buku segera akan digantikan oleh gambar hidup dan seluruh pengajaran akan dilakukan tidak lagi melalui pendengaran akan tetapi melalui penglihatan. Namun tak dapat disangkal faedah berbagai media komunikasi bagi pendidikan.Ada yang berpendapat bahwa banyak dari apa yang diketahui anak pada zaman modern ini diperolehnya melalui radio, film, apalagi melalui televisi,  melalui media massa. Dampak dari itu semua tidak semuanya baik namun juga tidak semuanya buruk Banyak perilaku yang menyimpang setelah masuknya pengaruh media komunikasi khususnya pengaruh internet. Cara-cara untuk menyampaikan sesuatu melalui TV misalnya yang disajikan dengan bantuan para ahli media massa jauh lebih bermutu dari pelajaran yang diberikan oleh guru dalam kelas .
Penggunaan alat media dalam pendidikan melalui dengan gerakan “audio-visual aids“ pada tahun 1920-an di Amerika Serikat. Sebagai “aids“ alat-alat itu dipandang sebagai pembantu guru dalam mengajar, sebagai ekstra atau tambahan yang dapat digunakan oleh guru bila dikehendakinya. Namun pada tahun 1960-an timbul pikiran baru tentang penggunaannya, yang dirintis oleh Skinner dengan penemuannya “ programmed instruction“ atau pengajaran berprograma. Dengan alat ini anak dapat belajar secara individual. Jadi alat ini bukan lagi sekedar alat bantuan tambahan akan tetapi sesuatu yang digunakan oleh anak dalam proses belajarnya. Belajar beprograma mempunyai pengaruh yang besar sekali pada perkembangan teknologi pebdidikan. Di Amerika Serikat teknologi pendidikan dipandang sebagai media yang lahir dari revolusi media komunikasi yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan pendidikan di samping, guru, buku, dan papan tulis. Di Inggris teknologi pendidikan dipandang sebagai pengembangan, penerapan, dan sistem evaluasi, teknik dan alat-alat pendidikan untuk memperbaiki proses belajar.
Teknologi pendidikan adalah pendekatan yang sistematis terhadap pendidikan dan latihan, yakni sistematis dalam perumusan tujuan, analisis dan sintesis yang tajam tentang proses belajar mengajar. Teknologi pendidikan adalah pendekatan “problem solving“ tentang pendidikan. Namun kita masih sedikit tahu apa sebenarnya mendidik dan mengajar itu.Teknologi pendidikan bukanlah terutama mengenai alat audio-visual, komputer, dan internet. Walaupun alat audio-visual telah jauh perkembangannya, dalam kenyataan alat-alat ini masih terlampau sedikit dimanfaatkaan. Pengajaran masih banyak dilakukan secara lisan tanpa alat audio-visual, komputer, internet walaupun tersedia. Dapat dirasakan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam menjalankan resource-based learning “atau belajar dengan menghadap anak-anak langsung dengan berbagai sumber, seperti buku dalam perpustakaan, alat audio-visual, komputer, internet dan sumber lainya. Kesulitan juga akan dihadapi dalam pengadminitrasiannya. Ciri-ciri belajar berdasarkan sumber, diantaranya (1) Belajar berdasarkan sumber (BBS ) memanfaatkan sepenuhnya segala sumber informasi sebagai sumber bagi pelajaran termasuk alat-alat audio visual dan memberikan kesempatan untuk merencanakan kegiatan belajar dengan mempertimbangkan sumber-sumber yang tersedia . Ini tidak berarti bahwa pengajaran berbentuk ceramah ditiadakan. Ini berari bahwa dapat digunakan segala macam metode yang dianggap paling serasi untuk tujuan tertentu. (2) BBS (Belajar Berdasarkan Sumber) berusaha memberi pengertian kepada murid tentang luas dan aneka ragamnya sumber-sumber informasi yang dapat dimanfaatkan untuk belajar. Sumber-sumber itu berupa sumber dari masyarakat dan lingkungan berupa manusia, museum, organisaisi, dan lain-lain bahan cetakan, perpustakaan, alat, audio-visual ,dan sebagainya. Mereka harus diajarkan teknik melakukan kerja-lapangan, menggunakan perpustakaan, buku referensi, komputer dan internet sehingga mereka lebih percaya akan diri sendiri dalam belajar. Dengan penuh harapan dan semangat  kita wujudkan hasil pendidikan yang telah diamanahkan dalam UUD 1945







Allen mengemukakan tentang hubungan antara media dengan tujuan pembelajaran, sebagaimana terlihat dalam tabel di bawah ini :
Jenis Media    1    2    3    4    5    6
Gambar Diam    S    T    S    S    R    R
Gambar Hidup    S    T    T    T    S    S
Televisi    S    S    T    S    R    S
Obyek Tiga Dimensi    R    T    R    R    R    R
Rekaman Audio    S    R    R    S    R    S
Programmed Instruction    S    S    S    T    R    S
Demonstrasi    R    S    R    T    S    S
Buku teks tercetak    S    R    S    S    R    S
Keterangan :
R = Rendah S = Sedang T= Tinggi
1 = Belajar Informasi faktual
2 = Belajar pengenalan visual
3 = Belajar prinsip, konsep dan aturan
4 = Prosedur belajar
5= Penyampaian keterampilan persepsi motorik
6 = Mengembangkan sikap, opini dan motivasi
Kriteria yang paling utama dalam pemilihan media bahwa media harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai. Contoh : bila tujuan atau kompetensi peserta didik bersifat menghafalkan kata-kata tentunya media audio yang tepat untuk digunakan. Jika tujuan atau kompetensi yang dicapai bersifat memahami isi bacaan maka media cetak yang lebih tepat digunakan. Kalau tujuan pembelajaran bersifat motorik (gerak dan aktivitas), maka media film dan video bisa digunakan. Di samping itu, terdapat kriteria lainnya yang bersifat melengkapi (komplementer), seperti: biaya, ketepatgunaan; keadaan peserta didik; ketersediaan; dan mutu teknis.

METODE PENGAJARAN

1.    Metode Kerja kelompok
Cara mengajar , dimana peserta didik  didalam kelas dipandang sebagai suatu kelompok atau dibagi menjadi beberapa kelompok

Adapun pengelompokkan itu berdasarkan :
    Adanya alat peraga  yang tidak mencukupi jumlahnya
    Kemampuan  belajar peserta didik
    Minat Khusus
    Memperbesar partisipasi peserta didik
    Pembagian tugas atau pekerjaan
    Kerjasama yang efektif

Keuntungan  penggunaan metode kelompok :
    Dapat memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menggunakan keterampilan bertanya dan membahas sesuatu masalah
    Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan keterampilan berdiskusi
    Dapat memberikan kesempatan pada para peserta didik untuk lebih intensif mengadakan penyelidikan mengenai suatu kasus
    Para peserta didik lebih aktif tergabung dalam pelajaran mereka dan mereka lebih aktif partisipasi dalam diskusi
    Dapat memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk mengembangkan  rasa menghargai pendapat orang lain

Kekurangan metode ini adalah :
    Kerja kelompok sering kali hanya melibatkan kepada peserta didik yang mampu sebab mereka cakap memimpin dan mengarahkan yang kurang
    Strategi ini kadang-kadang menuntut pengaturan tempat duduk yang berbeda-beda dan gaya mengajar yang berbeda pula
    Keberhasilan kerja kelompok ini tergantung kepada kemampuan peserta didik memimpin kelompok atau untuk  bekerja sendiri
2.    Metode Penemuan ( Discovery)
Proses mental dimana peserta didik mampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip. Yang dimaksud dengan proses mental adalah mengamati, mencerna, mengerti, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan.

Kelebihan metode discovery adalah :
    Mampu membantu peserta didik untuk mengembangkan, memperbanyak kesiapan , serta penguasaan  keterampilan dalam proses kognitif/pengenalan peserta didik
    Dapat membangkitkan kegairahan belajar para peserta didik
    Mampu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berkembang dan maju sesuai dengan  kemampuannya masing-masing
    Mampu mengarahkan cara peserta didik belajar , sehingga lebih memiliki motivasi yang kuat untuk belajar giat
    Membantu peserta didik untuk memperkuat  dan menambah kepercayaan pada diri sendiri dengan proses penemuan sendiri
    Berpusat pada peserta didik tidak pada pendidik

Kelemahan metode penemuan ini adalah :
    Peserta didik harus ada kesiapan dan kematangan mental
    Bila kelas terlalu besar penggunaan tehnik ini kurang berhasil
    Bagi pendidik dan peserta didik yangsudah biasa dengan perencanaan dan pengajaran tradisional mungkin akan sangat kecewa bila diganti dengan metode ini
    Proses mental terlalu mementingkan proses pengertian saja , kurang memperhatikan  perkembangan / pembentukan sikap dan keterampilann nagi peserta didik
    Tidak memberikan kesempatan untuk berpikir secara kreatif

3.    Unit Teaching
Tehnik ini memberi kesempatan peserta didik belajar secara aktif dan pendidik dapat mengenal dan menguasai cara belajar secara unit.
Pengajaran unti ini ada 3 fase :
    Fase perencanaan/permulaan
o    Pendidik membagi kelas ke beberapa kelompok
o    Membagi tugas dengan masalah yang akan dibahas
o    Setiap kelompok menunjukkan  pencatatn laporan kemajuan dan hasil kerja kelompok
o    Pendidik menunjukan sumber-sumber untuk memecahkan masalah
    Fase pengerjaan unit
o    Peserta didik terjun kelapangan,belajar diperpustakaan, meneliti laboratorium, mengamati
o    Pendidik mengontrol apa yang dikerjakan peserta didik, memberi saran/pertanyaan, membantu merumuskan kesimpulan bila perlu
    Fase kulminasi
o    Hasil kerja peserta didik dibawa kembali ke sekolah
o    Hasil informasi disusn ,diolah, sehingga menghasilkan  sesuatu yang bisa dilihat orang banyak misalnya hasil kerajinan, hasil perkebunan atau lainnya
Keunggulan Unit Teaching adalah :
     Peserta didik dapat belajar secara keseluruhan yang bulat sehingga hasil pelajarannya menjadi lebih berarti baginya
    Pengajaran menimbulkan suasana kelas demokratis
    Peserta didik bisa menggunakan sumber-sumber materi pelajaran secara luas
    Dapat direalisir  prinsip-prinsip psikologi belajar modern

Kelemahan metode ini :
    Untuk merencanakan  tidak mudah
    Memerlukan seorang ahli  yang betul-betul menguasai masalah
    Memerlukan kecakapan, ketekunan
    Perhatian pendidik harus lebih banyak dicurahkan pada bimbingan kerja peserta didik
    Kemungkinan pelajaran disajikan tidak mendalam karena terlalu luas sehinga pengetahuan peserta didik hanya bersifat mengambang

4.    Micro Teaching
Mikro teaching berarti suatu kegiatan mengajar dimana segala dikecilkan atau disederhanakan, yaitu :
    Jumlah murid , 5 sampai 6 orang
    Waktu mengajar antara 5 sampai 10 menit
    Bahan pelajaran hanya mencakup satu atau dua unit kecil yang sederhana
    Keterampilan  mengajar difokuskan pada beberapa keterampilan khusus saja

Kebaikan Micro teachingadalah:
    Pengalaman Laboratories
    Menunjang pelaksanaan praktek kependidikan
    Mengurangi kesulitan /kerumitan dalam pengajaran di kelas
    Memungkinkan ditingkatkannya pengawasan  yang ketat dan evaluasi  yang mantap, teliti dan obyektif
    Mahaiswa dilatih bersifat kritis
    Memupuk percaya diri sendiri bagi peserta didik
    Mengembangkan mahapeserta didik untuk aktif, kreatif serta bekerja efektif, produktif , efisien yang disertai penuh tanggung jawab
    Sebagai wadah untuk mencari model keterampilan mengajar yang sesuai
    Menampung proses mengajar ulangan sehingga ada kesempatan untuk memperbaiki secara langsung
    Mengembangkan kemampuan mawas diri, melihat kelemahan /kebaikan  serta mendorong untuk memperbaikinya
    Tempat yang baik untuk mengembangkan dan mengadakan research dalam kegiatan belajar mengajar
    Merupakan jembatan antara teori dan praktek mengajar
    Menggalang kerjasama peserta didik/dosen/pendidik
    Merupakan arena pengabdian masyarakat

Kelemahan Micro Teaching  adalah :
    Dapat menimbulkan efek departementalisasi akan keterampilan mengajar
    Dsalah tafsirkan dapat hanya menitik beratkan pada  keterampilan pendidik sebagai pengajar bukan sebagai pendidik dalam arti yang luas yaitu pendidik dam senagai pengajar
    Memerlukan biaya yang banyak , peralatan mahal serta tenaga ahli dalam bidangh teknis maupun bidang pendidikan pengajaran pada umumnya dan metodologi pengajaran pada khususnya



5.    Metode Inquiri

Keunggulan tehnik inquiri adalah :
    Dapat membentuk dan mengembangkan “self-concept’ pada diri peserta didik sehingga peserta didik dapat mengerti tentang konsep dasar dan ide-ide lebih baik
    Membantu dalam menggunaka ingatan dan transfer  pada situasi proses belajar yang baru
    Mendorong peserta didik untuk berpikirr dan bekerja atas inisiatif sendiri
    Mendorong peserta didik untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesa sendiri
    Situasi  proses belajar menjadi lebih terangsang
    Memberi kepuasan yang bersifat intrinsic
    Peserta didik dapat menghindari peserta didik dari cara-cara belajar yang tradisional
    Dapat memberi waktu peserta didik secukupnya sehingga  mereka dapat mengasimilasi dan mengakomodasi informasi


6.    Metode Penampilan
Metode Penampilan berbentuk pelasanaan paktek oleh peserta didik dibawah bimbingan dari  dekat oleh  Pengajar.
Jika  metode ini dipergunakan dalam pengajaran harus :
•    Memberikan  penjelasan yang cukup kepada peserta didik selama berpraktek
•    Melakukan tindakan pengamana sebelum kegiatan praktek dimulai untuk keselamatan peserta didik yang menggunakan

Metode Penampilan digunakan :
•    Pelajaran telah mencapai tingkat lanjutan
•    Kegiatan pembelajaran bersifat  normal, latihan kerja atau magang
•    Peserta didik mendapat kemungkinan untuk menerapkan apa yang dipelajari kedalam situasi yang sesungguhnya
•    Kondisi praktek sama dengan kondisi kerja
•    Adanya bimbingan selama praktek
•    Kegiatan ini  menjadi remedial bagi peserta didik


Keterbatasan  penggunaan metode ini adalah :
•    Membutuhkan waktu yang lama
•    Membutuhkan fasilitas dan alat khusus yang mungkin mahal, sulit diperoleh dan dipelihara secara terus menerus
•    Membutuhkan pengajar yang lebih banyak   

7.    Metode Diskusi
Metode   ini merupakan interaksi antar peserta didik atau peserta didik dengan pendidik  untuk menganalisa, memecahkan masalah, menggali atau memperdebatkan topik atau permasalahan tertentu.
Yang dibutuhkan bila menggunakan metode ini adakah :
•    Menyediakan bahan/topik atau masalah yang akan didiskusikan
•    Menyebutkan pokok-pokok masalah yang akan dibahas atau memberikan penugasan studi khusus kepada siwa sebelum menyelenggarakan diskusi
•    Menugaskan peserta didik untuk menjelaskan , menganalisa dan meringkas.
•    Membimbing diskusi , tidak  memberi ceramah
•    Sabar terhadap kelompok yang lamban dalam mendiskusikannya
•     Waspada terhadap kelompok yang tampak kebingungan atau berjalan dengan tidak menentu
•    Melatih peserta didik dalam menghargai pendapat orang lain

Model  ini  cocok digunakan :
•    Peserta didik berada di tahap menengah atau tahap akhir proses belajar
•    Pelajaran normal atau magang
•    Perluasan pengetahuan yang telah didiskusikan
•    Belajar mengidentifikasi dan memecahkan masalah   serta mengambil keputusan

8.    Metode Ceramah
Metode ini berbentuk  penjelasan konsep, prinsip dan fakta pada akhir perkuliahan ditutup dengan Tanya jawab antara  dosen dan mahapeserta didik .
Metode ini  dapat  dilakukan  :
•    Untuk memberikan pengarahan , petunjuk diawal pembelajaran
•    Waktu terbatas, sedangkan materi / informasi banyak yang akan disampaikan.
•    Lembaga pendidikan sedikit memiliki staf pengajar  dengan peserta didik yang banyak
Kelebihan Metode Ceramah :
•    Pendidik mudah menguasai  kelas
•    Mudah mengorganisasikan tempat  duduk / kelas
•    Dapat diikuti oleh peserta didik dalam jumlah besar
•    Mudah  mempersiapkan dan melaksanakannya
•    Pendidik mudah menerangkan pelajaran dengan baik

Keterbatasan metode ceramah adalah :
•    Keberhasilan peserta didik tidak terukur
•    Perhatian dan motivasi peserta didik sulit diukur
•    Peran serta peserta didik  dalam  pembelajaran rendah
•    Pembicara sering melantur
•    Bila sering digunakan dan terlalu lama membosankan

9.    Metode  Demonstrasi
Metode demontrasi dapat dilaksanakan manakala:
•    Kegiatan pembelajaran berrsifat  normal, magang atau latihan bekerja
•    Bila materi pelajaran berbentuk  keterampilan  gerak
•    Pendidik, pelatih , instruktur bermaksud menyederhanakan penyelesaian kegiatan yang panjang
•    Pengajar bermaksud menunjukkan suatu standar penampilan
•    Untuk menumbuhkan motivasi  peserta didik tentang latihan/ praktik yang kita  laksanakan
•    Untuk dapat mengurangi kesalahan-kesalahan
•    Bila  beberapa masalah yang menimbulkan  pertanyaan  pada peserta didik dapat dijawab lebih teliti waktu proses demonstrasi 

Batas-batas metode ini  adalah :
•    Demonstrasi  akan merupakan metode yang tidak wajar bila alat didemostrasikan tidak dapat diamati dengan seksama   oleh  peserta didik
•    Demonstrasi  menjadi kurang  efektif bila tidak diikuti  dengan  sebuah aktivitas dimana  para  peserta didik sendiri dapat  ikut  bereksperimen dan menjadikan aktifitas itu pengalaman ptribadi
•    Tidak semua hal dapat didemosntrasikan di dalam kelompok
•    Kadang-kadang bila suatu alat dibawa ke dalam kelas kemudian didemonstrasikan, terjadi proses yang berlainan dengan proses  dalam situasi  nyata
•    Jika setiap orang diminta mendemostrasikan maka dapat menyita waktu yang banyak dan membosankan bagi peserta lainnya

Kelebihan metode ini :
•    Mebuat pengajaran menjadi lebih jelas dan lebih konkret
•    Peserta didik lebih mudah memahami apa yang dipelajari
•    Proses pengajaran lebih menarik
•    Peserta didik dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan

Kekurangan Metode ini :
•    Memerlukan keterampilan pendidik secara khusus
•    Fasilitas seperti peralatan, tempat dan biaya yang memadai tidak selalu tersedia dengan baik
•    Memrlukan kesiapan dan perencanaan yang matang disamping memerlukan waktu yang cukup panjang

10.    Metode Tanya jawab
Metode  Tanya jawab ialah suatu cara penyajian bahan pelajaran melalui bentuk pertanyaan yang perlu dijawab oleh peserta didik.

Kelebihan metode ini :
•    Lebih mengaktifkan peserta didik dibandingkan dengan metode ceramah
•    Peserta didik akan lebih cepat mengerti , karena memberi kesempatan peserta didik untuk menanyakan hal-hal yang belum jelas atau belum dimengerti sehingga pendidik dapat menjelaskan kembali
•    Mengembangkan keberanian dan keterampilan peserta didik dalam menjawab dan mengemukakan pendapat
•    Mengetahui perbedaan pendapat anatar peserta didik dan pendidik , dan akan membawa kearah suatu diskusi
•    Pertanyaan dapat menarik dan memusatkan perhatian peserta didik


Keterbatasan metode ini adalah :
•    Menyita waktu lama dan jumlah peserta didik harus sedikit
•    Mempersyaratkan  peserta didik  memiliki  latar  belakang  yang cukup  tentang  topik  atau  maslah yang didiskusikan
•    Dapat menimbulkan beberapa masalah baru
•    Mudah menyimpang dari pokok persoalan
•    Metode ini tidak tepat digunakan pada tahap awal  proses  belajar bila  peserta didik baru  diperkenalkan  kepada bahan pembelajaran yang baru
•    Apatis  bagi  peserta didik  yang tidak  terbiasa  dalam  forum

11.    Metode Studi  Mandiri
Metode  studi  mandiri berbentuk  pelaksanaan  tugas  membaca  atau  penelitian  oleh  peserta didik  tanpa  bimbingan  atau  pengajaran  khusus.

Metode  ini digunakan :
•    Pada  tahap  akhir
•    Dapat  digunakan  pada semua  mata  pelajaran
•    Menunjang metode pembelajaran  yang  lain
•    Meningkatkan  kemampuan kerja peserta didik
•    Mempersiapkan peserta didik untuk kenaikan tingkat
•    Memberi  kesempatan kepada peserta didik untuk memperdalam minatnya tanpa dicampuri peserta didik lain


12.    Metode Pembelajaran Terprogram
Metode ini menggunakan bahan pelajaran yang disiapkan secara khusus
Ketika menggunka metode ini , yang harus diperhatikan adalah :
•    Peserta didik-peserta didik harus benar-benar memiliki seluruh bahan, alat-alat dan perlengkapan lain yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pelajaran tersebut
•    Peserta didik harus benar-benar tahu bahwa bahan tersebut  bukan tes
•    Tersedianya  sumber yang dapat membantu peserta didik apabila mengalami kesulitan
•    Secar periodik, peserta didik  harus dicek kemampuannya untuk memnuatnya benar-benar belajar

Metode ini dugunakan apabila :
•    Kurang mendapat interaksi social
•    Semua tahap belajar , dari permulaan sampai dengan proses akhir belajar peserta didik dapat deprogram secara lengkap/utuh
•    Pelajaran formal , belajar jarak jauh dan magang
•    Mengatasi kesulitan perbedaan individual
•    Mempermudah peserta didik belajar dalam waktu yang diinginkan

Keterbasan metode ini adalah :
•    Bahan pelajaran yang telah dikumpulkan dengan baik membuat setiap peserta didik melalui urutan  kegiatan belajar yang sama. Hal ini membuat metode kurang fleksibel
•    Biaya pengembangan yang tinggi
•    Peserta didik kurang mendapat interaksi sosial

13.    Metode Tugas dan Resitasi
Metode resitasi adalah metode penyajian bahan dimana pendidik memberikan  tugas tertentu agar peserta didik melakukankegiatan belajar.
Metode ini diberikan karena dirasakan bahan pelajaran terlalu banyak , sementara waktu sedikit.
Tugas dan resitasi tidak sama dengan pekerjaan rumah (PR), tetapi jauh lebih luas.

Langkah-langkah yang harus diikuti  metode tugas dan resitasi adalah :
•    Fase Pemberian tugas
o    Tujuan yang akan dicapai
o    Jenis tugas yang jelas dan tepat
o    Sesuai dengan kemampuan peserta didik
o    Ada petunjuk/sumber yang dapat membantu pekerjaan peserta didik
o    Sediakan waktu yangcukup untuk mengerjakan tugas tersebut
•    Langkah Pelaksanaan Tugas
o    Diberikan bimbingan/ pengawasan oleh pendidik
o    Diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja
o    Diusahakan /dikerjakan  oleh peserta didik sendiri, tidak menyuruh orang lain
o    Dianjurkan agar peserta didik mencatat hasil-hasil yang ia peroleh
•    Fase mempertanggungjawabkan Tugas
o    Laporan peserta didik baik lisan/ tertulis dari apa yang dikerjakannya
o    Ada Tanya jawab/diskusi kelas
o    Penilaian hasil  pekerjaan peserta didik baik dengan tes maunpun non tes

Kelebihan Metode ini adalah :
    Lebih merangsang peserta didik dalam melakukan aktivitas belajar individual ataupun kelompok
    Dapat mengembangkan kemandirian peserta didik diluar pengawasan pendidik
    Dapat membina tanggung jwab dan disiplin peserta didik
    Dapat mengembangkan kreativitas peserta didik

Kekurangannya adalah :
    Peserta didik sulit dikontrol  mengenai pengerjaan tugas
    Khusunya untuk tugas kelompok, tidak jarang yang aktif mengerjakan dan menyelesaikan adalah anggota tertentu saja , sedangkan anggota lainnya tidak berpartisipasi dengan baik
    Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan pervedaan  individu peserta didik
    Sering memberikan tugas yang monoton dapat menimbulkan kebosanan peserta didik


14.    Metode Latihan
Metode ini  disebut juga metode training, merupakan suatu cara mengajar yangbaik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu.
Metode ini dapat digunakan juga untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan , kesempatan dan keterampilan

Kelebihan metode ini adalah :
•    Untuk memperoleh keclapan motorik seperti menulis, melafalkan huruf, kata-kata atau kalimat, membuat alat-alat , menggunakan alat-alat (mesin permainan dan atletik) dan termapil menggunakan peralatan olah raga.
•    Memperoleh kecakapan mental seperti dalam perkalian , menjumlahkan, pengurangan, pembagian, tanda-tanda dan sebagainya
•    Untuk memeproleh kecakapan dalam bentuk asosiasi yang dibuat seperti huruf-huruf dalam ejaan, penggunaan symbol, membaca peta dan lainnya
•    Pembetukan kebiasaan yang dilakukan dan menambah ketepatan serta kecepatan pelaksanaan.
•    Pemanfaatan kebiasaan-kebiasaan yang tidak nenerlukan konsentrasi dalam pelaksanaannya
•    Pembentukan kebiasaan-kebiasaan  membuat gerakan-gerakan yang kompleks , rumit menjadi lebih otomatis

Kekurangan Metode Latihan :
•    Menghambat bakat dan inisiatif peserta didik, karena peserta didik lebih banyak dibawa kepada penyesuaian dan diarahkan jauh dari pengertian
•    Menimbulkan penyesuaian secara  statis keada lingkungan
•    Kadang-kadang latihan yang dilaksanakan secar berulang-ulang merupakan hal yang monoton, mudah membosankan
•    Membentuk kebiasaan yang kaku, karena bersifat otomatis
•    Dapat menimbulkan verbalisme

15.    Metode Latihan bersama teman
Metode ini memanfaakan peserta didik yang telah lulus atau berhasil. Dalam pengunaan metode ini yang perlu diperhatikan adalah :
•    Seorang peserta didik memperhatikan seorang peserta didik yang telah mencapai tingkat lanjut dalam melaksanakan semua tugas dibawah bimbingan pelatih
•    Setelah mengenal tugas tersebut, peserta didik dilatih dalam keterampilan melakukannya
•    Setelah lulus , ia menjadi pelatih  untuk peserta didik lainnya

Kelemahan  metode ini  adalah :
•    Terbatasnya  peserta didik yang dapat dilatih dalam satu periode tetentu
•    Kegiatan latihan harus senantiasa dikontrol secara langsung untuk memelihara kualitas


16.    Metode Simulasi
Metode in menampilkan symbol-simbol atau peralatan yang menggantikan proses kejadian atau benda yang sebenarnya.

Penggunaan metode ini perlu memperhatikan beberapa hal :
•    Pada tahap permulaan proses belajar, diperlukan tingkat dibawah relaitas . Peserta didik diharapkan mengidentifikasikan lokasi tujuan, sifat-sifat benda, tindakan yang sesuai dengan kondisi tertentu, dan sebagainya
•    Pada tahap pertengahan proses belajar, diperlukan tingkat realitas yang memadai. Peserta didik diharapkan dapat mempelajari sesuatu dalam kaitan dengan pengetahuan yang lebih luas dan memulai mengkoordinasikan keterampila- keterampilan.
•    Pada tahap akhir, diperlukan tingkat realitas yang tinggi.
•    Peserta didik diharapkan dapat melakukan pekerjaan seperi yang seharusnya

Metode ini dilakukan bila :
•    Pendidkan formal atau magang
•    Memberi  kegiatan-kegiatan yang analogis
•    Memungkinkan praktek dan umpan balik dengan resiko kecil
•    Diprogramkan sebagai alat pelajaran mandiri

Kelemahan metode ini :
•    Biaya pengembangannya tinggi dan perlu waktu lama
•    Fasilitas dan alat-alat khusus yang dibutuhkan mungkin sulit diperoleh serta mahal harganya dan pemeliharaannya
•    Resiko peserta didik atau pengajar tinggi

17.    Metode Pemecahan Masalah
Metode ini dikenall sebagai Metode Brainstorming merupakan metode yang merangsang berpikir dan menggunakan wawasan tanpa melihat kualitas pendapat yang disampaikan oleh peserta didik
Metode ini dapat dilaksankan pabila peserta didik telh berada pada tingkat yang lebih tinggi dengan prestasi yang tinggi pula.

Penggunaan metode ini  dengan mengikuti langkah-langkah sebagi berikut :
•    Adanya masalah yang jelas untuk dipecahkan
•    Mencari data atau keterangan  yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut
•    Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut
•    Menguji kebenaran jawaban sementara tersebut
•    Menarik  kesimpulan artinya peserta didik harus sampai kepada kesimpulan terakhir tentang jawaban dari masalah tadi

Kelebihan Metode Pemecahan Masalah :
•    Dapat  membuat pendidikan sekolah menjadi lebih relevan dengan kehidupan khususnya dengan dunia kerja
•    Proses belajar mengajar melalui pemecahan masalah dapat membiasakan para peserta didik menghadapi dan memecahkan masalah secara terampil ,
•    Merangsang pengembangan kemampuan berpikir seiswa secara kreatif dan menyeluruh.

Kekurangan Metode ini adalah :
•    Mementukan masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat  berpikir peserta didik , sekolah dan kelas serta pengetahuan  dan pengalaman yang telah dimiliki  peserta didik.
•    Seringmemerlukan waktu yang cukup banyak dan seringmengambil waktu pelajaran lainnya
•    Mengubah kebiasaan  peserta didik belajar dengan mendengarkan dan menerima informasi dari pendidik menjadi belajar dengan banyak berpikir memecahkan masalah sendiri atau kelompok

18.    Metode Studi Kasus
Metode ini berbentuk penjelasan tentang masalah kejadian, atau situasi tertentu , kemudian peserta didik ditugasi mencari alternative pemecahannya.
Metode ini dapat dikembangkan atau diterapkan pada peserta didik, manakala  peserta didik memiliki pengetahuan awal tentang masalah ini

Keterbatasan metode ini :
•    Mendapatkan kasus yang telah ditulis dengan baik sebagai hasil penelitian lapangan dan sesuai dengan lingkungan kehidupan peserta didik
•    Mengembangkan kasus sangat mahal

19.    Metode Insiden
Metode ini mirip dengan metode studi kasus akan tetapi peserta didik dibekali dengan data dasar yang tidak lengkap tentang suatu kejadian atau peristiwa

20.    Metode Praktikum
Metode ini dapat dilakukan kepada peserta didik setelah pendidik memberikan arahan , aba-aba petunjuk

21.    Metode Proyek
Metode ini merupakan pemberian tugas kepada semua peserta didik untuk dikerjakan secara individual. Peserta didik dituntut untuk mengamati, membaca, meneliti,. Kemudian peserta didik dimintakan untuk membuat laporan dari tugas yang diberikan kepadanya dalam bentuk makalah. Metode ini bertujuan membentuk analisis masing-masing peserta didik

Kelebihan metode ini :
•    Dapat merombak pola pikir peserta didik dari yang sempit menjadi lebih luas dan menyeluruh dalam memandang dan memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan
•    Anak didik dibina dengan membiasakan menerapkan pengetahuan , sikap dan keterampilan dengan terpadu yang diharapkan dalam kehidupan sehari-hari

Kekurangan Metode Proyek adalah :
•    Kurikulum yang berlaku belum menunjang pelaksanaan metode ini
•    Organisasi bahan pelajarn, perencanaan dan pelaksanaan metode ini sukar dan memerlukan keahlian khusus dari pendidik sedangkan pendidik belum disiapkan untuk ini.
•    Harus dapat memilih topik unit yang tepat sesuai kebutuhan anak didik , cukup fasilitas dan memiliki sumber-sumber belajar yang diperlukan
•    Bahan pelajaran sering menjadi luas sehingga dapat mengaburkan pokok unit yang dibahas

22.    Metode bermain peran
Metode ini adalah suatu cara penguasaan bahan pelajaran melalui pengembangan dan penghayatan anak didik.
Metode yang melibatkan interaksi antara dus peserta didik atau lebih tentang suatu topik atau situasi. Peserta didik melakukan peran masing-masing sesuai dengan tokoh yang ia lakoni, mereka berinteraksi sesama mereka.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan metode ini adalah:
•    Penetuan topik
•    Penentuan anggota pemeran
•    Pembuatan lembar kerja
•    Latihan singkat dialog
•    Pelaksanaan pemainan peran

23.    Metode Seminar
Merupakan  kegiatan belajar sekelompok peserta didik untuk membahas topik, masalah tertentu. Setiap anggota kelompok seminar dituntut  agar berperan aktif dankepada mereka dibebankan tanggungjawab untuk mendapatkan solusi dari topic, masalah yang dipecahkannya. Pendidik bertindak sebagai nara sumber. Tidak jarang seminar melahirkan rekomendasi dan resolusi.




24.    Metode Simposium
Metode yang memaparkan suatu seri pembicara dalam berbagai kelompok topik dalam bidang metri tertentu. Materi-materi tersebut disampaikan oleh ahli dalam bidangnya, setelah itu peserta dapat menyampaikan pertanyaan dan sebagainya kepada pembicara.
Sebuah simposium hampir menyerupai panel, karena simposium harus pula terdiri  atas beberapa pembicara sedikitnya dua orang. Tetapi symposium berbeda dengan panel didalam cara pembahasan persoalan. Sifatnya lebih formal. Seorang anggota symposium terllebih dahulu menyiapkan pembicaraannya menurut satu titik pandangan tertentu. Terhadap sebuah persoalan yang sama diadakan pembahasan dari berbagai sudut pandangan dan disoroti dari titk tolak yang berbeda-beda.

25.    Metode  Sosiodrama
Ialah cara  mengajar yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan kegiatan memainkan peranan tertentu yang terdapat dalam kehidupan masyarakat.

Tujuan yang diharapkan dengan penggunaan metode ini adalah :
•    Agar peserta didik dapat menghayati dan mengehargai perasaan orang lain
•    Dapat belajar bertanggung jawab
•    Dapat belajar bagaimana mengambil keputusan dalam situasi kelompok secara spontan
•    Merangsang kelas untuk berpikir dan memecahkan masalah
Kelebihan Metode Sosiodrama :
•    Peserta didik terlatih berinisiatif serta kreatif
•    Kerjasama antar pemain dapat ditumbuhkan dan dibina dengan sebaik-baiknya
•    Bakat yang terdapat pada peserta didik dapat dipupuk sehingga dimungkinkan akan muncul atau tumbuh bibit seni drama dari sekolah
•    Bahasa lisan peserta didik dapat dibina menjadi bahasa yang baik agar mudah dipahami orang lain
•    Peserta didik memperoleh kebiasaan untuk menerima dan membagi tanggung jawab dengan sesamanya

Kekurangan Metode  Sosiodrama :
•    Sebagian besar anak yang tidak ikut bermain drama menjadikurang aktif
•    Banyak memakan waktu, baik waktu persiapan maupun waktu pelaksanaan pertunjukan
•    Memerlukan tempat yang cukup luas jika tbermain sempit menjadi kurang bebas
•    Kelas lain sering terganggu oleh suara  para pemain dan penonton yang terkadang bertepuk tangan dan berperilaku lainnya

26.    Metode Tutorial
Merupakan cara menyapaikan bahan pelajaarn yang telah dikembangkan dalam bentuk modul untuk dipelajari peserta didik secara mandiri. Peserta didik dapat mengkonsultasikantentang masalh-masalah dan kemajuan yang ditemui secara periodik.

27.    Metode Deduktif
Metode deduktif merupakan pemberian penjelasan tentang prinsip-prinsip isi pelajaran, kemudian dijelaskan dalam bentuk penerapannya atu contoh-contohnya dalam situasi tertentu. Metode ini menjelaskan teori ke bentuk realitas atau menjelaskan hal-hal yang bersifat umum ke yang bersifat khusus.

Metode ini tepat dipergunakan :
•    Peserta didik belum mengenal pengetahuan yang sedang dipelajari
•    Isi pelajaran meliputi terminology, teknis dan bidang yang kurang membutuhkan proses berpikir kritis,
•    Pengajaran mengenai pelajaran tersebut mempunyai persiapan yang baik dan pembicara yang baik
•    Waktu yang tersedia sedikit

28.    Metode Induktif
Metode induktif dimulai dengan pemberan berbagai kasus , fakta , contoh atau sebab yang mencerminkan suatu konsep atau prinsip. Kemudian sswa dibimbing untuk berusaha keras mensitesiskan, merumuskan atau menyimpulkan prinsip dasar dari pelajarn tersebut . Metode ini disebut metode discovery atau Socratic

Metode ini tepat digunakan :
•    Pengajar mempunyai keterampilan fleksibel, terampil mengajukan pertanyaan , terampil mengulang pertanyaan dan sabar
•    Waktu yang tersedia cukup panjang

29.    Metode KaryaWisata
Ialah Suatu cara  penguasaan bahan pelajaran oleh para peserta didik dengan jalan membawa mereka langsung ke objek yang terdapat diluar kelas atau dilingkungan kehidupan  nyata.

Kelebihan Metode Karyawisata :
•    Karyawisata menerapkan prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran
•    Membuat bahan yang dipelajari disekolah menjadi lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan yang ada di masyarakat
•    Pengajaran daoat lebih merangsang kretifitas anak

Kekurangan  metode ini :
•    Memerlukan persiapan yang melibatkan banyak pihak
•    Memerlukan perencanaan dengan persiapan yang matang
•    Sering  unsure studinya terabaikan
•    Memerlukan pengawasan yang lebih ketat terhadap setiap gerak-gerik peserta didik di lapangan
•    Biaya nya cukup mahal
•    Memerlukan tangung jawab pendidik dan sekolah atas kelancaran karyawisata jangka panjang dan jauh

30.    Metode Eksperimen
Metode ini  adalah metode pemebrian kesempatan kepada peserta didik perseorangan dan kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan
Kelebihan metode eksperimen :
•    Dapat membuat peserta didik lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri
•    Peserta didik dapat mengembangkan sikap untuk mengadakan studi eksplorasi tentang ilmu dan teknologi
•    Akan terbina manusia yang membawa terobosan-terobosan baru dengan penemuan sebagai hasil percobaan yang diharapkan dapat bermanfaat bagi kesejahteraan hidup manusia

Kekurangan Metode Eksperimen :
•    Tidak cukup alat-alat mengakibatkan tidak setiap peserta didik berkesempatan mengadakan eksperimen
•    Metode ini menuntut ketelitian , keuletan dan ketabahan
•    Memerlukan jangka  waktu yang lama
•    Metode ini lebih sesuai untuk menyajikan bidang-bidang ilmu dan teknologi

31.    Metode Bercerita
Ialah suatu cara mengajar dengan bercerita. Pada hakekatnya metode bercerita sama dengan  metode ceramah. Karena informasi disampaikan melalui penuturan atau penjelasan lisan dari seseorang kepada oaring lain

Kelebihan  Metode Bercerita :
•    Pendidik mudah menguasai kelas
•    Pendidik dapat meningkatkan kosentrasi peserta didik dalam waktu yang relative lama
•    Mudah menyiapkannya
•    Mudah melaksanakannya
•    Dapat diikuti  oleh peserta didik dalam jumlah banyak

Kekurangan Metode Bercerita :
•    Peserta didik terkadang terbuai dengan jalannya cerita sehingga tidak dapat meengambil intisarinya
•    Hanya Pendidik yang pandai bermain kata-kata atau kalimat
•    Menyebabkan peserta didik pasif karena pendidik aktif
•    Peserta didik lebih cenderung  hafal isi ceita daripada sari cerita yang dituturkan

Daftar Pustaka :
1.    Drs Sayiful Bahri Djamarah, Drs Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, Penerbit Rineka Cipta, Cetakan ke tiga , Agustus 2006
2.     Drs Sayiful Bahri Djamarah, Pendidik dan Anak didk – dalam interaks edukatif, Penerbit Rineka Cipta, Cetakan Pertama , Februari  2000
3.     Dra. Roestiyah N.K, Strategi Belajar Mangajar, Penerbit Rineka Cipta, Cetakan ke tujuh , Maret  2008







PENILAIAN HASIL BELAJAR

A.    Pengertian dan Tujuan Evaluasi
1.    Pengertian
Wiersma dan Jurs membedakan antara evaluasi, pengukuran dan testing. Mereka berpendapat bahwa evaluasi adalah suatu proses yang mencakup pengukuran dan mungkin juga testing, yang juga berisi pengambilan keputusan tentang nilai. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Arikunto yang menyatakan bahwa evaluasi merupakan kegiatan mengukur dan menilai. Kedua pendapat di atas secara implisit menyatakan bahwa evaluasi memiliki cakupan yang lebih luas daripada pengukuran dan testing.
Ralph W. Tyler, yang dikutip oleh Brinkerhoff dkk. Mendefinisikan evaluasi sedikit berbeda. Ia menyatakan bahwa evaluation as the process of determining to what extent the educational objectives are actually being realized. Sementara Daniel Stufflebeam (1971) yang dikutip oleh Nana Syaodih S., menyatakan bahwa evaluation is the process of delinating, obtaining and providing useful information for judging decision alternatif. Demikian juga dengan Michael Scriven (1969) menyatakan evaluation is an observed value compared to some standard. Beberapa definisi terakhir ini menyoroti evaluasi sebagai sarana untuk mendapatkan informasi yang diperoleh dari proses pengumpulan dan pengolahan data.
Nurgiyantoro (1988:5) menyebutkan bahwa evaluasi adalah proses untuk mengukur kadar pencapaian tujuan. Ia lebih lanjut menjelaskan bahwa evaluasi yang bersinonim dengan penilaian tidak sama konsepnya dengan pengukuran dan tes meskipun ketiga konsep ini sering didapatkan ketika masalah evaluasi pendidikan dibicarakan. Dikatakannya bahwa penilaian berkaitan dengan aspek kuantitatif dan kualitatif, Pengukuran berkaitan dengan aspek kuantitatif, sedangkan tes hanya merupakan salah satu instrumen penilaian. Meskipun berbeda, ketiga konsep ini merupakan satu kesatuan dan saling memerlukan. Hal senada juga disampaikan oleh Nurgiyantoro (1988) dan Sudijono (2006).

2.    Tujuan
Menurut Reece dan Walker (1997 : 420) terdapat beberapa alasan mengapa evaluasi harus dilakukan, yaitu:
a.    Memperkuat kegiatan belajar
b.    Menguji pemahaman dan kemampuan siswa.
c.    Memastikan pengetahuan prasyarat yang sesuai.
d.    Mendukung terlaksananya kegiatan pembelajaran.
e.    Memotivasi siswa.
f.    Memberi umpan balik bagi siswa.
g.    Memelihara standar mutu.
h.    Mencapai kemajuan proses dan hasil pembelajaran.
i.    Memprediksi kinerja pembelajaran selajutnya.
j.    Menilai kualitas belajar.

Menurut Kurikulum 1975 (Buku III B – tentang Pedoman Penilaian), dapat kita baca bahwa tujuan atau fungsi evaluasi belajar siswa di sekolah pada dasarnya dapat digolongkan kedalam 4 (empat) kategori yaitu:
a.    Untuk memberi umpan balik (feedback) kepada guru, sebagai dasar untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan mengadakan revisi program dan remidial program bagi siswa.
b.    Untuk menentukan angka kemajuan atau hasil belajar masing-masing siswa, yang antara lain diperlukan untuk memberikan laporan kepada para orang tua siswa, penetapan kenaikkan kelas, dan penentuan lulus tidaknya siswa.
c.    Untuk menempatkan siswa dalam situasi belajar mengajar yang tepat (misalnya dalam penentuan jurusan) sesuai dengan tingkat kemampuan dan atau karakteristik lain yang dimiliki siswa.
d.    Untuk mengenal latar belakang (psikologi, pisik, dan lingkungan) siswa yang mengalami kesulitan-kesulitan belajar. Yang hasilnya dapat dipakai sebagai dasar untuk memecahkan kesulitan-kesulitan tersebut.

Tujuan umum evaluasi pendidikan adalah untuk menghimpun bahan-bahan keterangan yang akan dijadikan sebagai bukti mengenai taraf perkembangan atau taraf kemajuan yang dialami oleh para peserta didik setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu, mengetahui tingkat efektivitas dari metode-metode pembelajaran yang telah dipergunakan dalam proses pembelajaran selama jangka waktu tertentu.
Tujuan khusus evaluasi pendidikan adalah untuk merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program pendidikan, untuk mencari dan menemukan faktor penyebab keberhasilan dan ketidakberhasilan peserta didik dalam mengikuti program pendidikan sehingga dapat dicari dan ditemukan jalan keluar atau cara-cara perbaikannya (Sudijono, 2006:17).






B.    Prinsip – Prinsip Evaluasi
Terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam melaksanakan evaluasi, agar mendapat informasi yang akurat, diantaranya:
1.    Dirancang secara jelas abilitas yang harus dinilai, materi penilaian, alat penilaian, dan interpretasi hasil penilaian. Patokan : Kurikulum/silabi.
2.    Penilaian hasil belajar menjadi bagian integral dalam proses belajar mengajar.
3.    Agar hasil penilaian obyektif, gunakan berbagai alat penilaian dan sifatnya komprehensif.
4.    Hasilnya hendaknya diikuti tindak lanjut.

Prinsip lain yang dikemukakan oleh Ngalim Purwanto adalah:
1.    Penilaian hendaknya didasarkan pada hasil pengukuran yang komprehensif.
2.    Harus dibedakan antara penskoran (scoring) dengan penilaian (grading)
3.    Hendaknya disadari betul tujuan penggunaan pendekatan penilaian (PAP dan PAN)
4.    Penilaian hendaknya merupakan bagian integral dalam proses belajar mengajar.
5.    Penilaian harus bersifat komparabel.
6.    Sistem penilaian yang digunakan hendaknya jelas bagi siswa dan guru.

Evaluasi hasil belajar dikatakan terlaksana dengan baik apabila dalam pelaksanaannya senantiasa berpegang pada tiga prinsip dasar berikut ini.
1.    Prinsip Keseluruhan
Yang dimaksud dengan evaluasi yang berprinsip keseluruhan atau menyeluruh atau komprehensif adalah evaluasi tersebut dilaksanakan secara bulat, utuh, menyeluruh. Maksud dari pernyataan ini adalah bahwa dalam pelaksanaannya evaluasi tidak dapat dilaksanakan secara terpisah, tetapi mencakup berbagai aspek yang dapat menggambarkan perkembangan atau perubahan tingkah laku yang terjadi pada diri peserta didik sebagai makhluk hidup dan bukan benda mati.
Dalam hubungan ini, evaluasi diharapkan tidak hanya menggambarkan aspek kognitif, tetapi juga aspek psikomotor dan afektif pun diharapkan terangkum dalam evaluasi. Jika dikaitkan dengan mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, penilaian bukan hanya menggambarkan pemahaman siswa terhadap materi ini, melainkan juga harus dapat mengungkapkan sudah sejauh mana peserta didik dapat menghayati dan mengimplementasikan materi tersebut dalam kehidupannya.
Jika prinsip evaluasi yang pertama ini dilaksanakan, akan diperoleh bahan-bahan keterangan dan informasi yang lengkap mengenai keadaan dan perkembangan subjek subjek didik yang sedang dijadikan sasaran evaluasi.
2.    Prinsip Kesinambungan
Istilah lain dari prinsip ini adalah kontinuitas. Penilaian yang berkesinambungan ini artinya adalah penilaian yang dilakukan secara terus menerus, sambung-menyambung dari waktu ke waktu. Penilaian secara berkesinambungan ini akan memungkinkan si penilai memperoleh informasi yang dapat memberikan gambaran mengenai kemajuan atau perkembangan peserta didik sejak awal mengikuti program pendidikan sampai dengan saat-saat mereka mengakhiri program-program pendidikan yang mereka tempuh.
3.    Prinsip Objektivitas
Prinsip objektivitas mengandung makna bahwa evaluasi hasil belajar terlepas dari faktor-faktor yang sifatnya subjektif. Orang juga sering menyebut prinsip objektif ini dengan sebutan “apa adanya”. Istilah apa adanya ini mengandung pengertian bahwa materi evaluasi tersebut bersumber dari materi atau bahan ajar yang akan diberikan sesuai atau sejalan dengan tujuan instruksional khusus pembelajaran. Ditilik dari pemberian skor dalam evaluasi, istilah apa adanya itu mengandung pengertian bahwa pekerjaan koreksi, pemberian skor, dan penentuan nilai terhindar dari unsur-unsur subjektivitas yang melekat pada diri tester. Di sini tester harus dapat mengeliminasi sejauh mungkin kemungkinan-kemungkinan “hallo effect” yaitu jawaban soal dengan tulisan yang baik mendapat skor lebih tinggi daripada jawaban soal yang tulisannya lebih jelek padahal jawaban tersebut sama. Demikian pula “kesan masa lalu” dan lain-lain harus disingkirkan jauh-jauh sehingga evaluasi nantinya menghasilkan nilai-nilai yang objektif.
Dengan kata lain, tester harus senantiasa berpikir dan bertindak wajar menurut keadaan yang senyatanya, tidak dicampuri oleh kepentingan-kepentingan yang sifatnya subjektif. Prinsip ini sangat penting sebab apabila dalam melakukan evaluasi, subjektivitas menyelinap masuk dalam suatu evaluasi, kemurnian pekerjaan evaluasi itu sendiri akan ternoda.
Sebenarnya bukan hanya tiga prinsip di atas yang menjadi ukuran dalam untuk melakukan evaluasi. Dimyati dan Mujiono (2006:194-199) menyebutkan bahwa evaluasi yang akan dilakukan juga harus mengikuti prinsip kesahihan (valid), keterandalan (reliabilitas), dan praktis.
4.    Kesahihan
Sebuah evaluasi dikatakan valid jika evaluasi tersebut secara tepat, benar, dan sahih telah mengungkapkan atau mengukur apa yang seharusnya diukur. Agar diperoleh hasil evaluasi yang sahih, dibutuhkan instrumen yang memiliki/memenuhi syarat kesahihan suatu instrumen evaluasi.
Contoh berikut dapat dijadikan sarana untuk memahami pengertian valid. Contoh yang dimaksud adalah berupa  barometer dan termometer. Barometer adalah alat ukur yang dipandang tepat untuk mengukur tekanan udara. Jadi, kita dapat mengatakan bahwa barometer tanpa diragukan lagi adalah alat pengukur yang valid untuk mengukur tekanan udara. Dengan kata lain, apa seseorang melakukan pengukuran terhadap tekanan udara dengan menggunakan alat pengukur berupa barometer hasil pengukuran yang diperoleh itu dipandang tepat dan dapat dipercaya. Demikian pula halnya denga termometer. Termometer adalah alat pengukur yang dipandang tepat, benar, sahih, dan abash untuk mengukur tinggi rendahnya suhu udara. Jadi dapat dikatakan bahwa termometer adalah adalah alat pengukur yang valid untuk mengukur suhu udara (Sudijono, 2006:96).
Sahih atau tidaknya evaluasi tersebut ditentukan oleh faktor-faktor instrumen evaluasi itu sendiri, administrasi evaluasi dan penskoran, respon-respon siswa (Gronlund, dalam Dimyati dan Mujiono (2006:195). Kesahihan instrumen evaluasi diperoleh melalui hasil pemikiran dan pengalaman. Dari dua cara tersebut, diperoleh empat macam kesahihan yanga terdiri atas kesahihan isi (content validation), kesahihan konstruksi (contruction validity), kesahihan ada sekarang (concurrent validity), dan kesahihan prediksi (prediction validity) (Arikunto, 1990:64).
5.    Keterandalan
Keterandalan evaluasi berhubungan dengan masalah kepercayaan yaitu tingkat kepercayaan bahwa suatu evaluasi mampu memberikan hasil yang tepat. Maksud dari pernyataan ini adalah jika suatu eveluasi dilakukan pada subjek yang sama evaluasi senantiasa menunjukkan hasil evaluasi yang sama atau sifatnya ajeg dan stabil. Dengan demikian suatu ujian, misalnya, dikatakan telah memiliki reliabilitas apabila skor-skor atau nilai-nilai yang diperoleh para peserta ujian untuk pekerjaan ujiannya adalah stabil, kapan saja, dimana saja ujian itu dilaksanakan, dan oleh siapa saja pelaksananya.
Keterandalan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
a.    Panjang tes (length of tes). Panjang tes berhubungan dengan banyaknya butir tes. Pada umumnya lebih banyak butir tes, lebih tinggi keterandalan evaluasi. Hal ini terjadi karena makin banyak soal tes, makin banyak sampel yang diukur.
b.    Sebaran skor (spread of scores). Besarnya sebaran skor akan membuat kemungkinan perkiraan keterandalan lebih tinggi menjadi kenyataan.
c.    Tingkat kesulitan tes (difficulty of tes). Tes yang paling mudah atau paling sukar untuk anggota-anggota kelompok yang mengerjakan cenderung menghasilkan skor tes keterandalan yang lebih rendah. Hal ini disebabkan antara hasil tes yang mudah dan sulit keduanya salam suatu sebaran skor yang terbatas.
d.    Objektivitas (objektivity). Objektivitas suatu tes menunjuk kepada tingkat skor kemampuan yang sama (yang dimiliki oleh para siswa) dan memperoleh hasil yang sama dalam mengerjakan tes.
6.    Kepraktisan
Kepraktisan suatu evaluasi bermakna bahwa kemudahan-kemudahan yang ada pada instrumen evaluasi baik dalam mempersiapkan, menggunakan, menginterpretasi, memperoleh hasil maupun kemudahan dalam menyimpan.
C.    Macam – Macam Tes
1.    Menurut pelaksanaannya dalam praktek test terbagi atas :
a)    Tes tulisan (written tes), yaitu test yang mengajukan butir-butir pertanyaan dengan mengharapkan jawaban tertulis. Biasanya test ini digunakan untuk mengukur aspek kognitif peserta didik.
b)    Test lisan (oral test), yaitu tes yang mengajukan pertanyan-pertanyaan dengan menghendaki jawaban secara lisan. Test ini juga dilakukan untuk aspek kognitif peserta didik.
c)    Test perbuatan (performance test), yaitu tes yang mengajukan pertanyan-pertanyaan dengan menghendaki jawaban dalam bentuk perbuatan. Test ini digunakan untuk menilai aspek psikomotor/ keterampilan peserta didik.





2.    Menurut fungsinya test terbagi atas :
a)    Tes formatif (formative test), yaitu test yang dilaksanakan setelah selesainya satu pokok bahasan. Test ini berfungsi untuk menetukan tuntas tidaknya satu pokok bahasan. Tindak lanjut yang dapat dilakukan setelah diketahui hasil test formatif peserta didik adalah:
1)    Jika materi yang ditestkan itu telah dikuasai, maka pembelajaran dilanjutkan dengan pokok bahasan yang baru.
2)    Jika ada bagian-bagian yang belum dikuasai oleh peserta didik, maka sebelum melanjutkan pokok bahasan yang baru, terlebih dahulu diulangi atau dijelaskan kembali bagian-bagian yang belum di kuasai. Hal ini bertujuan untuk memperbaiki tingkat penguasaan peserta didik
b)    Tes sumatif (summative test), yaitu test yang diberikan setelah sekumpulan satuan program pembelajaran selesai diberikan. Disekolah test ini dikenal sebagai ulangan umum.
c)    Test diagnostik (Diagnostic test), yaitu test yang dilakukan untuk menentukan secara tepat, jenis kesulitan yang dihadapi oleh peserta didik dalam suatu mata pelajaran tertentu.

3.    Menurut waktu diberikannya test tergagi atas:
a)    Pra test (pre test), yaitu test yang diberikan sebelum proses pembelajaran. Test ini bertujuan untuk mengetahui sejauh manakah materi yang akan diajarkan telah dapat dikuasai oleh peserta didik. Jenis-jenis pra test antara lain:
1)    Test persyaratan (Test of entering behavior), yaitu tes yang dilaksanakan untuk mengetahui kemampuan dasar yang menjadi syarat guna memasuki suatu kegiatan tertentu.
2)    Input test (test of input competence), yaitu test yang digunakan menentukan kegiatan belajar yang relevan, berhubungan dengan kemampuan dasar yang telah dimiliki oleh peserta didik.
b)    Test akhir (Post test), yaitu test yang diberikan setelah dilaksanakan proses pembelajaran. Tes tersebut bertujuan untuk mengetahui tingkat kemajuan intelektual (tingkat penguasaan materi) peserta didik. Biasanya test ini berisi pertanyaan yang sama dengan pra test.

4.    Menurut kebutuhannya, macam test antara lain:
a)    Psycho test, yaitu test tentang sifat-sifat atau kecenderungan atau hidup kejiwaan seseorang (peserta didik).
b)    IQ test, yaitu test kecerdasan. Test ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kecerdasan seseorang (peserta didik).
c)    Test kemampuan (aptitude test), yaitu test bakat. Test ini bertujuan untuk mengungkap kemampuan atau bakat khusus yang dimiliki oleh seseorang.

5.    Menurut jenisnya tes terbagi menjadi:
a)    Test standar, yaitu test yang sudah dibakukan setelah mengalami beberapa kali uji coba (try out) dan memenuhi syarat test yang baik.
b)    Test buatan guru, yaitu test yang dibuat oleh guru.

6.    Menurut jenis waktu yang disediakan test terdiri atas:
a)    Power test, yakni test dimana waktu yang disediakan untuk menyelesaikan test tidak dibatasi.
b)    Speed test, yaitu test dimana waktu yang disediakan untuk menyelesaikan test dibatasi.

Perbandingan Tes Diagnostik, Tes Formatif, dan Tes Sumatif
Ditinjau dari    Tes Diagnostik    Tes Formatif    Tes Sumatif
Fungsinya    •    mengelompokkan siswa berdasarkan kemampuannya
•    menentukan kesulitan belajar yang dialami    Umpan balik bagi siswa, guru maupun program untuk menilai pelaksanaan suatu unit program    Memberi tanda telah mengikuti suatu program, dan menentukan posisi kemampuan siswa dibandingkan dengan anggota kelompoknya
cara memilih tujuan yang dievaluasi    •    memilih tiap-tiap keterampilan prasarat
•    memilih tujuan setiap program pembelajaran secara berimbang
•    memilih yang berhubungan dengan tingkah laku fisik, mental dan perasaan    Mengukur semua tujuan instruksional khusus    Mengukur tujuan instruksional umum
Skoring (cara menyekor)    menggunakan standar mutlak dan relatif    menggunakan standar mutlak    menggunakan standar relatif

D.    Macam – Macam Intrusmen/Alat Evaluasi
Macam-macam Instrumen Penilaian Hasil Belajar (Tes dan Non tes) Instrumen Tes
Tes dapat  didefinisikan sebagai suatu pertanyaan atau tugas atau seperangkat tugas yang direncanakan untuk memperoleh informasi tentang trait atau atribut pendidikan atau psikologik yang setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar. Bila dilihat dari konstruksinya maka tes dapat diklasifikasikan menjadi:
1.    Tes Essay (Uraian)
a)    Pengertian Tes Essay (Uraian)
Tes essay adalah butir soal yag mengandung pertanyaan atau tugas yang jawaban atau pengerjaan soal tersebut harus dilakukan dengan cara mengekspresikan pikiran peserta tes. Ciri khas tes essay adalah jawaban terhadap soal tersebut tidak disediakan oleh orang yang mengkonstruksikan butir soal, tetapi harus dipasok oleh peserta tes. Jadi yang terutama membedakan tipe soal objective dan tipe soal uraian adalah siapa yang menyediakan jawaban atau alternative jawaban terhadap soal atau tugas yang diberikan. Butir soal tipe uraian hanya terdiri dari pertanyaan atau tugas (kadang-kadang juga harus disertai dengan beberapa ketentuan dalam menjawab soal tersebut), dan jawaban sepenuhnya harus dipirkan oleh peserta tes.Setiap peserta tes dapat memilih, menghubungkan dan menyampaikan gagasannya dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Dengan pengertian ini maka akan segera kelihatan bahwa pemberian skor terhadap jawaban soal tidak mungkin dilakukan secara objektiv.
b)    Kelebihan Tes Essay (Uraian)
1)    Tes essay dapat digunakan dengan baik untuk mengukur hasil belajar yang kompleks.
2)    Tes bentuk uraian terutama menekankan kepada pengukuran kemampuan dan keterampilan mengintegrasikan berbagai buah pikiran dan sumber informasi ke dalam suatu pola berpikir tertentu, yang disertai dengan keterampilan pemecahan masalah. Integrasi buah pikiran itu membutuhkan dukungan kemampuan untuk mengekspresikannya.
3)    Bentuk tes essay lebih meningkatkan motivasi peserta tes untuk belajar dibandingkan bentuk tes dan yang lain.
4)    Memudahkan dosen untuk menyusun butir soal. Kemudahan ini dapat disebabkan karena jumlah butir soal tidak perlu terlalu banyak dan dosen tidak selalu harus memasok jawaban atau kemungkinan jawaban yang benar.
5)    Tes essay sangan menekankan kemampuan menulis. Karena akan sangat mendorong mahasiswa dan dosen untuk belajar dan mengajar menyatakan pikiran secara tertulis. 

c)    Kelemahan Tes Essay (Uraian)
1)    Reliabilitas rendah. Artinya skor yang dicapai oleh peserta tes tidak konsisten bila tes yang sama atau tes yang parallel diuji ulang beberapa kali.
2)    Untuk menyelesaikan tes essay dengan baik dosen dan mahasiswa harus menyediakan waktu cukup banyak.
3)    Jawaban peserta tes kadang-kadang disertai dengan bualan.
4)    Kemampuan menyatakan pikiran secara tertulis menjadi hal yang paling utama membedakan prestasi belajar antar mahasiswa.


d)    Penggunaan Tes Essay (Uraian)
1)    Bila jumlah mahasiswa atau peserta ujian terbatas maka soal uraian  dapat digunakankarena masih mungkin bagi dosen untuk dapat memeriksa hasil ujian tersebut dengan baik.
2)    Bila waktu yang dipunyai dosen untuk mempersiapkan soal sangat terbtas, sedangkan ia mempunyai waktu yang cukup untuk memerikasa hasil ujian, maka soal uraian dapat digunakan.
3)    Bila tujuan instruksional yang ingin dicapai adalah kemampuan mengekspresikan pikiran dalam bentuk tertulis, menguji kemampuan menulis dengan baik, atau kemampuan bahasa secara tertib, maka haruslah menggunakan tes uraian.
4)    Bila dosen ingin mempereoleh informasi yang tidak tertulis secara langsung dalam soal ujian tetapi dapat disim[ulkan dari tulisan peserta tes, seperti sikap, nilai atau pendapat.
5)    Bila dosen ingin memperoleh hasil pengalaman belajar mahasiswanya, maka tes uraian merupakan salah satu bentuk yang paling cocok untuk mengukur pengalaman belajar tersebut.

e)    Klasifikasi Tes Essay (Uraian)
Tes uraian secara umum dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu tes uraian bebas, tes uraian terbuka dan tes uraian terbatas, tes uraian objektif. Pembedaan kedua jenis tes uraian ini adalah besarnya kebebasan yang diserikan kepada peserta tes untuk mengorganisasikan, menulis dan menyatakan pikiran dan gagasannya.





f)    Aturan Untuk Menyusun Tes Essay (Uraian)  Yang Baik
1)    Sediakan kesempatan bagi para siswa untuk mempelajari bagaimana cara mempersiapkan diri dan mengikuti ulangan.
2)    Yakinkan diri anda bahwa pertanyaan-pertanyaan telah diarahkan dan dirumuskan secara berhati-hati.
3)    Bila struktur pertanyaan disusun berdasrakan isi pelajaran dan panjang, maka banyaknya pertanyaan dapat ditambah dan maslah diskusi agar dikurangi.
4)    Guru harus memilki kerangka petunjuk dalam penyususnan pertanyaan tes agar tidak menimbulkan salah tafsir dan kebimbangan pada orang lain, terutama jika terjadi kritik dari guru lainnya.
5)    Jangan menggunakan pertanyaan yang dapat menimbulkan berbagai kemungkinan jawaban, karena semua siswa harus mengerjakan tes yang sama.
6)    Sediakan waktu yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk memberikan jawaban terhadap suatu pertanyaan pilihan.

2.    Tes Objective
Butir soal objektif adalah butir soal yang telah mengandung kemungkinan jawaban yang harus dipilih atau dikerjakan oleh peserta tes. Jadi kemungkinan jawaban yang telah dipasok oleh pengkonstruksi butir soal,. Peserta hanya harus memilih jawaban dari kemungkinan jawaban yang telah disediakan. Dengan demikian pemeriksaan jawaban peserta tes sepenuhnya dapat dilakukan secara objektif oleh pemeriksa. Karena sifatnya yang objektif itu maka tidak selalu penskoran harus dilakukan oleh manusia. Pekerjaan tersebut dapat dilakukan oleh mesin seperti mesin scanner. Jadi yang dimaksud dengan tes objektif ialah tes yang dapat diskor secara objektif.
Secara umum ada tiga tipe tes objektif, yaitu:
a.    Benar salah (true false)
Tipe benar salah (True false item) adalah butir soal yang terdiri dari pernyataan, yang disertai dengan alternative jawaban yaitu menyatakan pernyataan tersebut benar atau salah, atau keharusan memilih satu dari dua alternative jawaban lainnya. Alternatif jawaban itu dapat saja berebntuk benar-salah atau setuju tidak setuju, baik tidak baik atau cara lain asalkan alternative itu mutual eksklusif.
1)    Keunggulan butir soal tipe benar salah
a)    Mudah dikonstruksi
b)    Perangkat soal dapat mewakili seluruh pokok bahasan.
c)    Mudah diskor
d)    Alat yang baik untuk mengukur fakta dan hasil belajar langsung terutama yang berkenaan dengan ingatan.
2)    Kekurangan butir soal tipe benar salah
a)    Mendorong peserta tes untuk menebak jawaban
b)    Terlalu menekankan kepada ingatan.
c)    Meminta respon peserta tes yang berbentk penilaian absolute sedangkan dalam kenyataannya hasil belajar itu kebanyakan bukanlah sesuat kebenaran absolute tanpa kondisi.
3)    Beberapa petunjuk konstruksi butir soal benar-salah
a)    Setiap butir soal harus menguji atau mengukur hasil belajar peserta tes yang penting dan bermakna, tidak menanyakan hal yang remeh (trivial). Misalnya:
Lemah        : B-S    Bung Hatta dilahirkan di Bukit Tinggi
Lebih Baik    :  B-S    Pemikiran Bung Hatta tentang hak asasi manusia telah diabadikan dalam pasal-pasal UUD 1945. Setiap butir soal haruslah menguji pemahaman, tidak hanya pengukuran terhadap daya ingat.
Lemah        : B-S Hukum Newton I menyatakan bahwa setiap benda akan bergerak lurus beraturan atau diam, jika tidak ada resultan gaya yang bekerja pada benda itu.
Lebih Baik    : B-S Penumpang bis yang duduk tenang dalam bis yang berjalan dengan kecepatan 80 km /jam akan terdorong kedepan bila bis diberhentikan secara tiba-tiba.
b)    Kunci jawaban yang ditentukan haruslah benar. Misalnya:
Lemah        : B-S Sebelum dilakukan pernikahan calon pengantin laki-laki diharuskan melamar calon pengantin wanita.
Lebih Baik    : B-S Dalam masyarakat ptrilinial pihak calon pengantin pria diharapkan lebih mengambil inisiatif daripada pihak calon pengantin wanita.
c)    Butir soal yang baik haruslah jelas jawabannya bagi seorang peserta tes yang belajar, dan jawaban yang slaha kelihatan lebih seakan-akan benar bagi peserta tes yang tidak belajar dengan baik. Misalnya:
B-S : Makanan kaleng lebih mahal harganya daripada makanan segar (S).
B-S : Bahasa ilmiah yang digunakan di pesantren di Jawa Barat pada awal abad ke 20 adalah bahasa Arab dan bahasa Jawa (B).
d)    Pernyataan dalam butir soal harus dinyatakan secara jelas dan menggunakan bahasa yang baik dan benar. Jadi butir soal tersebut harus menggunakan kalimat sesingkat mungkin. Misalnya:
Lemah        : B-S Kekalahan Jermana terhadap Sekutu dalam Perang Dunia II bukan disebabkan oleh ketidakmampuan Jerman dalam strategi memenangkan pertempuran tetapi lebih disebabkan oleh kelemahan semangat perang rakyat Jerman.
Lebih Baik    : B-S Hilangnya semangat perang rakyat Jerman adalah penyebab utama kekalahan Jerman terhadap sekutu dalam Perang Dunia II
4)    Modifikasi butir soal tipe benar-salah
a)    Menyertakan jawaban yang benar bila peserta tes memilih jawaban S. Dengan memasok jawaban yang seharusnya bila jawaban yang dipilih S maka peserta tes harus dapat mendemonstrasikan penguasaan bahan yang diujikan.
b)    Dalam bentuk penulisan sederetan pernyataan sebagai kelanjutan dari suatu pernyataan sebelumnya.

b.    Menjodohkan (matching)
Tipe menjidohkan ditulis dalam 2 kolom. Kolom pertama adalah pokok soal atau stem atau biasa juga disebut premis. Kolom kedua adalah kolom jawaban. Tugas peserta ujian ialah menjodohkan pernyataan dibawah kolom premis dengan pernyataan-pernyataan yang ada dibawah kolom jawaban.
Bila tes harus dikerjakan di lembaran jawaban yang terpisah, maka pernyataan dibawah kolom pertama ditulis urutan nomor, dimulai dengan nomor urut soal sebelumnya. Dengan demikian setiap nomor pernyataan dibawah kolom pertama adalah sebuah stem butir soal  yang alternative jawabannya secara bersama terdapat di bawah kolom kedua.




1)    Kelebihan dan Kelemahan tipe menjodohkan
Kelebihan:
a)    Baik untuk menguji hasil belajar yang berhubungan dengan pengetahuan tentang istilah, definisi, peristiwa atau penanggalan.
b)    Dapat menguji kemampuan menghubungkan dua hal baik yang berhubungan langsung maupun tidak secara langsung.
c)    Mudah dikonstruksi sehingga dosen dalam waktu yang tidak terlalu lama dapat mengkonstruksi sejumlah butir soal yang cukup untuk menguji satu pokok bahasan tertentu.
d)    Dapat meliputi seluruh bidang studi yang diuji.
e)    Mudah diskor.
Kekurangannya:
Terlalu mengandalkan pada pengujian aspek ingatan. Untuk dapat menghindarkan kelemahan ini maka konstruksi butir soal tipe ini harus dipersiapkan secara hati-hati.

2)    Prinsip Konstruksi tipe menjodohkan
Pernyataan dibawah kolom pertama dan dibawah kolom kedua masing-masing haruslah terdiri dari kelompok yang homogen. Misalnya: Pernyataan dibawah kolom kedua harus lebih banyak dari pernyataan di bawah kelompok pertama. Untuk memudahkan penyediaan lembaran jawaban yang seragam, maka dianjurkan supaya jumlah pernyataan di bawah kolom pertama berkisar antara 3 atau 4 buah. Sedangkan pernyataan dibawah kolom kedua adalah 5. Dengan demikian lembaran jawaban akan seragam denga betuk butir soal pilihan ganda lainnya.


c.    Pilihan berganda (multiple choice)
Tipe pilihan berganda adalah suatu butir soal yang alternative jawabannya lebih dari dua. Pada umumnya jumlah alternative jawaban berkisar antara 4 atau 5 jawaban.
1)    Kelebihan butir soal pilihan ganda
a)    Butir soal tipe pilihan ganda dapat dikontruksi dan digunakan untuk mengukur segala level tujuan instruksional, mulai dari yang paling sederhana sampai dengan yang paling kompleks.
b)    Setiap perangkat tes dapat mencakup hampis seluruh cakupan bidang studi.
c)    Penskoran hasil kerja peserta dapat dikerjakan secara objektifa.
d)    Tipe butir soal dapat dikonstruksi sehingga menuntut kemampuan peserta tes untuk membedakan berbagai tingkatan kebenaran sekaligus.
e)    Jumlah option yang dapat disediakan melebihi dua. Karena itu akan dapat mengurangi keinginana peserta tes untuk menebak.
f)    Tipe butir soal pilhan ganda memungkinkan dilakukan analisis butir soal secara baik. Butir soal dapat dikonstruksi dengan dilakukan uji coba terlebih dahulu.
g)    Tingkat kesukaran butir soal dapat dikendali, dengan hanya mengubah tingkat homegenitas alternative jawaban.
h)    Informasi yang diberikan lebih kaya. Butir soal ini dapt memberikan informasi tentang peserta tes lebih banyak kepada dosen, terutama bila butir soal itu memiliki homegenitas yang tinggi.



2)    Kekurangan butir soal pilihan ganda
a)    Sukar dikonstruksi. Kesukaran dalam mengkonstruksi butir soal tipe ini terutama untuk menemukan alternative jawaban yang homogen. Acapkali dosen mengkonstruksikan butir soal dengan hanya satu alaternatif jawaban yang tersedia, yaitu kunci jawaban.
b)    Ada kecendrungan bahwa dosen mengkonstruksi butir soal tipe ini dengan hanya menguji atau mengukur aspek ingatan, atau aspek yang paling rendah dalam ranah kognitif.
c)    “Testwise” memepunyai pengaruh yang berarati terhadap hasil tes peserta. Jadi, makin terbiasa seseorang dengan bentuk tes tipe pilihan ganda, makin besar kemungkinan ia akan memperoleh skor yang lebih baik.

3)    Ragam Tipe pilihan ganda
a)    Pilihan ganda biasa
b)    Pilhan ganda analisis hubungan antar hal
c)    Pilihan ganda analisis kasus
d)    Pilihan ganda kompleks
e)    Pilihan ganda yang menggunakan diagram, gambar, grafik atau table.

3.    Instrumen non tes
Alat ukur untuk memperoleh informasi hasil belajar non tes terutama digunakan untuk mengukur perubahan tingkah laku yang berkenaan dengan ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor terutama yang berhubungan dengan apa yang dapat dibuat atau dikerjakan oleh peserta didik daripada apa yang akan diketahui dan dipahaminya. Dengan kata lain alat pengukuran seperti itu terutama berhubungan dengan penampilan yang dapat diamati daripada pengetahuan dan proses mental lainnya yag tidak dapat diamati dengan indera. Di samping itu, alat ukur seperti ini memang merupakan satu kesatuan dengan alat ukur tes lainnya, karena tes pada umumnya mengukur apa yang diketahui, dipahami, diaplikasikan atau yang dapat dikuasai oleh peserta didik dalam tingkatan proses mental yang lebih tinggi. Tetapi, belum ada jaminan bahwa yang mereka miliki dalam kemampuan mental itu dapat didemonstrasikan dalam tingkah lakunya. Karena itu dibutuhkan beberapa alat ukur lain yang dapat memeriksa kemampuan atau penampilan tentang apa yang telah diketahui dan dimiliki dalam tindakan sehari-hari. Jadi, alat ukur non tes merupakan bagian keseluruhan dari alat ukur hasil belajar peserta didik.
a.    Menurut Asmawi Zainul dan Noehi Nasution
Alat ukur keberhasilan belajar non tes yang umum digunakan yaitu:
1)    Participation Charts atau bagan partisipasi
Salah satu tujuan yang ingin dicapai dalam suatu proses belajar mengajar ialah keikutsertaan peserta didik secara sukarela dalam kegiatan belajar mengajar tersebut. Jadi, keikutsertaan tersebut selain merupakan salah satu usaha memudahkan peserta didik untuk memahami konsep yang sedang dibicarakan dan meningkatkan daya tahan ingatan untuk mengenai suatu isi pelajaran tertentu, juga dimaksudkan untuk menjadikan proses belajar mengajar sebagai alat meningkatkan percaya diri, harga diri, dan lain-lain. Dengan demikian keikutsertaan peserta didik dalam suatu proses pembelajaran harus diukur, karena ia memiliki informasi yang kaya tentang hasil belajar yang bersifat non-kognitif. Sungguhpun participation charts belum dapat memberikan informasi tentang alasan seseorang ikut serta dalam suatu kegiatan, tetapi pola keikutsertaan dalam aktivitas sudah dapat menjelaskan suatu hasil belajar yang penting yang bersifat non-kognitif  yaitu lebih bersifat afektif. Participation Charts ini terutama berguna untuk mengamati kegiatan diskusi kelas.
2)    Check Lists (Daftar cek)
Esensi dari Check Lists adalah untuk menyatakan ada atau tidaknya suatu unsur, komponen, sifat, karakteristik atau kejadian dalam suatu peristiwa, tugas atau satu kesatuan yang kompleks. Dalam daftar cek pengamat hanya dapat menyatakan ada atau tidaknya suatu hal yang sedang diamati, bukan memberi peringkat atau derajat kualitas hal tersebut seperti pada rating scale. Check List bermanfaat untuk mengukur hasil belajar yang berupa produk maupun prosedur atau proses yang dapat dirinci ke dalam komponen-komponen yang lebih kecil, terdefinisi secara operasional dan sangat spesifik. Check Lists terdiri dari dua bagian yaitu komponen yang akan diamati dan tanda yang menyatakan ada atau tidaknya komponen tersebut dalam observasi.
3)    Rating scale  (Skala Lajuan)
Rating scale adalah alat pengukuran non-tes yang menggunakan suatu prosedur terstruktur untuk memperoleh informasi tentang sesuatu yang diobservasi, yang menyatakan posisi sesuatu dalam hubungannya dengan yang lain. Biasanya berisikan seperangkat pernyataan tentang karakteristik atau  kualitas dari sesuatu yang akan diukur beserta pasangannya berbentuk semacam cara menilai. Jadi suatu rating scale terdiri atas 2 bagian yaitu:
a)    adanya pernyataan tentang keberadaan atau kualitas keberadaan dari suatu unsure atau karakteristik tertentu, dan
b)    adanya semacam petunjuk penilaian tentang pernyataan tersebut.
4)    Skala sikap  
Sikap sebagai suatu konstruk psikologi harus memenuhi 2 kriteria yaitu dapat diamati dan dapat diukur. Sikap adalah identitas kecenderungan positif atau negative terhadap suatu objek psikologis tertentu.  Untuk mengukur sikap harus dikonstruksi skala sikap, yang dimulai dengan menentukan dan mendefinisikan objek sikap yang akan diukur atau dengan klata lain ”sikap terhadap apa?”. Dengan demikian harus ditentukan batas-batas objek sikap yang akan diukur. Misalnya sikap orang terhadap hukuman mati, bunuh diri atau kaum fundamentalis dan sebagainya. Setelah itu dikumpulkan butiir-butir pernayataan tentang objek sikap tersebut. Barulah kemudian ditentukan format jawaban yang akan digunakan dan cara penskoran.

E.    Penyusunan Instrumen Evaluasi / Kisi – Kisi Soal
1.    Pengertian
Kisi-kisi adalah suatu format atau matriks yang memuat informasi yang dapat dijadikan pedoman untuk menulis soal atau merakit soal menjadi tes.
2.    Syarat-syarat kisi-kisi yang baik
a.    Mewakili isi kurikulum yang akan diujikan
b.    Komponen-komponennya  rinci, jelas, dan mudah dipahami
c.    Soal-soalnya dapat dibuat sesuai dengan indikator dan bentuk soal yang ditetapkan
3.    Komponen Kisi-Kisi
a.    Program/jurusan
b.    Mata pelajaran
c.    Tahun pelajaran
d.    Kurikulum yang diacu
e.    Alokasi waktu
f.    Jumlah soal
g.    Bentuk soal
h.    Tujuan pembelajaran (TP)
•    Standar Kompetensi
•    Kompetensi Dasar
i.    Materi
j.    Bahan Kelas
k.    Jumlah soal untuk setiap SK/KD
l.    Indikator
m.    Nomor urut soal

4.    Pertimbangan Pemilihan Kompetensi Dasar Yang Diujikan
a.    Urgensi, yaitu Kompetensi Dasar yang secara teoretis, mutlak harus dikuasai oleh siswa.
b.    Kontinuitas, merupakan Kompetensi Dasar lanjutan yang merupakan pendalaman dari Kompetensi Dasar yang sudah dipelajari sebelumnya baik dalam jenjang yang sama maupun antar jenjang.
c.    Relevansi, maksudnya Kompetensi Dasar terpilih harus merupakan Kompetensi Dasar yang diperlukan untuk mempelajari atau memahami mata pelajaran lain.
d.    Keterpakaian Kompetensi Dasar harus merupakan Konsep Dasar yang memiliki terapan tinggi dalam kehidupan sehari-hari.


5.    Kriteria Indikator Yang Baik
a.    Memuat ciri-ciri TP yang hendak diukur.
b.    Memuat satu kata kerja operasional yang dapat diukur. Khusus untuk membentuk soal uraian dapat lebih dari satu.
c.    Berkaitan erat dengan materi beserta SK dan KD
d.    Dapat dibuat soal dengan bentuk yang telah ditetapkan dalam kisi-kisi.

6.    Langkah-langkah Penyusunan Soal 
a.    Persiapan: Kumpulkan bahan, sumber dan referensi yang relevan.
b.    Baca Standar Kompetensi mapel secara komprehensif.
c.    Jabarkan Standar Kompetensi menjadi indikator, tuangkan pada lembar kisi-kisi.
d.    Tulis butir soal berdasarkan indikator pada lembar spesifikasi bahan ujian.
e.    Buatlah 2 (dua) set soal berdasarkan 1(satu) kisi-kisi yang sama.
f.    Lakukan telaah soal yang menggunakan kartu telaah (sebaiknya guru lain).
g.    Perbaiki soal yang kurang baik berdasarkan hasil telaah soal sekaligus tentukan naskah utama dan cadangan.
h.    Buatlah kunci jawaban soal dan norma penskoran (sesuai petunjuk) serta tabel konversi secara terpisah.
i.    Konsultasikan dan mintalah pengesahan dari pengawas.

7.    Kaidah Penyusunan Soal Pilihan Ganda
a.    Materi
1)    Soal sesuai indikator
2)    Pilihan jawaban harus homogen dan logis.
3)    Hanya ada satu kunci jawaban yang paling tepat.





b.    Konstruksi
1.    Pokok soal dirumuskan dengan singkat, jelas dan tegas.
2.    Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan  
            pernyataan yang diperlukan.
3.    Pokok soal tidak memberi petunjuk ke kunci jawaban.
4.    Pokok soal tidak menggunakan pernyataan yang bersifat negatif
             ganda.
5.    Gambar/grafik/tabel/diagram dan sejenisnya jelas dan berfungsi.
6.    Panjang rumusan pilihan jawaban relatif sama.
7.    Pilihan jawaban jangan menggunakan pernyataan yang berbunyi:  
           “Semua jawaban di atas salah” atau “Semua jawaban di atas benar”  
           dan sejenisnya.
8.    Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu disusun berdasarkan urutan besar kecilnya angka atau secara kronologis.
9.    Butir jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya,
c.    Bahasa
1)    Menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
2)    Menggunakan bahasa yang komunikatif.
3)    Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat (bias budaya).
4)    Pilihan jawaban tidak mengulang kata/kelompok kata yang sama.

8.    Penelaahan Soal
a.    Tujuan Penelaahan Soal
Tujuan penelaahan soal secara kualitatif merupakan salah satu   langkah yang harus dilakukan setelah penulisan soal. Tujuan kegiatan ini adalah untuk membaca kembali dan mengkaji setiap butir soal agar diperoleh soal yang berkualitas baik, sebelum soal tersebut dirakit dalam suatu perangkat soal untuk diujikan.
b.    Hal-Hal Yang Ditelaah
1)    Materi
2)    Konstruksi
3)    Bahasa

c.    Prosedur
1.    Menggunakan Kartu Telah

9.    Petunjuk Pengisian Kartu Telaah
Pengisian Kartu Telaah dilaksanakan dengan mengikuti langkah-langkah :
a.    Mengisi identitas soal pada kartu.
b.    Membaca soal dengan seksama.
c.    Mencocokkan soal dengan kriteria yang ada pada kartu telaah.
d.    Memberi tanda cek (V) pada kolom ‘Ya’ bila soal yang ditelaah sudah  sesuai dengan kriteria yang ada.
e.    Memberi tanda silang (X) pada kolom ‘Tidak’ bila soal yang ditelaah tidak sesuai dengan kriteria, kemudian tuliskan alasannya pada ruang catatan.










BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Tujuan umum evaluasi pendidikan adalah untuk menghimpun bahan-bahan keterangan yang akan dijadikan sebagai bukti mengenai taraf perkembangan atau taraf kemajuan yang dialami oleh para peserta didik setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu, mengetahui tingkat efektivitas dari metode-metode pembelajaran yang telah dipergunakan dalam proses pembelajaran selama jangka waktu tertentu.

Tujuan khusus evaluasi pendidikan adalah untuk merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program pendidikan, untuk mencari dan menemukan faktor penyebab keberhasilan dan ketidakberhasilan peserta didik dalam mengikuti program pendidikan sehingga dapat dicari dan ditemukan jalan keluar atau cara-cara perbaikannya (Sudijono, 2006:17).

DAFTAR PUSTAKA

http://blog.persimpangan.com/blog/2007/08/14/konsep-dasar-evaluasi-hasil-belajar/
Nurgiyantoro, Burhan. 1988. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra.             BPFE: Yogyakarta.
http://tbp-unj.blogspot.com/2011/10/c-macam-macam-instrumen-penilaian-hasil.html
http://www.ilmupengetahuan.net/tujuan-evaluasi-belajar/